
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ito tak kunjung pulang, hingga Kiara merasa sangat khawatir.
"Sudah jam segini tetapi kenapa Ito belum pulang?"Kiara mulai was-was.
"Kok, perasaanku jadi tidak enak gini?...ahhh, tidak... tidak....pasti Ito lagi main sama temennya sampai lupa waktu", Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya supaya pikiran buruknya hilang. Kiara melanjutkan pekerjaannya sebagai komikus, hingga larut malam akhirnya kekhawatiran Kiara pun menjadi-jadi. Ia Segera mengambil handphonenya yang ada di meja kerjanya. Tak lama, kiara langsung menghubungi nomer Ito. Tapi tak ada jawaban, hanya suara dari layanan operator yang muncul. "Duuuh, kenapa nggak nyambung?... jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ito". Kiara semakin khawatir. Akhirnya tanpa berpikir panjang, dia pun mencari Ito. Kiara mencari di rumah teman-teman Ito tapi tak ada hasil. Tak putus asa, Kiara mencarinya di warnet yang sering Ito kunjungi hingga di kafe yang kemarin ia kunjungi. Tetapi tak ada hasil juga. Tangis Kiara pecah, karena ia tak menemukan keponakannya itu.
____
Di tempat lain, Ito terbaring lemah. Ia merasakan sekujur tubuhnya sakit. Secara perlahan dia membuka matanya. Ito memandang sekeliling ruangan itu sambil menyandarkan tubuhnya. Dia merasa bingung, kenapa dia bisa berada di tempat yang begitu mewah. "Apakah aku sudah mati?...apa ini surga?..kenapa aku bisa ditempat yang begitu indah seperti ini", batin Ito.
"Ah, mana mungkin ini surga, aku saja masih merasakan sakit di sekujur tubuh", Ito menghela nafas panjang.
Tanpa Ito sadari, ternyata di ujung pintu kamarnya ada seorang pria menggunakan setelan baju serba hitam menatapnya secara dingin. Pria itu mulai melangkah mendekati Ito.
"Kamu sudah sadar?", tanya pria itu dengan tatapan dinginnya.
__ADS_1
Ito sangat kaget dengan suara pria itu, sontak matanya terbelalak, ternyata pria itu adalah pria yang ia perhatikan di Kafe hari ini.
"i..ii...ya", Ito dengan wajah kagetnya.
"O...omm, kenapa aku bisa ada di sini?", tanya Ito dengan gugup. Ito berpikir dan bertanya dalam hati, apakah pria itu yang telah menyelamatkannya.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu supaya badanmu cepat pulih", sambil memalingkan wajahnya, pria itu pergi meninggalkan kamar yang ditempati Ito.
"Dasar....om-om sombong, ditanya malah pergi", gerutu Ito. "Untung saja aku belum ngenalin dia sama tante Kiara, coba kalau kukenalin... pasti tante Kiara dibikin sakit hati mlulu", tambah Ito dengan kesalnya.
Ito melihat jam yang ada di dinding kamar itu, betapa terkejutnya ia karena waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Dia berpikir kalau tantenya pasti khawatir dengannya. Karena Ito tidak biasa pulang sampai malam. Tanpa menghiraukan sakitnya itu, Ito mulai beranjak dari tempat tidurnya. Dan..Bruuuuk, badan Ito terjatuh di lantai. Sambil meringis kesakitan Ito mencoba berdiri, tetapi kakinya malah semakin terasa sakit. Karena mengalami pukulan yang hebat, menyebabkan kaki Ito retak dan tidak bisa digerakkan. Sambil telungkup di lantai, Ito pun menangis memikirkan keadaan tantenya yang berada di rumah sendirian. Ito tak mau menyerah begitu saja dengan sakitnya itu, dia berusaha bangkit tapi tetep saja sia-sia, badannya terlalu lemah. "Pasti saat ini tante khawatir dan menangis menungguku", kata Ito dengan sedih.
Ito diam saja dan tidak menggubris pria itu. Karena pikirannya tertuju pada Kiara, tantenya. Pria itu secara tiba-tiba membantu Ito dan memapahnya ketempat tidur. "Om, kamu itu siapa?...kenapa Om mau membantuku?", tanya Ito, dan berharap pria itu mau menjawab semua pertanyaannya.
"Nama Arasel Michaelis,....Aku tanpa sengaja melihat kamu sedang dikeroyok oleh preman-preman di sana", jawab Arasel.
__ADS_1
"Jadi Om menolongku?!", sahut Ito
"Hmmm", Arasel menganggukan kepalanya.
"Terima kasih banyak, Om... karena sudah menyelamatkan nyawaku", Ito senyum bahagia.
Selang beberapa detik, Ito menghentikan senyumannya dan kembali muram. Arasel hanya bisa diam dan melihat ekspresi wajah Ito.
"Kalau kau butuh apa-apa, panggil saja Andi. Dia selalu di depan kamarmu". Jelas Arasel sambil berjalan keluar kamar Ito. Andi adalah pengawal kepercayaan Arasel. Andi diberi tugas untuk selalu memantau keadaan Ito.
"Om, tunggu...bolehkah aku minta bantuan sekali lagi". Pinta Ito kepada Arasel.
"Hmmm...katakanlah!", jawab Arasel.
"Bisakah Om memberi kabar tanteku kalau aku berada di sini?", Ito dengan wajah memohon.
__ADS_1
"Baiklah". Jawab Arasel dengan singkat.
Ito memberikan nomer Kiara kepada Arasel. Dengan segera Arasel menelpon Kiara, dan memberitahukan kondisi Ito sekarang ini kepadanya.