
Rania menggendong Alisa. Sementara Putri memilih beberapa bahan belanjaan untuk dimasukkan kedalam troli yang didorongnya.
"Ra, kamu beli ini nggak?" Putri menunjuk sayuran segar.
"Boleh, Put. Satu aja tapi, soalnya mas Dimas nggak suka."
"Oke."
"Put udangnya juga ya."
"Loh bukannya kamu sama Dimas nggak suka udang ya?"
"Iya, tapi itu buat persiapan aja soalnya Riana akan pulang ke Jakarta dan tinggal di rumahku."
Putri hanya bisa mengangguk pelan, sambil memasukkan dua porsi udang segar yang dikemas berdasarkan beratnya.
"Kapan Riana pulang?"
"Akhir minggu ini." Jawab Rania senang.
Kali ini pikiran Putri yang malah terganggu mendengar Riana akan tinggal bersama Rania. Putri meresa akan ada hal buruk terjadi saat Riana hadir dalam kehidupan Rania. Karena memang begitulah kejadian yang selalu disaksikannya sejak mereka SMP dulu.
Menurut pengamatan Putri, Riana akan selalu mengambil apapun yang disukai Rania. Tapi, Rania sama sekali tidak menyadari itu. Dia selalu senang berbagi dan memberikan apapun pada saudara kembarnya itu.
"Kenapa Riana harus tinggal di rumah kalian sih, Ra?"
"Ya karena diakan saudarku, Put. Lagian Riana belum punya rumah di sini."
"Tapikan dia punya banyak uang untuk menyewa apartemen."
"Dia mengalami masalah keuangan, Put. Makanya dia pulang. Tapi, dia memang akan membeli rumah kok, hanya saja sementara sebelum rumahnya dapat, dia tinggal bersama aku dan mas Dimas." Ujar Rania tampak semangat menjelaskan.
"Hati hati aja, ntar dia malah yang menjadi perusak rumah tangga kalian." Celetuk Putri.
"Nggak mungkin lah, Put. Aku kenal Riana kok, dia nggak akan merepotkan aku sama mas dimas."
Putri melanjutkan langkahnya. Rania pun ikut melangkah sambil terus mengobrol dengan Alisa.
Melihat wajah Rania, membuat Putri merasa iba. Memikirkan Riana yang akan tinggal bersama mereka, membuat Putri bertambah iba pada sahabatnya itu.
"Semoga semuanya baik baik saja, Ra. Aku hanya bisa mendoakan." Batinnya.
Setelah selesai berbelanja, Putri mengajak Rania untuk makan di restoran milik sahabat suaminya. Merekapun pergi ke sana.
Setibanya di restoran, Alisa malah tertidur.
"Yaa, Alisa malah bobok." Rania merasa sedih karena nggak bisa ngajakin Alisa ngobrol lagi.
"Udah yok masuk." Ajak Putri untuk segera masuk ke restoran itu.
"Alisa gimana?"
__ADS_1
"Itu ada kreta bayi di bagasi, nanti Alisa akan tidur nyenyak disana selama kita makan."
"Loh kapan kamu masukin kereta bayi ke bagasi?"
"Tadi dong, waktu kamu lagi sibuk main sama Alisa." Membuka bagasi dan mengambil kereta bayi yang masih terlipat rapi.
"Sini aku yang bawa."
Rania dan Putri masuk. Alisa dibaringkan di kereta bayi dan benar saja dia tertidur pulas.
Tidak berapa lama setelah memesan, pesanan mereka datang. Putri dan Rania langsung menyantap makam siang yang sungguh terasa lezat itu. Sangking enaknya mereka makan, sampai tidak melihat ada Radit yang juga makan di meja depan mereka.
"Alhamdulillah, aku kenyang banget Put."
"Sama, aku juga." Mata Putri akhirnya menangkap pungung seseorang yang tampak tidak asing.
"Ra, itu mas Radit bukan ya?" Menunjuk ke arah depan.
Rania mencoba memperhatikan punggung yang juga tampak familiar dimatanya.
"Iya deh kayaknya. Coba panggil."
Putri pun akhirnya memanggil nama Radit pada pria yang duduk di meja depan.
Mendengar namanya dipanggi, Raditpun menoleh.
"Nah benarkan, mas Radit." Gumam Putri senang.
"Iya, ini baru selesai." Jawab Putri.
"Saya juga baru selesai makan."
"Rumi nggak dibawa, mas?" Putri tidak melihat Rumi dipangkuan Radit.
"Itu Rumi." Radit menunjuk kearah depan tempat duduknya, Rumi tidur nyaman dalam pangkuan seorang perempuan seumuran Putri dan Rania.
"Dia siapanya, mas Radit?" Tanya Putri penasaran.
"Hai, mbak Putri. Aku Vita Sekretaris pak Radit."
Putri dan Rania mengangguk paham.
"Vita, ini Rania sahabatnya Putri." Radit memperkenalkan Rania pada Vita. Baik Vita maupun Rania hanya sama sama tersenyum dan mengangguk saling menyapa.
"Jadi mbak Rania ini yang bisa membuat Rumi nggak nangis lagi itu, pak Radit?" Tanya Vita.
"Iya."Jawab Radit agak malu.
"Berarti mbak Rania istrinya Dimas, kan ya?"
"Iya." Rania tersenyum senang.
__ADS_1
"Wah saya pangling loh. Tapi mbak Rania nggak ingat saya?" Tanya Vita.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Rania ragu.
"Mbak Rania lupa ya, kemarin kita bertemu di mall. Masak lupa sih?"
Rania melirik pada Putri dan respon Putri hanya menggeleng bingung.
"Saya jarang ke mall. Kemarin juga saya di rumah saja seharian."
"Oo gitu? Terus siapa ya yang saya lihat jalan sama Dimas di mall. Wajahnya mirip banget loh sama mbak Rania."
Nyus, hati Rania bagaikan tersambar petir. Pikiran aneh mulai kembali memenuhi kepalanya.
"Mungkin kamu salah lihat kali. Bisa saja Dimas lagi bersama kliennya atau mungkin rekan kerja." Sambung Putri.
"Nggak kok, saya tahu semua klien dan karyawan di perusahaan."
"Wajahnya mirip banget loh sama mbak Rania, hanya saja perempuan itu nggak memekai hijab." Lanjut Vita.
"Mungkin hanya mirip. Sudahlah yuk kita kembali ke kantor sekarang." Ajak Radit. Dia baru menyadari raut wajah Rania sudah berubah menjadi sendu. Dia tidak ingin Vita melanjutkan obrolan yang mungkin tidak menyenangkan menurut Rania.
"Put, Rania, saya duluan."
"Iya, mas."
"Mbak saya duluan ya." Vita ikut mengekor dibelakang Radit sambil menggendong Rumi.
Sementara itu Rania hanya bisa terdiam. Hatinya kini sungguh berantakan. Pikirannya tidak bisa dikendalikan.
"Ra, kita pulang aja yuk."
Rania tidak menjawab, tatapan matanya tampak kosong. Putri mulai merasa khawatir terjadi apa apa pada Rania.
"Ra, kamu nggak apa apa, kan?"
"Bisa saja Vita salah lihat. Bisa saja kan yang dilihatnya hanya seseorang yang mirip Dimas dan kamu."
Mata Rania mulai berkedip lagi. Dia menarik napas berkali kali, baru kemudian mencoba tersenyum.
"Kamu benar Put, Vita pasti salah lihat. Kalau pun perempuan itu mirip aku, itu Sudah pasti Riana. Tapi, Riana masih di Paris kok. Tadi pagi dia juga menelpon aku dari Paris." Menyangkal keterangan Vita.
"Nah gitu dong, kamu jangan mudah terpengaruh omongan yang tidak berdasar." Putri mengelus lembut pipi sahabatnya itu.
"Aku lebih kenal siapa suamiku dan saudaraku. Mereka adalah orang terpenting dalam hidupku. Jadi, nggak mungkin mereka mengkhianati aku. Iya kan Put?"
"Betul." Putri memberi dua jempolnya.
"Riana… ternyata kamu sudah di Jakarta. Dasar perempuan tidak punya hati dan perasaan." Gumam Putri dalam hati.
Sebenarnya, Putri memang mencurigai Riana sejak awal. Beberapa hari yang lalu, Putri merasa melihat Riana disalah satu restoran. Tapi, dia menyangkal karena Rania bilang Riana masih di Paris. Dan ternya Vita pun melihat Riana dan yang mengejutkan lagi, Dimas jalan berdua dengan Riana.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ra. Aku janji akan menceritakan semua ini di saat yang tepat." Lanjutnya bicara dalam hati.