Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Curiga!


__ADS_3

Hari ini Rania kembali berkerja membantu mbak Dila seperti biasa. Dia mencoba untuk tidak memperdulikan tawaran dari Rei untuk menjadi Asistennya. Tapi, meski begitu matanya terus melirik jarum jam dan kerjanya sedikit berantakan dari biasanya.


"Dek, kenapa?" Tanya Dila saat melihat Rania yang tidak fokus.


"Mbak…"


"Dek Nia kenapa? Kok nggak fokus gitu? Kamu sakit?" Dila mendekat dan memeriksa suhu tubuh Rania.


"Nia sehat kok mbak. Hanya saja…"


"Hanya saja apa?"


"Boleh Nia pergi sebentar?" Ucapnya.


Dila tidak langsung menjawab, dia memilih untuk menatap dalam dalam kedua bola mata Rania.


"Pergi sebentar untuk kembali lagi?" Tanya Dila.


"Iya mbak. Nia pergi menemui teman sebentar, Nia janji akan cepat kembali."


Dila tersenyum, melihat wajah bermohon Rania membuatnya merasa Rania benar benar pengganti almarhumah adik kandungnya.


"Ya sudah pergi sana. Tapi harus janji segera kembali setelah urusanmu selesai dengan temanmu itu."


"Siap mbak. Nia janji akan segera kembali."


Setelah mendapat izin, tepat pukul tiga sore dimana sudah tidak terlalu ramai pelanggan yang datang untuk makan, Rania pun langsung bergegas menuju alamat yang tertera di secarik kertas pemberian Rei tadi malam.

__ADS_1


Rania naik angkot dan memperlihatkan alamat yang akan di tujunya.


"Waduh, ini alamatnya jauh neng. Butuh waktu satu jam untuk sampai kalau naik angkot." Ucap sopir angkot yang membuat Rania bingung.


"Biasanya kalau kesana orang orang naik taksi atau go jek. Lebih cepat nyampe. Cuma ya kalau taksi agak jarang lewat sini sih kalau sore."


"Tapi ada kan pak ya taksinya?"


"Ada kok neng, kalau mau sabar menunggu."


"O gitu ya, pak."


"Iya neng. Maaf ya, bapak nggak bisa ngantar. Rutenya kejauhan kalau kesana."


"Nggak apa apa, pak. Makasih." Rania turun dari angkot.


Terpaksa Rania menunggu taksi datang. Mau naik go jek, dia tidak punya aplikasinya.


"Taksi!" Akhirnya ada taksi yang lewat.


"Pak antar saya ke alamat ini." Memberikan secarik kertas pemberian Rei.


"Baik neng."


Sopir taksi pun langsung melajukan mobilnya menuju alamat yang diberitahukan Rania.


"Neng kenal sama pemilik alamat ini?" Tanya supir taksi itu.

__ADS_1


"Iya, pak. Dia mantan bos saya saat saya berkerja di Jakarta." Jawab Rania.


"O gitu. Saya kira neng ini kekasihnya mas Rei."


Ucapan sopir taksi itu membuat Rania bingung sekaligus heran, karena sopir taksi itu bisa tau nama Rei.


"Saya dulu mantan sopir pribadinya mas Rei saat mas Rei masih di Bandung. Kemudian tiba tiba mas Rei pindah ke jakarta, dan saya memilih menjadi sopir taksi." Lanjutnya menjelaskan.


Rania mengangguk paham. Kini dia merasa nyaman dan aman berada di taksi ini. Karena Rania yakin akan di antar ke alamat yang benar oleh sopir taksi ini.


"Apa neng kenal juga sama mas Radit?"


"Maksud bapak, pak Radit pengusaha itu?" Tanya Rania kurang yakin.


"Iya neng. Mas Radit yang istrinya meninggal setelah melahirkan bayinya."


"Kok bapak kenal pak Radit?" Rania makin heran.


"Ya tentu kenal dong neng. Mas Radit itu kan kakak kandungnya mas Rei."


"Kakak kandung?" Ulang Rania ragu dan merasa tidak percaya.


"Iya neng. Masak neng nggak tahu sih. Katanya mas Rei mantan bosnya."


Rania terdiam. Dia tidak lagi mendengarkan ocehan sopir taksi itu.


"Kenapa aku tidak tahu kalau pak Radit sama bos saudaraan, ya?" Batinnya.

__ADS_1


"Aah, begitu banyak hal yang tidak aku ketahui tentang orang orang yang aku kenal. Sama halnya seperti Riana, aku tidak tahu tentang dia padahal dia kembaranku. Dimas, si bajingan itu, juga aku tidak mengenalnya. Lalu, pak Radit dan Rei pun... Apakah Putri juga memiliki hal yang tidak aku ketahui tentangnya atau hal yang sengaja dia sembunyikan dariku?" Rania terus bicara dengan pikirannya.


"Dan sekarang, apa yang akan terjadi padaku? Apa yang diinginkan Rei dariku, hingga dia seniat ini mencoba menemukan aku dan memintaku menemuinya?" Batin Rania yang mulai menaruh curiga pada orang orang yang berkaitan dengan masa lalunya.


__ADS_2