Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
D I D


__ADS_3

Suara kebisingan di dapur membuat Rania membuka matanya meski masih sangat mengantuk.


"Mas…" Tangannya mencari keberadaan suaminya yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya.


"Mas!"


"Mas apa kamu di kamar mandi?" Rania mengetuk pintu kamar mandi. Merasa tidak ada jawaban, dia pun membuka pintu itu dan matanya tidak mendapati suaminya.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Rupanya Rania bangun kesiangan, entah mengapa dia merasa terlalu lelah kemarin setelah menemani Riana berkeliling mall.


"Apa di dapur kali ya mas Dimas!." Rania meraih sweeter dan memakainya untuk menyembunyikan gaun malam yang dipakainya karena sangat terbuka di bagian bagian tertentu.


"Mas?"


"Nyonya!" Sapa seorang wanita paruh baya.


"Ibu siapa ya?"


"Saya Aminah, pembantu baru nyonya." Jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Bik Aminah, pembantu?"


"Iya nyonya. Tuan Dimas bilang saya bisa mulai bekerja hari ini dari jam enam pagi sampai jam tujuh malam."


Rania mengangguk paham. Lalu sekali lagi matanya mencoba menemukan keberadaan Dimas yang tidak juga nampak.


"Suami saya mana ya, bik?"


"Tuan sudah berangkat kerja."


"Berangkat sama siapa?" Tanya Rania ragu.


"Sendirian nyonya. Memangnya ada apa nyonya?"


Rania menggeleng. "Tidak apa apa. Lanjutkan saja tugasnya bik."


Rania melangkah menuju kamar Riana. Diketuknya pintu itu beberapa kali tapi tidak ada jawaban.


"Nona Riana juga sudah berangkat kerja!" Seru Aminah dari arah dapur.


"Apa bibik yakin mereka tidak berangkat bersama?"


"Tidak nyonya. Nona Riana tadi dijemput temannya."


Lagi lagi Rania mengangguk paham. Lalu dia pun kembali ke kamarnya.


"Kenapa aku parnoan gini ya. Bawaannya curiga aja sama mas Dimas." Merebahkan kembali tubuhnya diatas tempat tidur.


"Tapi apa yang aku lihat saat di restoran kemarin itu benar adanya. Sayangnya aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan." Rutuknya kesal.


Tanganya meraih handphone yang ada di atas nakas. "Aku harus mulai kerja lagi, supaya pikiranku tidak terus terusn menguasai diriku."


Rania menghubungi seseoarang yang merupakan temannya saat masih bekerja dulu.


"Benaran?"


"Ya iya, aku ke kantor sekarang juga."

__ADS_1


"Ok, say. Thank you."


Setelah panggilan itu berakhir, Rania langsung bersiap menuju kantor tempatnya bekerja dulu.


Saat tiba disana, Rania disambut hangat oleh semua rekan rekan kerjanya yang ternyata masih tetap sama ramahnya seperti dulu.


"Welcome back, say. Gi la, aku senang banget tau waktu bos bilang kamu akan kembali bekerja di sini." Gita bahagia bisa kembali satu kantor sama Rania. Gita itu sama seperti Putri, sangat perhatian dan sayang sama Rania, meski pun mereka hanya bertemu saat di kantor saja.


"Selamat datang kembali, Rania." Sapa Wawan, pria yang diam diam menyukai Rania meski dia tahu Rania sudah menikah.


"Terimakasih, Wan." Ucap Rania.


Di kantor ini, semua editor bisa bicara informal dan santai. Kecuali sedang rapat dan sedang bersama para penulis kontrak di web novel mereka.


"Say, bos kita bukan Pak Rudi lagi." Bisik Gita.


"O ya? Memangnya pak Rudi kemana?"


"Pak Rudi menikahi gadis Bali dan berakhir pindah ke Bali. Katanya di sana mengelola usaha keluarga milik istrinya."


Rania mengangguk paham, lalu dia pun duduk nyaman kembali di kursinya. Kursi dan meja yang sudah sangat lama ditinggalkannya kini kembali padanya.


"Senang bangat ya say?"


"Mmh."


"Aku juga senang banget."


Mereka benar benar ingin terus mengobrol, tapi sebelum itu terjadi, seseorang menghampiri meja mereka tampa mereka sadari.


"Iya!" Rania menoleh kearah sumber suara yang menyebut namanya.


"Saya menerima kamu kembali di sini bukan untuk bergosip tapi untuk memeriksa ulang novel novel yang dikirimkan penulis dan mengirimnya tepat waktu."


"Iya, bos. Saya akan bekerja keras dan melakukan yang terbaik agar para penulis senang dan terus menulis hingga kisah yang mereka bagikan tamat."


Gita menunduk takut, begitu juga dengan beberapa editor lainnya. Mereka khawatir Rania akan langsung di pecat, karena bos baru mereka itu tidak suka dengan karyawan yang menjawab saat dia sedang memberikan teguran.


"Gita, apa kamu tidak memberitahu Rania tentang peraturan di sini?"


Gita menggeleng tanpa berani menatap wajah bosnya itu yang sangat merah membara menahan emosi untuk segera memaki Rania yang dengan beraninya menjawab saat mendapat teguran di hari pertamanya bekerja.


"Rania, kamu keruangan saya sekarang." Melangkah kembali menuju ruang kerjanya.


"Say, apa ada peraturan baru?"


"Mmh, maaf aku lupa memberitahumu."


"Peraturan apa?"


"Jangan pernah menjawab saat bos sedang menegurmu. Pokoknya diam saja, jangan menjawab atau memberi alasan apapun."


"Hah?"


"Iya say. Kamu mungkin akan langsung dipecat karena melanggar peraturan itu." Gita merasa prihatin akan nasib Rania dihari pertamanya bekerja.


"Peraturan aneh. Tenang saja, say. Aku tidak akan membiarkan dia memecatku dihari pertama aku kembali ke tempat ini."

__ADS_1


Rania tidak kenal takut, dia malah merasa tertantang untuk berdebat dengan bos barunya itu.


"Saat ini suasana hati dan pikiranku sedang kacau, beraninya dia mau menegurku! Huh, aku tidak takut." Gumam Rania.


Dengan santai dia melangkah menuju ruang kerja bos baru itu.


Tok, tok…


Setelah mengetuk, Rania pun langsung masuk meski belum ada perintah untuk masuk. Lagi lagi Rania membuat kesal bos.


"Kamu memang nggak punya sopan santun ya!"


"Maksud bos apa?"


"Kamu masuk ruangan saya sebelum saya beri izin untuk masuk. Itu namanya tidak punya sopan santun." Imbuhnya kesal.


Kening Rania mengkerut, emosinya semakin naik dan pembuluh darah seakan hendak meledak saat menahan luapan emosi dalam dirinya.


"Bukankah tadi, bos yang meminta saya untuk datang ke


ruangan indah ini, kan?"


Brukkk…


Satu buku novel dilemparkan ke hadapan Rania. Novel itu jatuh dilantai begitu saja. Mata keduanya beradu pandang untuk pertama kalinya.


Rania menatap penuh amarah tampa bisa menyembunyikan lagi rasa itu. Satu satunya hal yang paling dibenci Rania, adalah ketika sesorang tidak menghargai karya orang lain. Kini buku itu berada dilantai dalam keadaan berantakan. Sungguh penghinaan besar menurut Rania.


"Anda mungkin bos di sini." Rania berjongkok untuk mengambil novel itu.


"Anda punya kuasa dan aturan di sini, tapi…"


"Anda tidak berhak melempar karya yang susah payah di tulis dan di sampul rapi ini begitu saja seperti sampah." Gumam Rania murka.


Sementara, bosnya hanya diam dan terus menatap wajah Rania.


"Rey. A seorang penulis pertama dan pemilik web novel ini." Menunjukkan nama penulis novel itu pada bosnya yang masih tetap menatap wajahnya.


"Reinaldo Aditama." Ujar bosnya, lalu menghentikan matanya menatap wajah Rania.


"Hah?"


"Penulis novel itu, Reinaldo Aditama. Nama penanya Rey. A. Itu karya pertamannya saat mulai menjadikan web ini resmi memiliki hak cipta."


"Lalu kenapa bos melemparnya begitu saja seperti sampah?"


"Suka suka saya, Rania.


"Saya dengar kamu bahkan tidak pernah membaca novel itu." Gumamnya dengan suara yang lebih santai


Rania terdiam. Bosnya benar, satu satunya novel yang belum pernah dibacanya adalah novel yang kini ada di tanganya.


"Baca novel itu, lalu berikan kesimpulan yang bisa merubah pikiran saya untuk bisa kembali memajang novel itu ditempatnya."


Mata Rania berkedip berulang kali saat harus menerima tawaran membaca novel itu. Novel yang sangat takut untuk dibacanya. Entah mengapa, sejak dulu hingga saat ini, Rania masih tidak berani membaca novel yang berjudul 'Dissociative identity disorder (DID).'


Novel itu menceritakan tentang seorang anak yang berkepribadian ganda, akibat trauma yang dialaminya saat masa kanak kanak. Rania yang merasa punya penyakit itu, malah takut untuk membacanya.

__ADS_1


__ADS_2