Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Mencoba percaya.


__ADS_3

"Sayang, mas nggak kerja hari ini. Jadi kita punya waktu untuk dihabiskan berduaan." Dimas menghampiri Rania yang sedang menjemur pakian.


"Benarkah?" Tanya Rania senang.


"Iya sayang."


"Mmh tapi aku harus ke bandara pagi ini, mas."


"Ngapain ke bandara?"


"Mas lupa ya, hari ini Riana datang."


Dimas mengangguk paham. Lalu dia memasang wajah pura pura sedih karena tidak bisa berduaan dengan Rania.


"Mas mau ikut menjemput Riana?" Ajaknya.


"Mmh, boleh juga."


Rania tersenyum senang karena Dimas mau ikut menjemput Riana.


"Sayang, mas minta maaf ya kejadian waktu itu saat mas pulang larut malam." Memeluk Rania dari belakang.


"Aku kasih belum bisa memaafkan mas seutuhnya. Aku masih sangat kecewa dan curiga sama kamu, mas."


"Tapi, aku akan berusaha untuk melupakan semua kecurigaanku pada kamu, mas."


"Entah kenapa semenjak kas menjabat sebagai menejer keuangan, aku mulai berpikiran aneh tentang, mas."


Dimas membalikkan tubuh Rania agar menghadap padanya. Dibelainya wajah sendu itu berharap pemilik wajah itu tidak sedih lagi.


"Mas janji, tidak akan membuat sayang curiga lagi. Mas akan mencoba menyelesaikan pekerjaan tepat waktu supaya bisa pulang lebih awal."


"Benarkah?" Menatap dalam bola mata Dimas yang tampak mengatakan ketulusannya.


"Iya sayangku."


Dimas tampak bersungguh sungguh kali ini. Dan Rania berusaha untuk bisa percaya dengan kesungguhan suaminya kali ini.


"Ya sudah, kalau begitu kita sarapan dulu, baru siap siap menuju bandara." Ajak Rania.


"Ok sayangku."


Mereka melangkah masuk kembali kerumaha untuk menyantap sarapan pagi. Setelah sarapan, Rania dan Dimas bersiap. Setelah rapi, merekapun langsung menuju Bandara.


"Sayang, mas rasa Riana seharusnya jangan tinggal sama kita, deh."


"Loh kenapa, mas?"

__ADS_1


"Ya, rasanya aneh saja harus tinggal bertiga. Nanti mas jadi nggak bisa peluk cium sayang sembarangan."


Rania menatap wajah suaminya yang tampak agak khawatir.


"Riana hanya akan menginap sebentar mas. Paling tiga atau empat bulan saja."


"Itu bukan waktu sebentar sayang, itu waktu yang cukup lama menurutku." Dimas merasa sangat tidak nyaman bahkan dengan hanya membayangkan akan tinggal serumah dengan Riana.


Harusnya dia senang bisa lebih dekat dengan Riana kekasih yang selalu dirindukannya itu. Tapi, entah mengapa semakin Riana dekat, dia semakin takut ketahuan oleh Rania.


"Riana nggak akan sering di rumah juga kok mas. Riana bilang dia sudah dapat pekerjaan baru dan akan sibuk dengan pekerjaanya."


"Begitukah?"


"Iya. Riana diterima menjadi ketua tim pemasaran di perusahaan yang sama dengan mas."


Ucapan Rania kali ini benar benar menbuat Dimas terkejut. Matanya bahkan tampak tidak fokus untuk beberapa saat. Ia belum mengetahui tentang pekerjaan baru Riana.


"Jadi ketua tim baru itu Riana?" Gumamnya dalam hati.


"Mas, aku holeh kerja juga nggak?"


"Hah? Kerja…"


"Iya. Aku ingin kerja seperti dulu. Bosan dirumah terus, mas. Kalau kerja kan aku bisa mengurangi pikiran pikiran aneh yang tiba tiba suka muncul di kepalaku." Rengeknya memohon.


"Jadi editor di web novel online seperti dulu." Rania dulunya seorang editor terbaik di salah satu platform penulisan novel online. Banyak penulis yang menyukainya waktu itu, karena Rania bisa membuat novel mereka diminati nanyak orang. Tapi, Rania berhenti bekerja di tahun ke dua pernikahannya.


"Kalau mas nggak ngizinin juga nggak apa apa kok." Menunduk sedih.


Sebentat Dimas menghela napas sebelum memutuskan memberi izin atau tidak pada Rania untuk kembali bekerja.


"Kamu yakin ingin kembali bekerja?"


"Iya mas, aku yakin banget."


"Tapi kamu nanti akan sangat capek loh, sayang. Pagi harus beberes rumah, terus masak juga, kan."


"Iya sih mas. Tapi kan gaji mas sudah lebih dari cukup, bisa dong kita membayar orang untuk membereskan rumah dan masak." Ujar Rania menyarankan.


Dimas terdiam. Ia merasa ide Rania kali ini sangat bertentagan dengan apa yang pernah Rania katakan diawal pernikahan mereka.


"Bukannya sayang bilang nggak suka punya pembantu ya?"


"Sebenarnya sih iya mas. Tapi, ya mau bagaimana lagi aku benaran ingin kerja."


"Ya kalaupun harus kerja, beberes rumah dan masak, rasanya aku tidak mampu." Rania mengatakan itu dengan nada mengiba.

__ADS_1


"Iya sudah, mas akan carikan pembantu segera." Menggenggam erat tangan Rania.


"Makasih ya mas. I love you." Rania menyenderkan kepalanya dibahu Dimas.


Mobilpun terus melaju, hingga akhirnya mereka tiba di bandara.


"Kamu yakin, Riana sudah tiba di bandara?"


"Yakin dong, mas. Tadi malam Riana bilang dia akan tiba di bandara jam segini."


Mereka menunggu kedatangan Riana di bandara. Tidak lama kemudian Riana datang dengan membawa satu koper besar dan tas hitam yang juga terisi penuh.


"Itu Riana mas." Rania langsung berlari untuk menyambut saudara kembarnya itu.


"Ri, aku kangen banget sama kamu." Berpelukan.


"Aku juga, beb."


"Kamu kok kurus banget sih?" Memeriksa tubuh Riana yang memang terlihat lebih ramping dari sebelumnya.


"Aku bukannya kurus beb, tapi aku langsing." Bisiknya di telinga Rania.


"Oh iya, itu mas Dimas." Rania menunjuk kearah suaminya.


"Hai Riana, selamat datang di Jakarta." Sapa Dimas.


"Santai aja kali, Dim." Menggoda Dimas yang tampak sangat cemas.


"Oh maaf, tapi aku memang selalu seperti ini, iya kan sayang." Menggandeng tangan Rania.


"Iya."


Riana hanya bisa menatap benci melihat kemesraan yang ditunjukkan Dimas begitu jelas padanya.


"Kamu pasti lapar? Bagaimana kala kita makan dulu." Ajak Rania.


"Ya udah ayo kita makan. Aku laper banget nih." Ucap Riana yang langsung melangkah lebih dulu tampa membawa kopernya.


Dengan senang hati Rania mendorong koper ukuran besar itu, tapi langsung di ambil alih oleh Dimas. Lagi lagi Riana menyaksikan hal itu. Senyum geli terlihat jelas diwajahnya, dia merasa sangat kesal melihat perhatian kecil Dimas kepada Rania.


"Makasih, mas."


Dimas hanya tersenyum pada istrinya. Tanpa disadsrinya, hatinya mulai berpindah pada sang istri hingga dia bahkan tidak menyadari kecemburuan tampak jelas di wajah kekasihnya yang sudah melangkah lebih dulu meninggalkan mereka.


"Kenapa semua milikku selalu dirampas oleh Rania?" Batinnya penuh amarah dan dendam terhadap saudara kembarnya.


"Aku akan merebut kembali milikku, Rania. Kali ini aku biarkan kamu menikmati kebahagiaan itu sebelum aku rebut kembali senyum bahagiamu itu yang akan segera menjadi tangisan darah." Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Riana langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang. Awalnya dia ingin duduk di kursi depan tepat di samping Dimas. Tapi, dia tidak ingin terlalu cepat merampas kebahagiaan yang sedang dirasakan Rania. Ia ingin mengambil kebahagiaan itu secara perlahan, sehingga akan membuat Rania benar benar menderita dan menangis darah menohon di hadapannya.


__ADS_2