
Arasel sangat kesal, ia masih mematung di tempat itu sambil mengepalkan tangannya.
"Sial!!", gumam Arasel.
Dengan wajah yang memerah, Kiara membuka pintu rumahnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kiara melihat seorang wanita yang tidak lain adalah saudara tirinya yang bernama Mery.
Kiara begitu takut dengan Mery karena ia sering mengolok-olok Kiara. Bahkan Mery tidak segan untuk menganiaya Kiara ketika ia kecil.
"Hai anak haram, cepat tanda tangani surat ini". Ucap Mery dengan ketus sambil melemparkan surat itu
"T-ta....ta..tanda tangan....su..surat a..a..pa kak?". Ucap Kiara dengan suara terbata-bata sambil ketakutan.
"Itu adalah surat wasiat papi...yang isinya adalah separuh harta kekayaan papi diberikan ke kamu!". Ucap Mery sambil memegang erat pipi Kiara dengan kasar.
"A..a..apa?!". Gumam Kiara.
"Aku ngak mau ya..kalau harta papi jatuh ke tanganmu sepeserpun...kamu adalah anak haramnya papi, maka seharusnya kamu tidak berhak untuk harta ke kayaan papi". Bentak Mery dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
"T-ta..tapi, kak......"
__ADS_1
"Plaaak....."
Belum sempat Kiara berbicara, Mery menampar Kiara sampai terjatuh ke lantai. Kiara hanya bisa menangis serta menahan rasa sakit dan perih dipipinya.
"Jika kau tidak menandatangi surat ini maka aku akan membuatmu menderita seumur hidupmu, Kiara!!". Ucap Mery sambil menjambak rambutnya.
Arasel yang sedari tadi hanya melihat, akhirnya dia turun tangan untuk menyelamatkan Kiara dari siksaan saudara tirinya. Dia segera memegang tangan Mery dan menghempaskannya. Arasel tidak ingin ada orang lain yang menyentuh Kiara selain dirinya. Baik itu laki-laki atau perempuan.
"T-tu...tu..an...A...arasel...Ke..kenapa.....kau a..ada...di sini?!". Ucap Mery dengan penuh ketakutan
Arasel hanya diam, karena ia sedang menahan emosinya yang begitu besar. Ia sangat marah atas perlakuan Mery terhadap Kiara. Arasel menggendong Kiara yang masih menangis di atas lantai.
"**...tapi tu...tuan" Jawab Mery dengan gugup dan ketakutan.
"Jangan pernah kau mengusik dan menyentuh Kiara lagi!...Kalau kau melanggar, aku yang akan buat kau menderita". Ucap Arasel dengan nada Ketus.
"Ba....baik, Tuu..an". Ucap Mery sambil ketakutan
Mendengar ucapan dari Arasel, Mery dengan takutnya langsung meninggalkan rumah Kiara.
__ADS_1
Mery adalah seorang karyawan yang bekerja di bawah pengawasan perusahaan Arasel.
Dengan tanpa banyak bicara Arasel menggendong Kiara. Saat menggendong Kiara, Arasel merasakan tubuh Kiara yang gemetaran. Arasel mendudukkan Kiara di Sofa kesayangnya dan mengambil minuman yang di beli Arasel waktu di mini market tadi.
"Minumlah ini, supaya kau tenang!". Ucap Arasel sambil memberikan minuman tersebut.
Arasel mengusap air mata Kiara yang jatuh membasahi pipinya. Kiara hanya diam, ia menatap wajah Arasel dengan sendu dan kemudian menangis.
Arasel memeluk Kiara dengan erat. Kiara juga membalas pelukan Arasel sambil menangis sesenggukan.
"Menangislah jika kau ingin menangis!". Ucap Arasel kepada Kiara yang masih menangis dipelukannya.
Air mata Kiara semakin deras membasahi pipinya. Kiara masih sangat takut dengan perlakuan saudara tirinya itu. Arasel sungguh tidak menyangka bahwa hidup Kiara begitu menyedihkan.
Banyak sekali pertanyaan di benak Arasel mengenai Kiara. Ia mulai penasaran dengan kehidupan Kiara. Oleh karena itu Arasel secara diam-diam menyuruh Andi untuk mencari informasi tentang kehidupan Kiara.
Andi merasa heran dengan tindakkan bosnya itu. Karena selama ini bosnya tidak suka mencampuri urusan orang lain.
"Apa mungkin, tuan benar-benar jatuh cinta dengan nona Kiara?..Jika benar...ini kabar yang sangat baik". Guman Andi
__ADS_1