Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Tujuh tahun pernikahan.


__ADS_3

Rania dan Dimas kini sedang menikmati makan malam romantis di rumah mereka. Rania mempersiapkan segalanya untuk merayakan hari bahagia mereka yaitu hari tepatnya tujuh tahun pernikahan.


"Mas belum sempat membelikan hadiah karena seharian saagat sibuk. Maafkan mas ya sayang." Dimas menggenggam erat tangan Rania.


"Tidak apa mas. Karena aku sudah punya hadiahnya."


Rania mengabil box kecil persegi panjang dari balik laci lemari dapurnya. Lalu dia memberikan box itu pada Dimas.


"Ini apa sayang?


"Buka saja mas. Itu hadiah untuk pernikahan kita yang ke tujuh."


Dimas membuka perlahan box itu, dengan perasaan yang agak ragu, box itu akhirnya terbuka sempurna. Mata Dimas berkaca kaca seketika melihat isi box.


"Ini maksudnya?" Menatap Rania yang tersenyum bahagia.


Sekali lagi Dimas melihat isi box yang terdiri dari sepatu bayi, dan baju bayi yang dijahit langsung oleh Rania. Di atas sepatu mungil itu ada alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua.


"Mas akan jadi seorang ayah?" Rania mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya mas. Usia janinnya sudah memasuki minggu ke enam." Ujar Rania menjelaskan.


Dimas menangis. Dia merasa sangat bahagia karena akhirnya akan menjadi seorang ayah. Sejak hari dimana Dimas melihat Riana bersama Radit, membuat Dimas mantap untuk memilih Rania dan dia juga tidak lagi mempedulikan syarat dari Riana yang tidak mengizinkannya membuat Rania hamil. Benar saja, dalam waktu dekat, Rania hamil dan dia akan memiliki seorang anak.


"Mas bahagia?" Rania menghampiri suaminya lalu memberikan pelukan hangat.


"Aku bahagia sayang. Aku akan menjadi ayah, aku sangat bahagia." Membalas pelukan Rania.


"Aku juga bahagia mas. Maaf karena terlambat memberikan kebahagiaan ini. Butuh waktu tujuh tahun untukku baru bisa memberikan kebahagiaan ini padamu, mas."


"Tidak apa apa sayang. Aku tidak peduli mau selama apapun menunggu, asalkan bersamamu."


"Aku janji akan menjaga kalian, aku akan menjaga calon bunda dan juga calon bayi kita."


Sementara itu, saat ini Riana sedang menina bobokan Rumi yang sejak sore ini sangat rewel, menangis seperti merasa kesakitan di bagian anggota tubuhnya yang tidak terdeteksi oleh Riana.


"Mbak, pak Radit masih belum pulang ya?"


"Belum, neng Ria."


"Bisa bantu tolong hubungi pak Radit nggak mbak. Kasihan Rumi rewel terus."

__ADS_1


"Baik neng. Saya akan memberitahukan keadaan nona Rumi pada tuan."


Riana terus menggendong Rumi dan menyanyikan lagu lagu agar Rumi berhenti menangis. Tapi bukannya berhenti, tangis Rumi semakin menjadi saat Riana bernyanyi.


"Sayang kenapa? Apanya yang sakit? Kasih tahu mama ya nak." Bisiknya sambil menciumi pipi dan kening Rumi yang tidak terasa panas atau dingin. Suhu tubuhnya nornal seperti biasa.


"Neng Ria maaf saya tidak bisa menghubungi pak Radit. Tapi, saya sudah menghubungi pihak kantor."


"Lalu apa kata mereka, dimana pak Radit?"


"Pak Radit berangkat ke Semarang sejak siang tadi. Mereka bilang, kemungkinan pak Radit pulang besok siang atau mungkin malah malamnya."


"Jadi gimana dong ini Rumi nggak mau diam." Riana panik. Dia benar benar tidak mengerti bagaimana caranya mendiamkan Rumi. Karena sudah hampir lima bulan mengasuh Rumi, belum pernah kejadian seperti ini. Rumi biasanya menangis paling karena ingin tidur, atau saat lapar.


Riana membawa Rumi masuk ke kamar. Dia berbaring bersama Rumi diatas kasur pak Radit.


"Sayang rindu sama Papa ya, nak?" Menyelimuti tubuh Rumi dengan kain sarung milik Radit yang sering Radit gunakan untuk sholat.


Benar saja, Rumi langsung berhenti nangis dan mulai memejamkan matanya.


"Jadi, cantinknya mama rindu sama papa ya, sayang ya." Mengelus lembut wajah mungil itu.

__ADS_1


Riana tersenyum lega. Akhirnya dia mengerti sekarang, Rumi sangat merindukan papanya yang tidak menemuinya seharian. Memang baru kali ini Radit meninggalkan Rumi seharian.


__ADS_2