Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Flashback part 1


__ADS_3

Hari yang melelahkan. Rania baru saja selesai sholat isa dan langsung berbaring di ranjang kecil dengan kasur tipis untuk mengistirahatkan kaki dan punggungnya yang terasa perih karena hampir seharian berdiri merunduk saat mencuci piring. Matanya mulai terpejam, membawanya menelisik jauh kealam bawah sadarnya yang menjadi titik awal kehancuran keluarga. Kenangan yang sudah lama terlupakan dan tidak ingin di ingatnya untuk selamanya. Tapi, malam ini rangkaian kejadian itu kembali berputar dalam ingatannya.


Flashback On.


Riana dan Rania, dua gadis kecil yang terlahir kembar. Wajah keduanya sangat mirip, tapi sifat dan sikap mereka sangat bertolak belakang. Riana sangat cerdas, ceria dan selalu bisa membuat siapa saja yang melihatnya tertarik padanya. Kedua orangtuanya juga lebih sering menghabiskan waktu bermain bersama Riana dibanding Rania. Hal itu karena Rania sangat tertutup dan lebih suka menyendiri.


Hari ke hari, Rania selalu memperhatikan cara Riana dan kedua orangtuanya berkomunikasi. Dia mencoba mempraktekkan cara itu di depan cermin dan berhasil. Rania tampak sangat mirip dengan Riana dari gaya bicaranya dan juga senyumnya. Setelah berlatih hampir satu bulan, Rania akhirnya memberanikan diri menjadi Riana di depan kedua orangtuanya.


Tapi, saat Rania mencoba menjadi Riana di depan kedua orangtuanya, mereka malah tertawa dan mengatakan Rania makin imut dan menggemaskan saat bersikap baik seperti Riana. Perkataan itulah yang membuat Rania patah hati dan berbalik membenci Riana saudara kembarnya.


"Rania, Ibu sama Ayah berangkat kerja dulu ya nak." Ibu mencium kening dan pipi Rania.


"Riana masih mandi. Kalau mau bermain tunggu Riana selesai mandi dulu ya sayang." Ayah ikut mencium kening dan pipi gadis kecilnya yang kini sudah berusia delapan tahun.


"Iya. Ayah, ibu pulangnya jangan terlalu malam." Ucapnya tanpa menoleh, matanya hanya terus fokus menatap layar tv di depannya.


"Tentu sayang." Mengusak kepala Rania.


Setelah kedua orangtuanya pergi, Rania menghampiri Riana yang masih mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya. Perlahan sekali Rania memasuki kamar itu, lalu mengunci pintu kamar mandi agar Riana terkurung di sana.


Riana yang sudah selesai mandi, merasa bingung karena pintu terkunci dari luar. Dia menggedor gedor pintu sambil berusaha membukanya.


"Ayah, ibu!" Teriaknya sambil terus menggedor pintu.

__ADS_1


Rania tersenyum senang. Dia merasa puas bisa mengerjai Riana tanpa ketahuan ayah dan ibu.


"Rania! Buka pintunya, tolong… aku takut!" Teriaknya sambil terisak di dalam kamar mandi yang dingin itu sendirian.


"Aku akan membuka pintunya tapi ada syaratnya." Rania mengatakan itu dengan santai.


Mendengar suara Rania, membuat Riana kembali mengedor pintu dengan keras dan berteriak tanpa henti.


"Rania buka pintunya. Aku terkurung di sini, tolong aku."


"Aku bilang akan aku buka pintu tapi dengan syarat." Ulangnya.


"Apa kamu sengaja mengunci pintu untuk mengurungku!"


"Iya. Kenapa? Kamu mau melapor sama ayah, ibu? Silahkan, aku tidak takut sama sekali."


"Karena kamu selalu mengambil milikku."


"Aku tidak mengambil apapun dari kamu, Rania." Ucapnya yang masih terisak.


"Kamu mengambil ayah sama ibu dariku. Kamu mengambil mainanku. Kamu mendapatkan hadiah ulang tahun lebih banyak dariku dan kamu menyebalkan..." Teriak Rania meluapkan rasa kesal dan amarahnya yang terpendan selama ini.


"Aku tidak pernah melakukan itu Rania. Ayah sama ibu menyayangi kita berdua. Aku tidak mengambil mereka dari kamu. Soal mainan yang rusak itu, aku akan menggantinya. Tolong buka pintunya, Rania… aku kedinginan, aku juga takut disini." Rengeknya.

__ADS_1


Riana mulai menggigil dan tiba tiba Rania mematikan lampu kamar mandi yang membuat Riana merasa ketakutan dan semakin menggigil kedinginan.


"Berjanjilah kamu akan menjadi Rania!" Teriak Rania.


"Apa maksudmu?"


"Mulai saat ini akulah Riana dan kamu Rania." Membuka pintu kamar mandi.


"Tapi mengapa?" Riana menatap dengan mata yang sembab pada saudara kembarnya itu.


"Aku akan menjadi Riana mulai hari ini. Dan kamu adalah Rania." Menunjuk wajah Riana yang tampak pucat dengan bibir yang gemetar menahan rasa dingin.


"Tapi mengapa harus bertukar nama?"


"Karena aku suka nama Riana dari pada Rania." Menatap penuh kebencian pada Riana.


"Aku tidak mau. Aku Riana sampai kapanpun." Tegasnya meski dengan kondisi menggigil kedinginan.


"Jika kamu tidak mau menjadi Rania, maka aku akan membuat ayah dan ibu menghilang selamanya." Bisik Rania di telinga Riana.


"Pilihan ada di tanganmu, mau menjadi Rania atau Riana."


Air mata tumpah dari pelupuk mata Riana. Dia teringat saat saat Rania mengubur kucing hidup hidup hanya karena kucing itu mencakar tangannya dan itu tidak memberikan bekas luka sama sekali. Kini Riana merasa katakutan dan dia harus menyelamatkan ayah dan ibu.

__ADS_1


"Aku Rania." Ucap Riana pelan, lalu dia jatuh pingsan.


"Aku Riana." Rania tersenyum senang. Dia pergi dari kamar itu meninggalkan Riana yang terbaring tidak sadarkan diri di lantai begitu saja.


__ADS_2