Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Hukuman


__ADS_3

Suami Satu Malam 120


Oleh Sept


Rate 18 +


Yang belum ada KTP, dan yang belum menikah. Sept mohon. Mundur. Skip!


Malam ini Jean jelas sudah habis oleh suaminya yang over possessive dan protective tersebut. Bagi Rayyan, Jean adalah segalanya. Jean mungkin bukan yang pertama, tapi dia adalah yang terakhir dan satu-satunya yang menempati dan mengisi hati pria itu.


"Jangan macan-macam lagi," bisik Rayyan sembari menatap Jean lekat-lekat.


"Ini ... ini ... ini ... tidak boleh ada yang menyentuhnya!" sambung Rayyan dengan nada cemburu. Tapi, tangannya terus saja merayap layaknya seekor cicak.


"Hem ...!" jawab Jean di tengah rasa geli yang mengelayuti.


"Siapa yang memilih pakaian seperti itu? Itu bukan gayamu." Rayyan kembali bertanya, sembari sesekali mengambar daddaaa Jeandana dengan banyak ukiran. Sebuah ukiran yang hasilnya ruam seperti alergi udang.


"Jangan katakan pria itu?" tuduh Rayyan cemburu.


Jean langsung menggeleng, ia tahu suaminya pasti menuduh Richard.


"Rich gak salah, aku yang meminta bantuan darinya. Lagian aku gak yakin bisa melakukan semuanya seorang diri. Jangan marah padanya."


"Astaga ... kamu membela orang lain di depanku?"


[Ish salah lagi]


Tidak mau Rayyan marah karena cemburu, Jean langsung saja menarik tubuh suaminya. Ia lingkarkan tangan pada leher suaminya tersebut. Menariknya agar merapat padanya.


CUP


Satu kecupann cukup untuk meredam api cemburu. Tapi, Rayyan mana mau hanya kecupann saja. Ia mau lebih, malam ini ia akan menghukum Jean sampai pagi.


[Mati aku!]


Jean memekik dalam hati saat Rayyan dengan penuh tenaga menyesapnya dalam. Mengigit lidahnyaa. Meremass rambut wanita tersebut.

__ADS_1


"Ini hukuman dariku!" ucap Rayyan dengan tatapan yang terus tertuju pada mata dan bibir Jeandana.


[Sayang, sepertinya Mami tamat malam ini]


Jean berguman, sembari melirik perutnya yang sudah menyentuh bagian bidang yang six-pack tersebut.


Tangan Jean sudah tidak melingkar lagi pada leher sang suami. Tangan itu malah sibuk menyakar punggung Rayyan saat Rayyan kembali memberikan banyak stempel di sekujur tubuh Jeandana.


Semakin Jean menggeliat, semakin pula gejolak dalam tubuh Rayyan naik hingga ke ubun-ubun. Hingga saatnya ia sudah tidak tahan. Karena darahnya juga sudah memanas.


"Bagaimana?" bisik Rayyan saat timun sudah mulai masuk. Meski baru ujungnya saja.


Jean hanya mengigit bibir bawah, sembari mencengkram lengan suaminya. Rayyan sedang menyiksa batin Jeandana, karena pria itu menekannya sedikit. Tidak langsung sepenuhnya. Bikin Jean tidak sabar.


Pria itu memang sengaja, mau balas dendam juga. Karena Jean juga pernah melakukan hal yang serupa. Tapi, mana Rayyan bisa tahan dengan godaan Jean yang sungguh menggoda iman tersebut.


Alih-alih mengerjai Jeandana, Rayyan malah kerepotan sendiri menghadapi tangan Jean yang sudah mahir.


Jean merapatkan diri, dia yang naik turun membuat timun langsung masuk ke dalam sepenuhnya. Dengan gerakan cepat, meski posisi di bawah, Jean terus membuat Rayyan kualahan. Hingga sang pria tidak tahan dengan permainan istrinya tersebut.


"Bentar, sayang ... jangan cepat-cepat, Jean! Ini mau keluar!"


Diamatinya garis wajah Rayyan yang menegang, ia seperti menahan sesuatu cukup keras. Hingga tangannya pun mengepal kemudian mencengkram kain seprai yang sudah carut marut karena ulah keduanya.


"Ishhhhh ....!"


Rayyan berusaha agar tidak keluar duluan, tapi semua sia-sia. Apa dia lemah sahwattt? Apa perlu ke dokter? Karena ia rasa cepat sekali keluarnya.


Bukkk


Akhirnya ia melempar tubuhnya di sisi Jeandana. Sembari memejamkan mata, Rayyan meraih tangan Jeandana. Meletakkan tangan itu di atas tubuhnya.


"Jean ... sejak kapan kamu jadi mahir begini?" tanya Rayyan dengan suara pelan. Ia masih tergolek lemas karena gencatan Jeandana.


Kalau begini, sepertinya ia harus mengkoleksi jenis-jenis obat kuatt!


Sedangkan Jean, ia kemudian ganti posisi. Ia tidur miring sambil menatap wajah suaminya yang berkeringat.

__ADS_1


"Aku yang kerja, kok papi yang mandi keringat?"


Disindir sang istri, Rayyan langsung tersenyum tipis. Pria itu pun menarik tubuh Jean hingga benar-benar merapat padanya.


"Itu tadi juga olah raga, Sayang! Setara memutari keliling lapangan."


Jean tersenyum, seolah mencibir.


"Benarkah? Cepet banget loyonya?" canda Jean.


[Issh ... dia meledekku!]


Rayyan langsung saja menarik tangan istrinya tersebut. Memaksa Jean memegang buah timun yang layu.


Jelas Jean tersentak kaget, ia manarik tangannya dengan spontan. Akan tetapi, bukan Rayyan namanya kalau mudah menyerah.


"Jangan meledekku ya ... coba pegang satu menit ... !" titah Rayyan kembali menarik tangan istrinya dengan lembut.


Wajah Jean semakin menghangat, sambil membuang muka, ia sentuh dan mainkan timun tersebut.


[Astaga! Kenapa aku menurut sekali padanya ... apa yang sudah tanganku lakukan ... astaga ... ASTAGA!]


Hati dan bibir komat-kamit, tapi tidak dengan jari-jarinya yang begitu ahli membuat Rayyan ON Fire kembali.


Jean sampai terkesima atas apa yang jari-jarinya lakukan. Bagaimana mungkin, mantan terong kukus itu kembali berdiri tegak layaknya satria yang siap bertempur di medan perang.


Sedangkan Rayyan, ia dengan sombongnya menatap Jeandana.


[Kena kau, Jean!]


Bersambung


Besok ya tamatnya. Ini sudah malam. Heheheh


Yuk kenalan sama SEPT


IG Sept_September2020

__ADS_1


FB Sept September


Terima Kasih atas supportnyaaaa selama ini. Matur suwun ...


__ADS_2