Suami Untuk Tante

Suami Untuk Tante
Menjalankan Rencana


__ADS_3

"Apa yang terjadi?". Tanya Arasel dengan Khawatir.


"A...a.aaku tidak tahu, tuan?...tiba-tiba Ito kesakitan". Jawab Kiara dengan wajah yang panik serta ketakutan.


Arasel dengan segera memanggil Andi dan menyuruhnya untuk segera memanggil dokter. Dengan segera Andi menelpon dokter pribadi keluarga Arasel.


Beberapa menit kemudian dokter pribadi keluarga Arasel datang. Dokter itu bernama Dion Baskara yang tidak lain adalah sahabat Arasel. Sebelum masuk kamar Ito, Andi menceritakan rencana yang telah Ito dan Aqndi rencanakan sebelumnya. Dokter Dion dengan senang hati mau membantu mereka.


Kemudian dokter Dion segera masuk ke dalam kamar Ito dan memeriksanya dengan segera.


"Bagaimana keadaan Ito?", tanya Arasel dan Kiara bersama-sama.


"Kalian kompak sekali...seperti pasangan suami istri yang mengkhawatirkan anaknya", dokter Dion tersenyum menggoda Arasel dan Kiara.


Wajah Arasel dan Kiara menjadi merah karena perkataan dari dokter Dion. Andi dan Ito hanya bisa menahan tawa melihat wajah mereka yang kayak udang rebus.


"Jadi begini...bocah ini harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak gerak", jelas dokter Dion dengan serius. Sebenarnya ini juga taktik dokter Dion untuk membantu rencana Andi dan Ito.

__ADS_1


"Aku bukan bocah!", batin Ito dengan agak kesal.


Dokter Dion kemudian memberikan resep obat kepada Arasel dan segera pamit pulang.


Kiara merasa tidak enak kalau terus menerus mereka ditinggal di rumah Arasel. Ia tidak mau merepotkan siapapun.


"Tuan Arasel, bisakah kau membantuku untuk memindahkan Ito ke rumahku?...Aku merasa tidak enak kalau terus menerus tinggal di rumahmu...kami pasti akan merepotkan tuan Arasel". Pinta Kiara


Arasel hanya bisa terdiam melihat Kiara yang ingin pergi dari rumahnya. Ito juga tidak dapat membantah permintaannya Kiara. Karena Ito tahu bagaimana sifat tantenya itu. Andi yang melihat ekspresi sedih tuannya itu langsung angkat bicara sambil mengedipkan matanya ke arah Ito. Seakan Andi mengatakan "serahkan semuanya padaku".


"Nona Kiara, apa kau tidak mendengarkan penjelasan dokter Dion tadi, bahwa tuan Ito tidak boleh banyak bergerak dan harus banyak beristirahat". Tegas Andi kepada Kiara.


"Ta..tapi...", jawab Kiara dengan memikirkan penjelasan dari Andi.


"Apa yang dikatakan Andi benar,...Jika kau bersikeras ingin membawa pulang Ito, nanti bagaimana dengan keadaan Ito?...Dia akan kesakitan seperti tadi", tambah Arasel dengan harapan Kiara dan Ito bisa tinggal di rumahnya.


"Ta..tapi..saya tidak ingin merepotkan tuan Arasel", jelas kiara.

__ADS_1


"Aku merasa tidak direpotkan....Tinggallah di sini sampai Ito sembuh total...baru kalian boleh pulang ke rumah kalian". Pinta Arasel kepada kiara.


"Jika kau masih merasa merepotkanku...Supaya impas, kau bisa membuatkanku sarapan setiap pagi...bagaimana?". Imbuh Arasel sambil menawarkan kesepakatannya kepada Kiara.


Dengan berat hati, Akhirnya Kiara menerima tawaran dari Arasel. Ito dan Andi merasa lega karena rencana mereka berhasil. Arasel segera meninggalkan kamar Ito dan menuju kamarnya untuk mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor hari ini.


Kiara menatap Ito dengan sedih, karena ia tidak tega melihat penderitaan keponakannya itu. Ito yang melihat wajah sedih tantenya itu langsung menghiburnya dengan pertanyaan konyol yang membuat Kiara semakin tak berdaya.


"Tante, apa kau suka om Arasel?". Goda Ito


"Perr....pertanyaan bodoh macam apa itu?". Jawab Kiara dengan gugup dan malu.


"Kalau aku sih menyukai om Arasel, tante...dia baik walau ekspresi wajahnya dingin, aku ingin dia jadi om'ku beneran..dan aku berharap tante dengan om Arasel bisa menikah". Kata Ito dengan tatapan yang tegas dan jujur. Ito berharap keinginannya itu terkabul.


"I..i..itu tidak mungkin Ito, aku dan dia tidak sepadan...lihatlah, tante hanya wanita biasa. Sedangkan Om Arasel, dia orang terpandang yang luar biasa...Tante tak pantas bersanding dengannya...pasti banyak wanita cantik di luar sana yang menyukai dan sepadan dengan om Arasel". Sambil memegang kepala Ito, Kiara berusaha menjauhkan keinginan yang tak masuk akal itu.


Dari balik pintu kamar Ito, sebelum berangkat kerja, Arasel mendengar semua pernyataan Kiara, yang menyatakan bahwa Kiara tak pantas bersanding dengannya. Arasel sangat kecewa dengan perkataan Kiara itu. Saat itu juga Arasel bertekad, bagaimanapun caranya Kiara harus jadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2