Suami Untuk Tante

Suami Untuk Tante
Debaran di dada


__ADS_3

Arasel memandangi Kiara berjalan menuju ke arahnya. Sambil mengkerutkan kedua alisnya, Arasel hanya bisa berdiam diri ketika dihampiri Kiara.


"Tuan, terima kasih banyak...", Ucapan Kiara kepada Arasel dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


Tanpa disadari, Kiara menyandarkan kepalanya ke dada Arasel. Kedua tangan Kiara memegang baju Arasel dengan erat. Kiara terus mengucapkan terima kasih sambil menangis sesenggukan.


Arasel hanya terdiam, dia merasakan ada sesuatu yang mengganggu di dada. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Selama 36 tahun baru kali ini ia merasakan debaran di dada yang begitu cepat.


Ito melihat peristiwa yang langka dan tidak terduga. "Seperti dalam adegan dalam film aja". batin Ito sambil menahan tawa. Dengan sengaja, Ito berdehem menyadarkan situasi dimana mereka lupa akan keberadaan Ito.


"Ehemm....", Ito berdehem dengan keras.


Seketika Kiara sadar atas apa yang dia lakukan. Kemudian Kiara memandang wajah Arasel yang begitu tampan seperti seorang pengeran. Karena merasa malu dengan perbuatannya, Kiara cepat-cepat menjauh dari Arasel. sehingga dia tersandung karpet yang terpasang di atas lantai.


Arasel dengan sigap menangkap tubuh Kiara. Dag dig duk duer, itulah yang dirasakan Kiara dan Arasel ketika wajah mereka berdekatan.

__ADS_1


"Ma...ma...maaf kan aku", kata Kiara dengan gugup karena malu.


"Tidak masalah", Jawab Arasel dengan memalingkan wajahnya yang tersipu malu.


"Kalian baru saja ketemu sudah pacaran...kalian lupa ya sama aku...dunia ini bukan milik kalian berdua tahu". Goda Ito sambil pura-pura ngambek.


Kiara langsung berjalan ke arah Ito dan menjitak kepalanya.


"Aduh...kenapa tante jitak Ito sih...sakit tahuu...!!". Ito agak kesal dengan tantenya walau hatinya bahagia dengan kejadian tadi.


Arasel yang selama ini hanya berekspresi dingin bisa tersenyum melihat tingkah laku Ito dan Kiara.


"Ayo, kita pulang Ito...tante akan merawatmu di rumah". Pinta Kiara.


"Sebaiknya Ito biar beristirahat di sini dulu....ini sudah terlalu larut malam....tidak baik untuk kesehatan Ito". Cegah Arasel, karena dia tidak menginginkan mereka pulang malam ini.

__ADS_1


Demi menyenangkan hati sang penyelamatnya, Ito membujuk Kiara.


"Tante, sebaiknya kita pulang besok saja..badanku masih lemah dan kakiku juga belum bisa berjalan karena retak". Bujuk Ito


"Apa?!", sontak Kiara kaget dengan perkataan Ito tersebut.


Akhirnya Kiara mengiyakan permintan Arasel. Dan Arasel tersenyum lega. Selama ini di rumahnya tidak seramai ini. Bagi Arasel ini sebuah kenangan yang begitu indah. Berawal dari orang asing yang tidak dikenalnya menjadi seseorang yang begitu akrab dengannya.


"Andai saja, rumah ini ada orang seperti mereka, pasti sangat menyenangkan". Gumam Arasel.


Selama ini Arasel hanya hidup sebatang kara. Tidak ada yang benar-benar menyayanginya di dunia ini. Jikapun ada pasti orang-orang tersebut hanya mengincar hartanya saja. Arasel tidak mudah percaya terhadap orang lain. Makanya di perusahaan yang dia dirikan terkenal sebagai CEO yang dingin dan tak berperasaan. Dia tidak mudah dijangkau oleh siapapun. Banyak wanita yang ingin bersama Arasel. Tapi Arasel bersikap acuh tak acuh terhadap wanita-wanita yang mendekati dia.


Saat Kiara sedang ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Secara diam-diam, Ito bertanya kepada Andi tentang sifat bosnya itu. Mendengar cerita Andi, Ito hanya diam. Dia tahu bagaimana menjadi orang yang tidak memiliki keluarga.


"Pasti om Arasel sangat kesepian". Gumam Ito dengan wajah sedih.

__ADS_1


__ADS_2