
Mobil Dimas memasuki perkarangan rumah tepat sebelum matahari terbenam.
"Ini rumah kalian?" Tanya Riana tidak menyangka rumah Dimas dan Rania cukup mewah dan terdiri dari dua lantai.
"Waw, luar biasa. Aku kira rumah kalian yang sederhana gitu, makanya agak ragu mau numpang."
"Rumah ini awalnya rumah salah satu klienku saat masih bekerja sebagai editor web novel dulu." Rania mulai menceritakan asal usul rumah mewah itu.
"Dia menjadi penulis terbaik yang penghasilan perbulannya mencapai 20 juta. Jadi, dia mau membuat rumah baru seperti rumah impiannya selama ini. Nah dia tahu kalau aku belum punya rumah waktu itu, kami masih ngontrak ya kan, mas."
Dimas mengangguk pelan.
"Dijualnya rumah ini sama aku dengan harga yang cukup murah waktu itu. Kami berhasil melunasi rumah ini tepat sebulan sebelum aku akhirnya berhenti kerja." Lanjutnya menjelaskan.
"Kamu benar benar pekerja keras beb. Aku salut benget deh sama kamu." Memeluk Rania.
"Udah yuk masuk, ngobrolnya didalam saja." Ajak Dimas yang sudah lebih dulu melangkah masuk dengan membawakan koper milik Riana.
"Ayok Ri… welcome to my house." Menyambut Riana dengan senang hati di rumahnya.
"Thank you, beb."
Rania dan Dimas langsung menunjukkan kamar yang akan ditempati Riana selama tinggal di rumah mereka. Kamarnya berada di lantai bawah, karena memang kamar ini satu satunya kamar kosong yang luas di rumah mereka. Di lantai atas masih ada satu kamar kosong, tapi lebih kecil dan dijadikan gudang oleh mereka.
"Kamarnya luas banget." Riana senang dengan kamarnya.
"Istirahat saja dulu, Riana." Ucap Dimas sebelum meninggalkan kamar itu.
"Selamat istirahat, Riana sayang. Kalau butuh sesuatu panggil saja aku di atas. Ok."
Rania pun ikut menyusul langkah suaminya yang sudah hampir tiba di kamar mereka. Dan tampa disadari Rania, Riana menatap langkah mereka menuju kamar mereka di lantai atas.
Sementara Rania, Dimas dan Riana beristirahat. Di rumah mewah lainnya sedang terjadi kegaduhan.
"Iya, Rumi nangis terus nggak mau diam. Suhu tubuhnya juga sangat panas, ma." Radit bicara melalui sambungan telepon dengan mamanya yang sedang berada di Vietnam.
"Pengasuhnya sudah aku suruh pulang."
"Habisnya Rumi juga nggak mau diam saat bersama pengasuhnya."
__ADS_1
"Ke rumah sakit? Iya ma, aku bawa Rumi ke rumah sakit sekarang."
Radit pun langsung mengambil selimut tebal untuk Rumi, tidak lupa dia juga membawa perlengkapan penting yang mungkin akan dibutuhkan nantinya.
"Taxi!" Dia memutuskan naik taxi agar bisa tetap menggendong Rumi dengan nyaman.
"Pak tolong antar ke rumah sakit Permata Bunda."
Taxi itu pun melaju cepat menuju rumah sakit yang disebutkan Radit barusan.
"Sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, ya." Mencoba menenangkan tangis bayinya.
"Anak ayah kan kuat, ya nak. Nanti dokter akan mengobati demamnya ya."
"Maaf tuan, tapi ibunya mana ya?" Tanya supir taxi yang curiga bayi itu hasil curian. Maklum kini sedang gencar gencarnya penculikan anak.
"Istri saya sudah meninggal, pak." Jawab Radit tampa menoleh pada supir taxi.
"Bisa lebih cepat pak, badan anak saya panas sekali ini."
"Baik pak."
"Sudah berapa hari putri anda demam, pak Radit?" Tanya bu Dokter.
"Tadi sore, dok. Sebelumnya dia baik baik saja."
Dokter mengangguk paham dan kembali memeriksa bagian perut Rumi yang ternyata kembung.
"Apa bapak memberi minuman lain selain susu pada anaknya?"
"Tidak dok. Anak saya masih makan sun dan minumnya susu. Belum pernah saya kasih minum dan makanan selain itu."
"Tapi perutnya kembung, seperti meminum air yang masih mentah gitu."
"O ya? Padahal saya selalu bilang sama pengasuhnya untuk memberi minum susu saja atau air yang dimasak terlebih dahulu." Jelasnya.
"Baiklah, kalau begitu bapak jangan terlalu khawatir. Selain kembung, putri bapak juga mengalami demam tinggi. Saya akan membantu menurunkan panasnya sambil memberikan asupan makanan yang cocok untuk lambungnya."
"Terimakasih, dok."
__ADS_1
Radit kini menunggu di ruang tunggu dengan cemas. Sementara Rumi sedang berada di ruang rawat bersama dokter dan beberapa suster. Meski begitu, ada perasaan lega karena Rumi sudah berhenti menangis beberapa menit yang lalu.
"Ayah akan menunggu dengan sabar sayangku." Menatap pintu ruang tempat putrinya sedang ditangani dokter.
Handphone Radit bergetar, dilayarnya tertera nomor yang tidak dikenalnya memanggil. Dengan ragu Radit menggeser tombol hijau sehingga panggilan itu pun tersambung.
"Halo... saya bicara dengan siapa ya?"
"Riana? Maaf tapi saya tida kena..."
"Ketua tim pemasaran yang baru?"
"Oo ya saya tahu. Tapi, kenapa menelpon saya malam malam begini?"
"Hanya menyapa? Maaf tapi, saya rasa tidak perlu." Radit langsung mengakhiri panggilan yang menurutnya sangat tidak penting itu.
"Semoga putri Ayah lekas membaik ya sayang." Gumamnya.
Tiba tiba Radit teringat pada pengasuh Rumi. "Apa dia memberi Rumi makanan dan minuman yang tidak saya perintahkan?" Pikirnya.
"Jika sampai itu terjadi, ingat saja dia. Aku akan langsung memecatnya."
Radit pun mencoba menghubungi pengasuh Rumi. Tapi setelah mencoba beberapa kali, tidak ada jawaban. Kecurigaan itu semakin kuat.
"Maafkan Ayah, sayang. Harusnya Ayah tidak mencarikan pengasuk untukmu. Maafkan ayah sayangku Rumi." Radit menyesal karena mempercayakan putrinya untuk diasuh orang asing.
"Maafkan, Papa sayang."
Sejak lahir Rumi sudah ditinggalkan bundanya, Radit sendiri yang merewatnya selama ini. Paling, Mamanya yang membantu jika tidak sedang sibuk. Sementara, pengasuh? Radit tidak mau menyewa pengasuh waktu itu, tapi semenjak Rumi bisa berjalan, Radit agak kerepotan merawatnya, akhirnya dia pun menyewa pengasuh.
Kini rasa bersalah dan kecewa yang memenuhi hati serta pikirannya. Karena merasa sibuk hingga terpaksa menyerahkan Rumi pada seorang pengasuh yang ternyata tidak bertanggung jawab.
"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" Radit langsung bertanya begitu melihat Dokter Rahma keluar dari ruangan rawat bayinya.
"Putri bapak, sudah mulai membaik. Pak Radit tidak perlu khawatir berlebihan, lebih baik menjaganya dengan perasaan yang tenang, supaya Ruminya juga merasa nyaman bersama anda." Dokter Rahma menyarankan.
"Terimakasih dokter."
Segera Radit masuk ke ruangan itu, dilihatnya wajah tenang Rumi yang tampak pucat. Dielusnya perlahan tubuh mungil itu agar tetap terlelap dengan nyaman.
__ADS_1
"Sungguh maafkan ayah, sayang."