
Kecupan demi kecupan telah diberikan Arasel di bibir mungil Kiara. Sesekali Arasel menghentikan ciumannya hanya untuk memandang wajah cantik Kiara yang sedang tersipu malu.
"Kiara, jadilah miliku!". Ucap Arasel dengan suara paraunya.
Kiara hanya tertunduk malu dan menganggukan kepalanya. Arasel yang melihat ekspresi dan anggukan dari Kiara, tanpa basa-basi langsung menggendong Kiara menuju ranjangnya. Direbahkannya tubuh Kiara, lalu Araselpun mencium kembali bibir mungil Kiara. Setelah berciuman, Arasel memeluk tubuh Kiara dengan erat. Saat ini, Arasel harus menahan dirinya karena tujuan utama Arasel saat ini adalah menuntaskan masalahnya dengan bibinya.
"Kiara, bagaimana kalau kita menikah sungguhan?.". Ucap Arasel yang masih memeluk Kiara.
"A-apa, t-tuan sedang mabuk?!". Ucap Kiara yang wajahnya semakin memerah.
"Aku tidak mabuk, Kiara...Aku sungguh ingin menikah denganmu!". Tegas Arasel.
"T-tapi, tuan... Aku hanya wanita biasa...Mana mungkin aku pantas bersanding dengan, tuan". Ucap Kiara yang mulai merasa sedih. Bukan karena ia tidak ingin menikah dengan Arasel. Namun Ia hanya takut dengan masa lalunya. Jika masa lalunya diketahui oleh Arasel, maka Arasel akan memandang dirinya begitu hina.
"Yang menentukan pantas dan tidak pantasnya adalah aku, Kiara...Aku hanya menginginkanmu. Aku tak menginginkan wanita lain". Ucap Arasel sambil mempererat pelukannya.
__ADS_1
Kiara yang mendengar ucapan Arasel tidak bisa membendung air matanya. Tangisan Kiara sontak membuat Arasel terkejut.
"Kenapa kau menangis, Kiara?". Ucap Arasel yang begitu kebingungan saat Kiara menangis tiba-tiba
"A-ku ini wanita hina, tuan...Jika kau mengetahui masa laluku kau pasti tidak akan menginginkanku untuk menikah denganmu". Ucap Kiara sambil mengusap air matanya.
"Benarkah?...Lalu bagaimana jika aku sudah mengetahui masa lalumu dan tetap ingin menikah denganmu...Apakah kau masih menolakku?!". Tegas Arasel sambil menatap kedua bola mata Kiara.
"I-itu...A-ku...". Kiara tak dapat menjawab pertanyaan Arasel. Ia kebingungan dengan apa yang ia pikirkan sekarang.
"Baiklah, pembicaraan ini kita lanjutkan besok..Sekarang ayo kita tidur...Hari ini Kau pasti lelah menghadapi dua nenek sihir itu bukan?". Ajak Arasel sambil tertawa kecil kepada Kiara.
Arasel sangat bahagia ketika melihat Kiara tertawa. Saat Kiara tertawa, segala beban yang dirasakan Arasel langsung menghilang dalam sekejap.
Pagi sudah menyambut, Kiara dan Arasel masih tertidur pulas di kamarnya. Setelah mandi, Ito segera menuju ruang makan untuk sarapan. Ito merasa aneh, karena ia tidak menemukan Kiara di dapur .
__ADS_1
"Kak Andi, apa kau tahu sekarang tanteku dimana?". Tanya Ito sambil mencari keberadaan Kiara.
"Bukannya nona Kiara sedang bersama tuan Arasel di....". Jawab Andi sambil menunjuk ke arah kamar Arasel.
"O iya ya...Kenapa aku lupa?". Ucap Ito sambil tertawa kecil.
"Kira-kira apa yang mereka lakukan ya kak...kenapa jam segini belum keluar dari kamar?... Apakah mereka lagi....hehehe". Ucap Ito sambil membayangkan hal yang bukan-bukan.
Karena penasaran Ito dan Andi sepakat menghampiri kamar Arasel. Ito mengetuk pintu kamar Arasel. Lalu Arasel membukakan pintu kamarnya. Mata Ito dan Andi membulat saat mereka melihat penampilan Arasel yang brantakan dan tidak mengenakan baju serta hanya menggunakan celana panjang berwarna hitam.
"Ada apa?". Ucap Arasel yang masih ngantuk
" Bolehkah aku masuk ke kamarmu ngak om?". Pinta Ito
"Hmm..masuklah". Ucap Arasel dengan mempersilahkan Ito masuk.
__ADS_1
------------
Jangan lupa ya jempolnya untk like novel ini...Jika ada kesalahan dalam pengetikan outhor minta maaf ya...😅😅