
Pagi itu, saat berada di dalam mobil, Arasel selalu memikirkan perkataan Kiara. Dia tidak menyangka bahwa ada seorang wanita yang menolaknya. Padahal selama ini Arasel selalu dikejar-kejar oleh banyak wanita. Bahkan wanita mana yang tidak suka dengan paras tampannya Arasel yang begitu mempersona. Melihat sosok Arasel saja pasti langsung jatuh cinta. Semua wanita di kota ini sangat menyukai sosok Arasel yang begitu dingin tapi tampannya luar biasa.
Tak terasa hari sudah larut malam, Arasel bersiap diri untuk pulang. Malam itu, Arasel tidak pulang sendirian, dia dijemput oleh Andi.
"Selamat malam, Tuan!", sambut Andi.
"Hmmm", balas singkat Arasel karena sudah capek dengan pekerjaannya.
Sesampainya di rumah, Arasel hendak menuju ke kamarnya, tetapi saat melintasi ruang tengah, Ia melihat Kiara yang sedang tidur pulas di sofa.
Arasel menghampiri Kiara, dan kemudian dia berjongkok sambil memandangi wajah Kiara yang begitu cantik saat tidur. Karena tidak tega melihat Kiara tidur di sofa, maka Arasel membopongnya menuju kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh pelayan Arasel saat Kiara tinggal di rumahnya.
Saat hendak membaringkan Kiara ke tempat tidur, tiba-tiba Kiara memeluk Arasel dengan erat. Sontak Arasel kaget dengan apa yang dilakukan Kiara secara tidak sadar.
"Jangan tinggalkan aku.......ayah...tolong jangan tinggalkan aku". Tanpa sadar air mata Kiara mengalir ke pipi
"Dia memimpikan ayahnya ya?". Tanya Arasel dalam hati.
"Pasti dia sangat merindukan ayahnya". imbuh Arasel dalam hati
Dengan hati-hati, Arasel melepaskan tangan Kiara yang memeluk erat tubuhnya. Arasel melihat Kiara dengan tatapan yang dalam. Ia mengusap air mata Kiara yang mengalir di pipinya dan menyelimuti tubuhnya. Saat hendak keluar dari kamar Kiara, Arasel mengecup dahi Kiara dengan lembut. Saat ini perhatiaan Arasel hanya tertuju pada Kiara.
__ADS_1
-------------
Seperti kesepekatan sebelumnya, Kiara memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk Arasel. Ketika Kiara hendak berbalik ke dapur, ia menabrak badan Arasel. Kiara sangat kaget sambil memegang hidungnya yang membentur dada Arasel yang kekar.
"Aduh!". Rintih Kiara
"Apa kau baik-baik saja?". Tanya Arasel dengan sangat khawatir sambil memegang pundak Kiara.
"I..iya, tuan...aku baik-baik saja" . Jawab Kiara sambil memegang hidungnya yg sakit.
Saat makan Kiara dan Arasel hanya diam dan tak bersuara satu sama lain. Keduanya merasa agak canggung. Tapi akhirnya Arasel membuka suaranya untuk memecahkan keheningan.
"Sudah tuan, tadi tuan Andi sudah membantu saya membawakan sarapan pagi untuk Ito". Jawab Kiara.
"Apakah kau hari ini tidak bekerja?". Tanya Arasel lagi.
"Tidak Tuan, hari di saya mau pulang dulu untuk mengambil beberapa baju dan keperluan lainnya". Jawab Kiara sambil mengembangkan senyuman.
"Iya sudah, nanti aku akan mengantarmu". Arasel menawarkan diri untuk mengantar Kiara.
"Ti...ti.tidak usah tuan, sa...a..ya bisa pulang sendiri, nanti malah menyusahkan tuan". Jawab Kiara dengan gugup dan malu. Karena ini pertama kalinya ada laki-laki yang mau mengantarnya.
__ADS_1
"Tidak masalah...aku hari ini sedang cuti, jadi bisa membantumu dan membawakan barang keperluan kalian...sekalian aku ingin tahu dimana kalian tinggal". Jelas Arasel kepada Kiara supaya dia mau menerima bantuannya.
Kiara hanya diam saja dan tak dapat menolaknya. Akhirnya waktu sudah menunjukan pukul 10.00, Kiara dan Arasel sudah bersiap-siap untuk berangkat. sebelum berangkat, Kiara berpamitan dengan Ito.
"Tante, berangkat sendirian?". Tanya Ito.
"Ti..tidak, tante diantar sama om Arasel kok". Jawab Kiara sambil malu-malu.
"Cieeee, tante mau kencan sama om Arasel ya?", goda Ito.
"Huuuss, sembarangan...tante tidak kencan tahu...tante hanya mau mengambil barang keperluan kita saja kok!". Jawab Kiara dengan malu dan agak kesal.
"Ha-ha-ha..Wajah tante langsung kayak udang rebus". Tawa Ito
Ito sangat senang, mendengar kabar kalau Kiara dan Arasel akan pergi ke rumahnya. Ito berharap hubungan mereka semakin lebih dekat. Dan apa yang menjadi impian Ito menjadi nyata.
-------------
Maaf ya jika banyak ketikan yang salah...hehehe
🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1