Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Skenario tahun ke 7


__ADS_3

Pagi ini Dimas tampak terburu buru. Dia bahkan melewatkan sarapan agar segera tiba di kantor lebih awal.


"Ada hal mendesak yang harus diselesaikan pagi ini, sayang. Jadi mas nggak sempat sarapan."


"Kamu sarapan sendiri saja, ya." Mencium kening Rania, lalu dia pun berlalu.


Rania hanya bisa menatap kepergian suaminya yang semakin hari semakin mencurigakan menurutnya.


"Tidak mungkin mas Dimas punya perempuan simpanan, kan? Dia masih tetap mesra padaku kok."


"Meski gerak geriknya agak mencurigakan aku yakin, mas Dimas tidak akan berbuat seperti itu."


"Aku kenal suamiku dengan baik. Aku tidak boleh mencurigainya. Dia adalah lelaki terbaikku." Gumam Rania bicara pada dirinya sendiri.


Sebenarnya kecurigaan Rania bukan tampa alasan. Sejak menjadi menejer keuangan, suaminya memang jadi gila kerja, bahkan kerja dan lembur di akhir pekan. Kecurigaan yang awalnya tidak terlalu dipikirkan oleh Rania, malah semakin menjadi sejak suaminya yang mengatakan rapat dewan direksi keuangan, sementara CEO nya sendiri tidak ikut serta.


Rania tidak sebo doh itu, dia juga tahu apa peranan ceo dalam sebuah perusahaan. Aneh saja rasanya ceo bisa absen dalam rapat penting itu. Begitulah, awal mula kecurigaan Rania pada suami terbaiknya itu.


Suara getar handphone menyadarkan Rania dari lamunannya. Segera diraihnya handphone miliknya dan dilayar itu tertera nama Putri. Rania langsung menggeser tombol hijau untuk mulai pembicaraan dengan sahabatnya.


"Assalamualaikum, Put."


"Aku di rumah aja nggak kemana mana."


"Ke supermarket? Mau…"


"Alisa ikut juga kan?"


"Ya kali aja Alisa dititip sama neneknya."


"Jemput sekarang? Aku belum sarapan, belum beberes rumah, belum mandi juga..."


"Ya mungkin siapnya sekitar jam sepuluhan la."


"Ok ok. Aku yang jemput, siap…"


"Yeeyee… bye, walaikumsalam."


Rania senang karena akan jalan jalan bersama Putri dan Alisa hari ini. Sudah lama sekali dia tidak jalan jalan bersama sahabatnya itu. Sejak Putri melahirkan, baru ini mereka jalan jalan bareng lagi.


Langsung saja Rania membereskan rumahnya, sarapan dan mandi. Setelah siap, tidak lupa Rania pamitan sama suaminya.


"Boleh ya mas!" Merengek melalui panggilan telepon.

__ADS_1


"Iya, tenang saja mas, kan aku jalannya sama Putri dan Alisa juga. Janji nggak sampe malam."


"Makasih suamiku." Senyum bahagia merekah di wajah Rania. Betapa dia bahagia karena suaminya mengizinkan dirinya jalan jalan dan bawa mobil sendiri.


Rania langsung berangkat menjemput Putri di rumahnya. Begitu sampai, ternyata Putri dan Alisa masih belum siap.


"Loh Alisanya baru mau mandi?" Tanya Rania saat melihat Putri baru mau memandikan Alisa.


"Sebenarnya kita udah siap dari satu jam yang lalu. Tapi kelamaan nunggu Anty jemput. Alisanya malah bab, ya terpaksa mandi lagi lah. Kalau cuma ganti pempes, badan Alisa akan tetap berbau babnya." Celoteh Putri agak kesal karena Rania lama sekali.


"Oo gitu toh. Maafkan anty ya sayang." Ikut membantu memandikan Alisa.


"Ee malah senang dimandiin anty."


"Ra tolong ambil handuknya dong."


"Handuk? Oo itu, oke bentar…"


"Ini handuk siapa? Ini handuk Alisa, ya!" Alisa menjawab dengan bahasa bayi.


"Ututuuu… pinter banget Alisanya, ya!"


Alisa tertawa senang. Tawa Alisa membuat Putri dan Rania ikut tertawa bahagia.


Selesai memandikan dan mengganti baju Alisa, Putri pun ikut nerganti baju. Setelah siap barulah mereka berangkat ke supermarket.


"Iya, kenapa?"


"Dia sibuk banget nggak waktu itu kerjaannya."


"Iyalah sibuk, Ra. Banyak banget laporan keuangan yang harus dia periksa dan terkadang menyusun ulang laporan laporan itu juga." Jawab Putri sambil membenarkan sepatu Alisa.


"Kenapa sih? Dimas sibuk banget ya kerjaannya?"


Rania mengangguk. Kemudian, kembali fokus menatap kedepan. Jalanan tampak sepi karena masih jam kantor dan jam pelajaran berlangsung di sekolahan.


"Dia sibuk banget, Put. Bahkan hari minggu pun tetap kerja, lembur lagi."


"Ya mungkin karena memang banyak yang harus di kerjakan kali, Ra. Dimas kan masih baru. Mungkin nanti kalau sudah terbiasa dengan pekerjaannya baru bisa santai lagi."


"Iya sih Ra. Tadinya aku juga berpikirnya begitu. Tapi ini udah bulan ke tiga dia menjadi menejer dan sibuknya malah bertambah bukannya berkurang."


"Aku jadi malah mikir yang aneh aneh deh." Rania menoleh pada Putri yang juga menatap iba padanya.

__ADS_1


"Kadang insting seorang istri itu bisa jadi kenyataan, Ra. Jadi, aku harap kamu jangan memikirkan hal yang aneh aneh deh."


"Kecuali, perhatian Dimas yang mulai berkurang sama kamu."


"Perhatian dan kasih sayangnya sih nggak berkurang, Put. Tapi, ya nggak taulah. Hatiku bawaannya curiga aja setiap hari sama mas Dimas."


Purti membenarkan posisi duduk Alisa. Barulah kemudian dia menepuk pelan punggung sahabatnya untuk sekedar memberikan dukungan dan membuat sahabatnya merasa lebih tenang.


"Mungkin, ini hanya bagian dari skenario tahun ke tujuh pernikahan, Ra."


"Maksudnya?"


"Gini, aku punya dua orang kenalan yang pernah curhat lah sama aku tentang rumah tangga mereka."


"Yang pertama, sejak nikah dia sama suaminya selalu berantem terus. Bahkan sampai memiliki dua anak pun, mereka masih tetap aja berantem nggak tau maslahnya apa. Padahal perekonomian mereka baik baik saja waktu itu."


"Nah setelah masuk ke tahun ke tujuh pernikahan mereka, si anak bungsu sakit kangker otak. Saat itulah mereka akhirnya menyadari mungkin karena keseringan berkengkar, mereka malah mengesampingkan urusan anak anak mereka."


"Lalu, akhirnya mereka memutuskan untuk berdamai dan mencoba kembali saling mencintai satu sama lain. Nah setelah itu, keajaibannya kangker si anak sembuh. Dan setelah itu hubungan mereka harmonis kembali."


"Kalau yang satunya?" Tanya Rania penasaran.


"Yang satunya, mirip dengan kisah kamu dan Dimas. Tapi, bedanya mereka sudah punya anak."


"Sejak menikah mereka baik baik saja, perekonomian baik dan di tahun ke dua pernikahan, mereka memiliki anak."


"Lalu, saat memasuki tahun ke tujuh, suaminya serakah, dia menginvestasikan uangnya ratusan juta untuk membangun proyek besar katanya, tapi ternyata dia di tipu."


"Dan mereka jadi miskin, lalu si istri minta diceraikan."


"Menyedihkan." Ujar Rania.


"Jadi, setelah beberapa tahun kemudian, aku bertemu mereka lagi dan mereka mengatakan, bahwa beratnya mempertahan rumah tangga itu di tahun ke tujuh. Dan siapa yang mampu bertahan, maka mereka akan bisa dengan mudah mengatasi masalah ditahun tahun berikutnya."


"Itu menurut mereka." Lanjut Putri.


"Tapi benar deh kayaknya Put. Kalau dipikir pikir, aku sama mas Dimas baik baik saja selama enam tahun belakangan. Tapi, di tahun ketujuh mas Dimas diangkat jadi menejer keuangan. Harusnya hidup kita tambah bahagiakan?"


"Harusnya begitu." Sahut Putri.


"Tapi, bukannya bahagia, aku malah merasa seakan suamiku sibuk sendiri dan aku sibuk sendiri dengan pikiran pikiran aneh ini."


"Berarti, kamu harus bisa melawan pikiran anehmu itu demi mempertahankan rumah tangga kalian. Dan kalau bisa bicaralah dari hati ke hati, agar Dimas juga memiliki waktu libur untuk bisa dihabiskan bersama kamu." Putri menyarankan.

__ADS_1


"Harusnya begitu, Put. Aku akan mencoba bicara sama mas Dimas."


Putri kembali mengelus punggung sahabatnya itu. Sementara Rania mencoba tetap fokus mengemudikan mobil, karena sebentar lagi mereka akan sampai di tujuan.


__ADS_2