
Saat keluar dari ruangan itu, Rania jadi sangat pendiam dan hanya fokus pada pekerjaannya. Novel itu tergeletak begitu saja diatas mejanya.
"Say, udah waktunya makan siang."
"O ya?" Rania melirik jam di samping kiri bawah komputer yang menunjukkan angka 12.45.
"Kamu dapat novel ini dari mana say?" Tanya Gita saat matanya melihat novel yang sudah tidak di jual lagi di pasaran sejak tiga tahun lalu.
"Bos yang memberikannya. Dia memintaku untuk membaca novel ini, say."
"Bos?"
"Iya. Kamu merasa aneh juga kan, kenapa bos memintaku membaca novel ini."
"Say, kamu tau siapa nama bos baru kita?" Rania menggeleng.
"Reinaldo Aditama alias Rey. A."
Mata Rania membola saat mendengar ucapan Gita, untuk sesaat dia merasa terkejut. Kemudian dia tertawa geli mendengar itu.
"Ada ada saja kamu say." Memegang perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa.
"Loh, kok malah tertawa sih."
"Rey A itu sudah tua, say. Aku yakin sekarang umurnya sudah pertengahan 60 an." Ucapnya yakin.
"Aku juga awalnya mengira Rey A sudah tua saat pertama kali aku membaca novel ini, say. Tapi, kenyataannya memang bos kita adalah Rey. A."
Rania masih belum bisa berhenti tertawa. Akhirnya Gita memperlihatkan penemuannya di google pada Rania agar tawa geli Rania berhenti.
"Seriusly?"
"Mmh."
"Ya ampun. Pantasan dia memintaku membaca novel ini. Dia pasti tahu aku belum pernah sekalipun membaca novel ini." Gumamnya.
"Wah, jadi kamu benaran belum pernah membaca novel sekeren ini, say? Aku kira itu hanya gosip belaka, tapi ternyata benaran kamu belum baca!" Gita merasa tidak percaya, seseorang yang hobi membaca novel dengan genre apapun itu, belum pernah membaca novel sebagus novel DID Rey. A.
"Say, aku rasa bos tahu tentang itu. Jadi, sekarang ayo kita makan dulu, terus kamu harus coba baca deh novel ini."
__ADS_1
"Ok. Yuk lah makan, lapar say."
Merekapun melangkah menuju rumah makan masakan padang di depan gedung kantor mereka.
Sementara itu, di tempat lain Riana juga sedang menikmati makan siangnya bersama teman tim untuk pertama kali di hari pertamanya mulai bekerja.
"Ria, boleh aku bertanya?" Tanya salah satu teman tim yang paling ramah padanya.
"Boleh dong. Mau tanya apa sih?"
"Mmh... kenapa kamu berhenti menjadi model?"
"Simple sih jawabannya. Karena aku bosan." Jawabnya.
"Kamu bosan menjadi model? Wah, padahal kebanyakan gadis gadis ingin menjadi model, dan kamu malah melepaskan itu hanya karena bosan?"
"Iyalah bosan. Jadi model memang menyenangkan. Tapi, setiap kali nggak ada jadwal pemotretan, atau pun jadwal lainnya yang berkaitan dengan permodelan, ya aku akan terus terusan merasa bosan, karena hanya di rumah saja."
"Memangnya kamu nggak suka liburan gitu, ya?"
"Holiday keberbagai tempat wisata indah di Paris atau Negara lain gitu!"
"Iya juga sih. Tapi, memangnya kamu nggak punya someone special?"
Riana menggelang yakin. Dia juga tersenyum malu pada teman barunya itu.
"Iih bohong ya. Nggak mungkin banget deh, kamu nggak punya kekasih!"
"Loh memangnya apa yang membuat tidak mungkin. Apa ada aturannya, seorang model harus wajib punya pacar?"
"Bukannya gitu juga, Ria. Tapi kan, kamu itu cantik, body goels banget lah, idaman para laki laki gitu. Ya aneh aja kan saat mendengarnya tidak punya pacar."
Lagi lagi Riana tersenyum malu. Tidak ada yang salah dari ucapan temannya itu. Tapi, ya nggak mungkin dong dia bilang sudah punya kekasih sementara kekasihnya itu suami saudaranya sendiri.
Hanphonenya berdenting. Ada notif di salah satu obrolan pribadi miliknya.
(My love: Sayang, sudah makan belum?)
(My love: Maaf ya nggak bisa makan bareng.)
__ADS_1
Untuk sesaat Riana mulai merasakan bosan pada kekasihnya itu. Entah mengapa, hubungan yang dijalin secara diam diam yang awalanya menggairahkan hingga membuatnya harus pulang pergi Jakarta ke Paris, demi melepaskan rasa rindunya kini mulai terasa sangat jauh saat benar benar sudah semakin dekat.
Riana semakin ingin menghancurkan rumah tangga saudaranya lebih cepat, agar dia bisa bersama dengan kekasihnya tampa harus sembunyi sembunyi seperti ini.
"Sungguh aku sudah sangat bosan." Gumamnya.
"Mmh, bosan kenapa Ria?"
"Aa nggak kok. Cuma ya aku bosan jadi model." Lanjutnya.
"Ria, kamu tahu nggak penyebab pak Radit nggak masuk hari ini?"
"Nggak, memangnya kenapa?"
"Rumi demam dan sampai dirawat dirumah sakit."
"Masak sih?" Riana tampak sangat khawatir.
"Iya. Katanya, Rumi tiba tiba panas tinggi tadi malam. Jadi langsung di bawa ke rumah sakit. Dan sampai sekarang masih di rumah sakit karena panasnya masih belum turun."
"Mmh kasihan ya." Lirihnya.
"Rencananya nanti sore kita mau jenguk Rumi sebelum pulang. Kamu mau iku…"
"Aku ikut." Riana tampak aneh. Dia menjawab sebelum temannya selesai bertanya.
"Kamu kenapa, Ria?"
"Aku? Memangnya aku kenapa?" Mencoba tersenyum.
"Ya kamu kelihatan cemas gitu? Atau mungkin kamu sakit?"
"Ah nggak kok, aku biasa aja. Cuma ya memang merasa cuacanya panas banget." Kilahnya.
"Mmh, sudah hampir dua minggu nggak turun hujan. Panasnya jadi terasa sangat menyengat akhir akhir ini."
"Kamu pasti sudah nggak biasa dengan cuaca sepanas ini, kan?" Lanjutnya.
Riana mengangguk saja, dia merasa tidak punya tenaga lagi untuk sekedar menjawab pertanyaan temannya itu.
__ADS_1