
Suami Satu Malam Bagian 26
Oleh Sept
Rate 18 +
"Katakan! Siapa yang kamu maki tadi?" Masih menatap dengan ponsel yang menempel di telinga.
Setelah Elvira mematikan ponselnya, sepertinya Radika kembali memanggil ponsel itu. Karena ponsel Elvira yang dilempar di atas meja rias tadi kembali menyala. Terdengar dering lagu irama dari benda pipih yang sempat dibuang dengan kesal oleh Elvira beberapa saat yang lalu.
"Ish ... kamu pengantin terjelek yang pernah aku temui!" cibir Radika melihat wajah Elvira yang muram seperti habis tersapu angin topan. Ditanya hanya diam, enggan menjawab.
"Bicaralah! Aku lihat banyak sekali yang ingin kamu tanyakan!" pancing Radika, kali ini ia tidak bercanda atau mengeluarkan statement penuh ejekan seperti biasanya.
Suasana tenang untuk sesaat, kemudian terdengar helaan napas dari sang pengantin wanita.
"Aku pikir Mas Dika mau main-main!" Elvira mendongak, sehingga wajahnya nampak jelas untuk dilihat. Harusnya wajah pengantin berseri-seri, tapi tidak dengan wajah Elvira saat ini.
"Main-main? Aku hanya tidak menghubungi beberapa hari, kamu bilang main-main? Kamu tahu, Vira? Apa yang aku lakukan beberapa hari ini?" tanya Radika santai.
Elvira menggeleng kepala pelan. Karena ia tidak pandai menebak. Terlalu banyak misteri yang belum ia ketahui perihal calon suaminya itu. Elvira ingin tahu, ingin mendalami. Namun, terbentur gengsi yang sudah menjulang tinggi.
Radika memejamkan mata dalam-dalam, kemudian membuka mata dan menatap intense ke arah sang pengantin wanita.
"Aku menunggu telpon darimu!"
Krik krik krik
Suasana di ruangan itu langsung beku, Elvira bahkan langsung menundukkan wajah lagi.
[Sial!!!!! Dia selalu berhasil membuatku tidak mampu membalas kata-katanya!! Astaga ... ada apa dengan jantungku?]
__ADS_1
Elvira berjibaku dengan hati kecilnya.
"Telpon saja!" Masih menunduk. Elvira belum berani menatap.
"Aku menunggumu!" ujar Radika tidak mau mengalah.
"Ish!"
"Dan ... akhirnya kamu menghubungiku, meskipun di saat-saat terakhir seperti ini ... Aku hampir kecewa, dan jangan-jangan sampai sejauh ini tidak mampu menyentuh hati itu. Tadi ... kamu menghubungi, dan langsung mengumpat begitu saja. Siapa yang kamu maki tadi?" Radika tersenyum tipis.
Elvira tidak menjawab, calon pengantin itu hanya meremass gaun cantik yang ia kenakan.
"Terima kasih ... terima kasih sudah menghubungi duluan!"
Radika dengan percaya diri maju, ia mengecupp kening Elvira dengan hangat, sempat mengenai tiara yang tersemat di atas rambut Elvira.
"Kamu cantik hari ini ...!" bisik Radika di telinga calon pengantinnya.
Sudah pasti pipi Elvira terasa terbakar, hembusan napas itu terasa mengelitik. Aduh, menjadi janda perawan membuat Elvira mudah hilang fokus. Apalagi bila bekat-dekat dengan Radika, hanya membuat bulu-bulunya berdiri tanpa diperintah.
***
Di salah satu meja tamu khusus keluarga, Rayyan duduk bersebelahan dengan Eriska, bersama mama Sarah dan juga papa Wira. Sedangkan di meja yang lain, terlihat tuan Pram beserta keluarga duduk dengan tegang.
Hingga seorang pria menghampiri tuan Pram untuk meminta duduk di tempat yang sudah disiapkan.
Ketika Elvira dibawa masuk dalam ruangan itu, semua mata tertuju padanya. Terutama Eriska dan Rayyan. Ternyata, Rayyan baru tahu siapa calon kakak iparnya terhitung sejak pagi tadi. Radika sengaja melakukan hal itu.
Mulanya ia tidak mau datang, tapi Radika sudah memintanya untuk datang. Dan malah meminta membawa Eriska sekalian. Ia tidak tahu tujuan kakaknya, hanya saja selama ini ia memang tahu, kalau Dika sepertinya dekat dengan Elvira. Namun, tidak mengerti bahwa akhirnya mereka malah menikah. Masih jadi misteri, ia pun menaruh curiga pada keduanya.
Ketika Elvira berjalan pelan menuju tempat akad, Eriska sibuk mengomentari. Ia terlihat sangat tidak suka, jika harus memiliki saudara ipar seperti Elvira.
__ADS_1
"Ish! Apa-apaan ini? Setelah gagal pernikahannya dengan Rayyan, kini ia malah menikahi Mas Dika? Apa dia sedang bermain lelucon? Menjengkelkan! Dan itu ... astagaaa! Sialll!!! Kenapa si culun jadi seperti itu? Dia sudah bersandiwara dengan busukkkk... apa-apaan pura-pura keterbelakangan mental! Aku pikir kecelakaan itu membuatnya benar-benar kurang waras!!! Ish! Sialll!" maki Eriska dalam hati.
Mata Eriska terus mengamati Radika dari jauh, sesekali ia melihat Elvira yang sudah hampir sampai di meja bersama penghulu. Ia mengeratkan gigi-giginya, mungkin menahan kesal. Yang merencanakan pernikahan siapa? Ini kok Elvira nikah duluan. Eriska merasa dibalap, ditikung, didahului dan itu melukai hatinya.
Apalagi melihat calon suami Elvira, aduh! Radika terlalu keren bila harus disandingkan dengan janda tersebut. Lebih cantikan dirinya. Lebih berkelas, fashionable dan cantik, Eriska membandingkan dirinya dengan Elvira. Ia merasa jauh di atas Elvira.
Baginya, Elvira tidak ada apa-apanya dibanding dirinya. Hanya seujung kuku. Cuih!!!! Saking asiknya memuji diri sendiri, Eriska sampai tidak sadar, bahwa ia sedang diperhatikan oleh Rayyan.
"Kamu demam? Kenapa bibirmu komat-kamit sendiri?"
Eriska langsung membuang napas kesal. Ia tidak demam, tapi panas! Panas karena Elvira dapat lebih dari apa yang ia miliki.
"Kalian tenanglah! Acara akad akan berlangsung!" bisik mama Sarah yang mendengar Rayyan malah bicara dengan Eriska.
***
Ruangan luas yang dipenuhi hiasan bunga-bunga putih yang indah, dengan dekorasi yang elegant dan mewah, menambah suasana syahdu pada acara akad Elvira dan Radika.
Atmosphere di dalam sana seketika berubah menjadi tenang dan hening tak kala acara inti akan berlangsung. Semua hadirin nampak fokus saat akan dilakukan ijab Kabul.
"Saya nikahkan engkau (ananda) Radika Dirgantara bin Prakoso Wiratmaja Dirgantara dengan Elvira Sahira binti Pramana dengan mas kawin sebuah hotel (EL Hotel), Saham DRG 500 Lot dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Elvira Sahira binti Pramana dengan mas kawin sebuah hotel (EL Hotel), Saham DRG 500 Lot dibayar tunai," ucap Radika dengan sekali tarikan napas.
"SAH!"
"SAH!"
"SAH!"
Bersambung
__ADS_1
Heheheh .....
Mas kawinmu biyen opo rek?? wkwkwkwk