Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Saling Menjebak


__ADS_3

Suami Satu Malam 73


Oleh Sept


Rate 18 +


"Jean, mau ke mana kamu? Duduk! Temani Wisnu. Biar Bibi yang buka pintunya ... Bik ... Bibik!" pungkas pak Perwira dengan nada garang dan tegas.


Pak Perwira kemudian menoleh ke belakang, memanggil Bibi. Ia meminta putrinya agar tetap duduk di tempat. Membiarkan asisten rumah tangga yang keluar ke depan guna membuka pintu untuk tamu.


Tap tap tap


Wanita paruh baya datang dari dalam, ia terlihat bergegas keluar ketika mendengar suara bell pintu kembali berbunyi.


KLEK


"Cari siapa, Tuan?" tanya Bibi dengan wajah polos.


Bibi yang tidak mengenal sosok pria di depannya itu, menatap dari atas rambut sampai ujung sepatu. Terlihat rapi, setelan jas hitam, dasi polkadot dan sepatu kulit warna coklat dari buaya, membuat penampilan pria itu cukup memukau. Layaknya pria kantoran yang terlihat necis dan maskulin.


"Jeandana ada, Bik?" Rayyan melirik ke belakang tubuh si Bibi. Ia ingin melihat ke dalam. Namun, Bibi sepertinya enggan membiarkan dirinya masuk. Benar-benar tidak seperti ia bertamu di rumah orang pada umumnya.


"Nona Jeandana? Ada ... ada, Tuan. Sebentar saya panggilalkan."


Bibi langsung berbalik, dan membiarkan pintu sedikit terbuka, hingga pria itu bisa mengintip.


[Eh! Namanya siapa? Kok aku belum tanya?]


Bini putar balik, ia kembali menemui tamu tak diundang tersebut. Kemudian bertanya, siapa nama tamunya itu.


"Maaf, Tuan ... dengan Tuan siapa, ya?"


"R A Y! Ray!"


"Oh, baik Tuan RAI." Bibi kembali masuk ke dalam.


"Bukan! Bukan Rai, Bik!"


Bibi menoleh dan terlihat bingung, apa bedanya RAI dengan RAY? Wanita paruh baya itu kemudian manggut-manggut dan masuk mencari tuan besarnya. Sampai di ruang tamu, Pak Perwira ingin melontarkan pertanyaan. Namun, sudah keduluan oleh Jeandana.


"Siapa, Bi?" tanya Jeandana. Meskipun ia tahu siapa yang datang. Sebab, kan dia sendiri yang memaksa dan mengancam pria tersebut untuk segera datang.

__ADS_1


"Anuu ... Tuan Rai," ucap Bibi mengingat nama pria yang menunggu di depan.


[Apa duda itu lagi? Dasar ... harusnya dia cari janda! Bukan gadis seperti Jeandana putriku]


Raut muka Pak Perwira terlihat masam. Namun, ia mencoba tetap berwajah ramah karena di sana ada Wisnu. Harus bisa mengontrol emosi, tidak enak ada tamu kok marah-marah. Harus tetap jaga wibawa.


"Rai siapa, Om?" Wisnu jadi penasaran. Dan Pak Perwira langsung melirik Jeandana. Sebuah lirikan penuh ancaman tentunya. Tapi, dasar Jean yang memang tidak mau perjodohan ala Nurbaya, ia pun dengan lantang mengatakan siapa tamu yang barusan datang tersebut.


"Pacar aku, Mas!" potong Jeandana tanpa melihat wajah papanya yang sudah merah menahan marah.


"JEAN!" pekik Pak Perwira yang merasa dibuat malu oleh putrinya.


"Sebentar Mas Wisnu, Jean ke sana dulu. Nanti Jean kenalin ... permisi!" Jeandana kabur tanpa berani menatap wajah sang papa. Ia sangat yakin, sang papa pasti sudah siap menyemburkan api layaknya naga ungu dalam cerita Rapunzel.


Tap tap tap


Jeandana kabur ke depan, sedangkan Wisnu, pria itu terlihat kecewa, marah, terhina dan merasa dikerjai. Bagaimana bisa, jendral besar itu mengambil keputusan gegabah. Menjodohkan dirinya dengan Jeandana yang sudah memiliki kekasih. Ini adalah penghinaan besar. Melukai hati, harkat, martabat sebagai seorang pria. Wisnu pun bangkit, ia mau pergi. Namun, Pak Perwira mencoba menghalangi.


"Tunggu! Ini hanya salah paham. Jean hanya main-main dengan duda tidak jelas itu!"


[Sialll! Dia bilang aku duda tidak jelas?]


Rayyan mendesis kesal. Rupanya semalam ia juga mengorek informasi tentang keluarga Jeandana. Lewat Krisna, ia meminta sekretarisnya itu mencari tahu, siapa keluarga Jeandana. Hanya penasaran, tidak lebih.


"Pa! Kami sangat serius, jangan memandangnya remeh hanya karena dia bukan seorang abdi negara seperti Papa dan Mas Wisnu. Kami saling mencintai, jadi Papa harus ngertiin kami!" Jean benar-benar mendramatisir keadaan.


Jujur, Rayyan sampai mual. Mendengar wanita berhati baja itu sedang membuat drama. Membual hingga membuat perutnya mulas.


Wisnu yang merasa tidak dianggap, langsung memilih pergi. Rasanya tidak mau ia dipermalukan di depan keluarga itu. Lagian di luar sana, banyak gadis lebih muda dan menarik dari pada Jeandana.


"Wisnu! Wishh!!!" panggil Pak Perwira. Namun Wisnu bergeming. pria itu terus berjalan. Masuk mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Perwira.


Bukkkk


Pak Perwira menepuk kesal bahu Jeandana.


"Aduhhh! Sakit, Paaa!"


Pria paruh baya itu langsung menatap kesal pada putrinya.


"Apa bagusnya pria sisa ini? Kamu masih gadis! Cari yang setara! Wisnu sudah pas untuk kamu, Jean!" tukas Pak Perwira marah.

__ADS_1


"Maaf, Om. Sepertinya Om dari kemarin terlalu berlebihan." Rayyan mulai membela diri. Lama-lama telinganya gatal mendengar kata-kata kurang enak dari ayah Jeandana tersebut.


"Aku yakin laki-laki sepertimu, pasti duda cerai! Bukan duda ditinggal mati!" ujar Pak Perwira sombong, penuh sindiran. Dan karena itu benar, Rayyan hanya bisa menelan ludah. Tidak punya senjataa lagi untuk membantah.


"Tidak apa-apa, Pa! Jean suka pria berpengalaman!" cetus Jean yang makin memperkeruh suasana.


Seolah ada uap yang keluar dan mengepul dari dalam kepala sang papa. Jean paling bisa membuat sang papa mati kutu. Kesal, marah tak berkutik di waktu bersamaan.


Suasana hening sesaat, Pak Perwira menghela napas dalam-dalam. Pria itu kemudian kembali bersuara sambil menatap dua orang yang kini duduk di depannya.


"Baiklah! Papa menyerah! Lakukan secepatnya, sebelum Papa berubah pikiran!" ucap Pak Perwira yang seperti sebuah titah raja.


"Maksudnya? Eh ... Pa!"


Jean terlihat panik. Ia mulai mencerna arti ucapan sang papa. Sedangkan Rayyan, ia hanya melirik ala kadarnya pada wajah Jeandana yang terlihat mulai panik dan gelisah.


"Ray ... namamu Rayyan bukan? Kapan keluargamu ke sini?" tanya Pak Perwira to the point, tegas, jelas dan dengan tatapan mengintimidasi.


"Paaaa!" Jean merajuk.


Tapi, mendadak Rayyan malah mengeluarkan statement yang membuat jantung Jean mau lepas dari tempatnya. Hampir jantungnya copot.


"Segera, Om!" jawab Rayyan. Dan Jean langsung lemas. Namun, ia masih ingin mengubah jawaban Rayyan, dengan sengaja ingin menginjak kaki Rayyan lagi. Sayang, Rayyan mengeser kakinya, dan Jeandana hanya bisa menginjak lantai.


[Aku sedang bosan akhir-akhir ini, sepertinya tidak ada salahnya sedikit main-main]


Rayyan tersenyum jahat.


"Ray! Tarik ucapanmu!" titah Jean sambil berbisik.


Bersambung



Tak bosan-bosannya Iklan novel yang sudah TAMAT. Hehehe


"Suamiku Pria Tulen"


Kisah romantis antara Nur-Arya


Dibalut ketegangan ... cinta yang dewasa antara Rama dan Irna ... Drama pria-pria belok.

__ADS_1


__ADS_2