Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Bos??


__ADS_3

Tidak terasa air mata Rania menetes saat mengingat kejadian masa lalu yang sangat menyakitkan itu. Selama ini ia pura pura melupakan kejadian itu karena ia merasa Riana sudah berubah dan memang hanya Riana satu satunya keluarga yang dimilikinya.


"Ayah… Ibu… aku rindu kalian." Ucapnya lirih. Kemudian Rania memejamkan lagi matanya untuk melanjutkan istirahat malam itu. Namun, belum lima detik matanya terpejam, dia mendengar suara langkah kaki mendekati pintu ruko rumah makan.


Tok, tok, tok!


Suara ketukan itu membuat Rania bangkit dari tempat tidurnya. Ia pun kembali memakai jilbab instan panjangnya dan perlahan melangkah keluar dari kamar.


"Siapa!" Serunya ragu ragu.


"Saya. Apakah kamu Rania?" Jawab seseorang dari luar. Suara laki laki yang tidak asing di telinga Rania.


"Bos?" Rania mencoba menebak.


"Iya."


Rania merasa tidak percaya tapi penasaran, dengan segera dia membuka pintu trali besi rumah makan.


"Bos, kok bisa tahu saya disini?" Dengan percaya diri Rania melangkah mendekati lelaki yang menunjukkan ekspresi datar dengan mata yang tidak berkedip menatap tajam wajahnya.


"Bos datang sendirian?"


"Saya sungguh minta maaf karena tidak memberi kabar dan sudah sangat lama tidak bekerja."


"Yah bos pasti sudah tahu tentang saya yang diceraikan, atau mungkin malah gosipnya saya yang menggugat cerai dan memilih pergi dengan pria lain."

__ADS_1


Rania mengatakan itu dengan perasaan malu, sedih dan juga iba pada dirinya sendiri.


"Rania, bolehkah aku memelukmu?" Satu kalimat yang keluar dari mulut Reinaldo membuat Rania terkejut dan sontak melangkah mundur menjauh dari bosnya itu.


"Maaf bos, ini hampir tengah malam. Saya harus segera istirahat..." Rania hendak segera masuk, tapi ujung jilbabnya ditarik oleh Rei sehingga langkahnya terhenti.


"Kamu itu terlalu naif. Itu kesalahan yang sangat fatal." Rei memukul pelan puncak kepala Rania sehingga membuat kening Rania mengkerut.


"Kamu pikir kedatangan saya jauh jauh kesini benar benar untuk mendapatkan pelukan dari janda sepertimu."


"Ja... janda?" Ulang Rania.


"Memang kamu janda, kan? Oh, atau kamu sudah menikah lagi dengan pria yang membawamu kabur itu?"


Mata Rania membola, dia tidak menyangka bosnya itu mengetahui banyak hal tentang dirinya.


"Dari mana bos tahu saya di sini?"


"Itu tidak penting."


"Sangat penting untuk saya. Atau jangan jangan, bos ikut andil menjadi dalang dari semua kemalangan yang saya alami?" Rania mulai menaruh curiga ada bosnya itu.


"Punya mulut itu di jaga. Jangan asal bicara." Sekali lagi Rei memukul pelan puncak kepala Rania.


"Saya kebetulan memutuskan pindah ke Bandung dan akan terus menetap untuk selamanya."

__ADS_1


"Kenapa? Lalu bagaimana dengan web novel…"


"Sudah saya serahkan sama seseorang yang ahli di bidangnya."


Rania terdiam. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi pada Bos nya itu. Kedatangan secara tiba tiba saja sudah membuatnya bertanya tanya, tapi tidak dijawab sama sekali.


"Saya akan kembali mengurus galeri seni dan studio foto. Dan saya butuh kamu untuk menjadi Asisten Pribadi saya."


"Bos bercanda!" Rania sedikit tertawa mendengar tawaran Rei yang menurutnya tidak masuk akal.


"SAYA SERIUS."


"REALLY?"


"Yeah. Apakah saya seperti sedang bercanda?"


Sebentar Rania terdiam, dia merasa heran dengan tawaran tiba tiba dari bos yang kedatangannya saja sudah membuatnya kaget dan bertanya tanya. Sekarang malah menawarkan pekerjaan menjadi Asisten pribadi.


"Besok kamu datang ke alamat ini. Saya akan berada di sana dari pukul tujuh pagi hingga pukul lima sore." Memberikan secarik kertas berisi alamat pada Rania.


"Saya tidak akan datang. Maaf bos, saya sudah punya tempat tinggal dan pekerjaan yang layak saat ini. Jadi saya tidak butuh tawaran dari anda bapak bos Reinaldo yang terhormat." Rania menegaskan.


"Aku tunggu kedatanganmu Rania." Rei menjatuhkan secarik kertas itu begitu saja di hadapan Rania. Kemudian dia pun melangkah menjauh meninggalkan Rania yang menatap kepergiannya dengan penuh kecurigaan dan tanda tanya.


"Siapa sebanarnya kamu Reinaldo. Kenapa memaksaku untuk bekerja denganmu?"

__ADS_1


Meski ragu, Rania akhirnya memungut secarik kertas yang berisi alamat galeri dan studio foto seorang Reinaldo Aditama.


__ADS_2