
Suami Satu Malam 106
Oleh Sept
Rate 18 +
"Terima kasih Pak Haris," ucap Elvira dengan senyum merekah seperti bunga kamboja.
Pria yang umurnya jauh lebih muda dari usia Elvira tersebut juga tersenyum ramah. Menambah nilai plus bagi pria yang good looking seperti Haris.
Ia kemudian ikut mengantar Elvira menuju ruang baru pemilik EL Hotel yang selama ini memilih tidak ikut campur dalam management hotel. Suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang Haris, bisa menyambut langsung pemilik hotel tersebut.
"Mari Bu Elvira!" serunya sembari senyum terus nampak di bibirnya.
Haris pun menekan tombol lift untuk atasannya itu. Dengan sopan dan ramah ia mempersilahkan Elvira masuk terlebih dahulu. Ladies first!
Sedangkan Richard, pria itu terus saja mengamati gerak-gerak Elvira dari jauh. Tidak mau bosnya kebakaran jengot, Richard tadi berbohong. Mengatakan bahwa Elvira langsung masuk ruangan. Tanpa mengatakan ada acara penyambutan dari Manager hotel pakai bunga segala. Bisa-bisa bosnya itu langsung meluncur ke hotel. Padahal, setahu Richard sebentar lagi ada jamuan penting dengan rekan bisnis yang mau membahas pengembangan resort di Labuhan Bajo, yang katanya prospectnya cukup lumayan.
Rencananya, Radika akan membangun sebuah resort megah di sana. Untuk menggembang bisnis, dan ia juga tidak terpicu pada satu bidang saja. Semua yang mengguntungkan, akan ia lakukan.
***
Di sebuah restaurant
Padahal sejak tadi Radika diajak bicara oleh beberapa orang di depannya. Namun, pikirannya masih ada di El Hotel. Begitu selesai makan siang dan basa-basi setelah menyepakati kerja sama, Radika langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Ia mau menyusul Elvira.
Radika mengendarai mobilnya sendiri, dengan semangat ia meluncur ke hotel. Tidak sabar bertemu Elvira. Biasanya ia tidak khawatir, karena yakin istrinya pasti ada di rumah. Tapi, kini ia jadi ketar-ketir ketika Elvira memutuskan keluar kandang. Radika seolah takut, istrinya itu akan dilirik pria-pria di luar sana.
Anggaplah itu sebuah rasa cemburu, tapi bagi Radika itu sangat wajar. Siapa yang tidak cemburu melihat pria lain melirik miliknya?
Chittttt ...
Akhirnya mobil sampai di palataran El Hotel, Radika langsung menyerahkan kuncinya pada petugas hotel. Ia buru-buru mau masuk, tidak mau memarkir mobilnya sendiri.
"Selamat datang, Pak!" sapa para pegawai hotel.
Bahkan beberapa receptionist terlihat curi-curi pandang pada suami Elvira tersebut. Radika memang ganteng, keren dan tajir. Jadi bukan mustahil banyak yang menyukai pria itu meski sudah beristri.
KLEK
"Sayang!"
Radika memasang senyum cerah saat membuka pintu ruangan Elvira. Namun, senyumnya hilang seketika saat ruangan itu kosong.
[Kamu di mana?]
Radika merogoh jas hitam yang ia kenakan, buru-buru menghubungi nomor pertama.
"Vir? Di mana?"
Radika langsung berbalik dan keluar ketika mendengar gelak tawa yang tak asing.
__ADS_1
"Ini habis makan siang, Mas," jawab Elvira di telpon sambil jalan berdua dengan Haris.
Keduanya tidak menyadari, Radika menonton pemandangan yang mengusik hati tersebut.
"Aku di ruanganmu!" ucap Radika kemudian terdengar dingin.
"Benarkah ... oke. Aku segera ke sana, Ma."
Tut Tut Tut
Telpo pun terputus.
"Makasih sudah ditraktir!" ucap Elvira tulus pada sang manager.
Haris hanya mengangguk, ia pun hanya bisa menatap punggung Elvira yang semakin menjauh dengan tatapan penuh arti.
***
Di ruangan Elvira.
Radika sudah duduk sambil melipat tangan. Matanya melirik kesal pada bunga yang Ada di atas meja.
"Sudah makan siang, Mas?" tanya Elvira begitu masuk ruangan.
"Sudah!" jawab Radika ketus.
[Idih ... ada apa dengannya? Mengapa wajahnya kusut seperti cucian di laundry?]
"Bunga dari siapa?"
"Manager itu? Sepertinya aku harus memecatnya besok!"
Elvira mengerutkan dahi, tidak mengerti ada apa dengan suaminya. Datang-datang kok langsung merong-merong.
"Apa Pak Haris melakukan sesuatu yang merugikan hotel, Mas?"
[Bukan hotel! Tapi aku]
Radika memasang muka galak. Elvira semakin bertanya-tanya.
"Ada apa sih, Mas? Datang-datang jutek gitu?"
Melihat suaminya menatap benci pada sebucket bunga pemberian Haris, Elvira jadi tersadar. Mungkin penyakit bucin suaminya kambuh lagi. Ia kan hafal kalau punya suami level cemburuannya sudah akut.
Untuk meredam sang suami, Elvira pun mengelayut manja pada Radika. Ia rangkul Radika dari belakang, sambil meniup-niup telinga pria tersebut.
"Jangan mulai!" ucap Radika yang kala itu merasa bergidik.
Elvira langsung tersenyum menang. Radika memang paling tidak bisa kalau digoda.
"Jangan marah-marah ... nanti lekas tua!" canda Elvira sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kalau sudah tua memangnya kenapa? Mau cari berondong?" sindir Radika. Ia tahu, Manager hotel memang jauh lebih mudah dan fresh.
Tawa Elvira pun makin pecah, lama-lama ia gemas dengan cara Radika mencemburui dirinya.
"Ini aja nggak habis-habis, ngapain cari berondong!"
Radika langsung berjingkat saat tangan Elvira menyentuh miliknya.
[Ish ... dia menggodaku ... Viraaa!]
"Mau ke mana?" tanya Elvira saat melihat suaminya malah bangkit dan menuju pintu.
KLEK
[Kenapa pintunya dikunci]
Kedua alis Elvira menyatu, heran kenapa suaminya menutup pintu ruang kerjanya.
Radika kemudian berbalik, perlahan ia melangkah mendekat Elvira yang masih berdiri di belakang kursi.
Ditatapnya Elvira tanpa kedip, sembari tangannya melongarkan dasi.
"Sayang! Kamu mau apa?"
Elvira langsung menelan ludah dengan kasar.
"Jangan aneh-aneh, deh!" Elvira beringsut ketika Radika makin dekat.
"Siapa tadi yang mulai?" bisik Radika yang sudah berdiri tepat di depan Elvira.
Tidak ada jarak di antara keduanya, karena Radika sudah mendesak sampai Elvira menyentuh tembok.
"Masss!" pekik Elvira saat Radika terus saja memepetnya.
"Ini di tempat kerja!" ucap Elvira lagi. Namun, dengan sedikit mendesaaah karena ulah nakall Radika.
[Awas kamu, Mas!]
"Siapa suruh pancing-pancing!"
"Aku kan gak sengaja megang!"
"Sudah terlanjur, tuh sudah bangun ... lagian pintu udah aku kunci."
"Mas, jangan aneh-aneh. Anak-anak sudah besar, aku belum minum obat juga!"
"Hamil juga gak apa-apa, tuh Jean ... aku dengar dia hamil lagi."
"Ish ... di rumah aja, ya .... nanti aku kasih dobel." Janji Elvira dianggap angin oleh suaminya.
Radika tersenyum tipis, maunya sekarang kok dijanjikan nanti. Mana tahannn!
__ADS_1
"Ih ... Maasss!" pekik Elvira lagi saat melihat suaminya nekat melucutiii bajunya satu persatu. Bersambung.