Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Flashback part 2


__ADS_3

Saat Riana pingsan, Rania memakai pakaian Riana dan siap beracting menjadi Riana. Dia juga memakaian pakaiannya pada Riana dan memindahkan tubuh tak sadarkan diri itu ke tempat tidur.


Setelah sore, kedua orangtuanya pulang. Rania yang sudah menjadi Riana menyambut kedatangan ayah ibu nya dengan wajah sedih.


"Sayang, kamu kenapa?" Ibu nya memeluk khawatir.


"Rania, bu. Rania pingsan di kamarku." Ucapnya polos.


Mendengar apa yang dikatakan putri mereka, pasangan suami istri itu saling menatap sebentar.


"Sayang, kamu Rania nak?" Ibu nya berjongkok memegang kedua bahu putrinya.


"Aku Riana, bu."


"Kamu Riana?" Tanya Ayahnya yang juga ikut berjongkok.


"Iya Ayah, ibu… aku Riana. Kenapa kalian ragu?"


"Lalu mana Rania?"


"Rania pingsan di kamarku."


Segera mereka melangkah menuju kamar Riana dan benar saja putri mereka itu tidak sadarkan diri. Tapi hanya sebentar, kemudian dia terbangun dan meraung raung histeris mengatakan bahwa dia adalah Riana.


Kedua orangtua mereka heran. Mereka yakin, Riana lah yang saat ini sedang meraung histeris itu. Tapi, Rania malah mengaku dialah Riana.

__ADS_1


"Rania sayang, maafkan ibu nak. Maafkan ibu." Dia memeluk erat tubuh lelah Riana yang meraung raung.


"Rania, kamu jangan sedih ya. Kalau kamu mau menjadi Riana aku tidak apa apa kok. Lagi pula kita punya wajah yang sama, mau bertukar namapun kita tetap sama." Ucap Rania dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh Riana. Tatapan itu menegaskan agar Riana mengingat lagi ancaman dari saudara kembarnya itu sebelum dia jatuh pingsan.


"Ibu, ayah… Rania minta maaf. Rania janji akan menjadi anak yang baik mulai sekarang." Ujar Riana pada akhirnya menerima dirinya menjadi Rania seperti yang diinginkan saudaranya.


Ayah dan Ibu memeluk erat kedua putrinya. Mereka tahu, kini Rania dan Riana bertukar nama. Mereka merasa bersalah, karena kurang memperhatikan putri putri mereka, sehingga terjadilah masalah seperti ini.


Sejak kejadian itu, Rania dan Riana benar benar membiasakan diri mereka mengambil peran masing masing. Tapi, Riana yang berperan sebagai Rania, tidak seutuhnya menjadi Rania. Dia tetap menjadi dirinya yang selau ramah, baik dan juga pintar. Hanya saja, dia memilih untuk menjadi pendiam dan tidak suka berteman. Sementara Rania yang berperan sebagai Riana sangat menikmati perannya. Dia memiliki banyak teman, menjadi lebih ceria, disukai banyak orang dan juga lebih dekat dengan kedua orangtuanya.


Beberapa tahun berlalu, kini kedua saudara kembar itu telah remaja. Hari ini merupakan hari ulang tahun mereka. Ayah membelikan satu kalung berliontin 'R' yang diberikannya pada Rania, karena dia tahu Rania itu adalah Riana. Ayah memberikannya untuk menghibur putrinya yang dia pikir sangat tertekan karena harus berperan sebagai saudaranya.


"Ayah, apakah kalung ini benaran untukku?"


"Iya sayang. Hadiah untuk kamu." Menatap wajah putrinya dengan perasaan bersalah.


"Riana!" Teriak Ayahnya kaget melihat perlakuan Riana merebut kalung dari Rania.


"Aku yang menginginkan kalung ini, Ayah. Mengapa Ayah malah memberikannya untuk Rania?" Teriaknya penuh rasa benci.


"Riana, Ayah tahu kamu juga menginginkan kalung itu. Tapi, ayah hanya baru bisa membeli satu kalung. Ayah janji, tahun depan akan membelikan kalung yang sama untukmu, nak." Mendekati Riana, dipeluknya erat tubuh putrinya yang sedang tersulut amarah itu.


"Ayah tidak adil. Tidak pernah sekalipun ayah adil padaku. Aku tahu, Ayah tahu aku bukan Riana..." Melepaskan diri dari pelukan sang ayah.


"Ayah juga harus tahu alasanku ingin menjadi Riana. Itu karena kalian selalu menyayangi Riana. Aku pikir setelah menjadi Riana, kalian akan menyayangiku, tapi ternyata kalian tetap saja hanya menyayangi dia…" Menunjuk kearah Rania yang menangis melihat keadaan ayahnya yang saat itu terduduk memegangi dadanya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Maafkan ayah, nak. Ayah minta maaf…" Tangannya hendak meraih tangan Riana, tapi ditepis oleh Riana.


"Aku benci ayah. Aku harap tidak memiliki ayah sepertimu." Mendorong dengan kakinya tubuh ayahnya yang berlutut itu hingga tubuh renta itu terpental kuat ke tanah dan mengalami kejang hebat.


"Ayah!" Rania berlari mengahampiri Ayahnya.


"Riana tolong panggil ibu. Ayah kesakitan, tolong…" Rania memohon sambil memangku kepala ayahnya yang terus bergerak karena kejang.


Riana tersenyum senang menyaksikan penderitaan sang ayah. 'Aku harap ayah pergi ke neraka hari ini juga. Dasar ayah tidak bisa bersikap adil.' Kutuknya dalam hati.


Tidak lama setelah itu, ayahnya benar benar menghembuskan napas terakhirnya dalam pangkuan Rania.


"Ayah…" Rania menangis histeris. Tangisan itu di dengar oleh ibu. Dengan segera ibu menghampiri kedua putri dan suaminya.


Betapa hancur hatinya saat melihat senyum dibibir Riana menatap ayahnya yang sudah tidak bernyawa dalam pangkuan Rania yang menangis histeris.


"Riana sayang, ada apa nak?" Ibu memeluk Riana.


"Rania membuat Ayah seperti itu bu." Jawabnya menimpakan kesalahan pada Rania.


Air mata ibu menetes melihat Rania dan suaminya. Tapi, dia harus memeluk Riana, dan berakting bahwa dia percaya apa yang dikatakan Riana untuk melindungi Rania.


'Maafkan ibu nak. Inilah yang bisa ibu lakukan untuk menyelamatkanmu dari saudaramu ini. Sungguh maafkan ibu.' Batinnya.


Sejak hari itu, ibu sakit sakitan tapi, menutupinya dari Riana, dia juga menjadi sangat meyayangi Riana dan mengabaikan Rania. Tapi, Rania tetap memberikan perawatan dan perhatian yang baik untuk ibu. Sementara Riana malah memanfaatkan kasih sayang ibunya untuk mewujudkan segala apa yang diinginkannya.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2