Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Pembantu?


__ADS_3

Taksi yang membawa Rania berhenti tepat di depan rumah yang mewah tapi tidak semewah dan megah rumah Radit. Rania yakin rumah ini adalah kediaman Rei. Ia turun setelah membayar. Taksi itu pun melanjutkan perjalanannya meninggalkan Rania yang tampak bingung di depan gerbang rumah Rei.


Sementara itu, di dalam rumah rupanya Rei mengetahui kedatangan Rania. Dia pun langsung bergegas menjemput Rania yang berdiri kebingungan di depan rumahnya.


"Rania!"


Rei berteriak setelah keluar dari rumahnya. Rania menoleh kearahnya tapi tidak bisa melihat dengan jelas karena terhalang pagar.


"Kenapa baru datang sekarang? Saya sudah menunggu sejak tadi." Rutuk Rei sambil membukakan pintu pagar.


"Seharusnya saya tidak usah datang saja..." Gumam Rania dalam hati saat melihat senyuman Rei yang tampak menakutkan menurutnya.


"Ayok masuk. Tunggu apa lagi!" Seru Rei.


Rania pun melangkah mengekor di belakang Rei.


"Apa kamu sudah makan?" Tanya Rei yang membuat Rania semakin bingung.


"Sudah, boss." Jawabnya singkat.


"Tapi saya belum makan loh."


Rania menaikkan alisnya, ia merasa boss nya itu bertingkah aneh.


"Ya kalau belum makan, boss bisa makan dulu, kan?" Ujar Rania menahan rasa kesal.


"Sayangnya tidak ada yang bisa saya makan."

__ADS_1


Rei menatap Rania dengan tatapan mengintimidasi.


"Boss bisa membeli makanan atau suruh saja pembantu boss memasak sesuatu gitu!"


"Nah itu dia. Pembantu saya baru datang sesore ini." Tatapan Rei semakin lekat pada Rania.


Sebentar Rania mencoba mencerna kemana arah pembicaraan itu.


"Maksud boss saya!" Ujar Rania sambil menunjuk wajahnya sendiri.


Rei mengangguk sambil memasang wajah kesal. Lalu dia langsung melangkah masuk ke rumahnya.


"Cepat Rania. Saya sudah sangat kelaparan!" Teriak Rey dari depan pintu rumahnya.


"Apa dia sudah gila! Dia meminta aku datang jauh jauh ke sini hanya untuk menjadi pembantunya..." Rutuk Rania kesal.


"Iya boss!"


Mau tidak mau Rania melangkah mengikuti Rei. Ia terus mendumel kesal karena dianggap pembantu oleh Rei. Ia juga menyesali keputusannya untuk datang menemui Rei.


Rei membawa Rania menuju dapur. Ia benar benar meminta Rania untuk memasakkan sesuatu untuknya.


"Semua bahan makanan ada dalam kulkas. Kamu bisa memasak apapun yang penting enak."


Rania hanya diam sambil menatap kulkas dua pintu yang mirip dengan kulkas yang dulu ada di rumahnya bersama Dimas.


"Ingat... harus ENAK." Ulang Rei.

__ADS_1


Merasa Rania tidak merespon ucapannya, ia pun mendekati Rania.


"Apa saya bicara dengan patung?" Bisik Rei di telinga Rania.


Rania menghela napas. "Baik boss. Akan saya masakkan sesuatu yang sangat enak dan lezat untuk anda."


Rei tersenyum senang. Sungguh senyumnya sangat manis, andai Rania melihat senyum itu.


"Saya mau mandi dulu. Kamu silahkan mulai memasak. Karena setelah selesai mandi, saya akan langsung makan."


"Iya tuan Rei yang terhormat!" Rania menatap dengan tatapan penuh rasa kesal dan amarah, tapi bibirnya tersenyum lebar.


Rei pun pergi meninggalkan Rania di dapurnya sendirian, tanpa mengetahui hati Rania terluka hanya karena menatap kulkas yang sama persis dengan kulkasnya yang dulu. Kulkas itu mengingatkannya pada Dimas dan semua perlakuan kejam Dimas padanya.


"Harusnya aku berhenti mengingat ba jingan itu." Gumamnya.


Sebentar Rania mengatur napasnya, lalu ia pun melangkah mendekati kulkas itu dan membukanya.


"Boss..." Teriak Rania murka.


Kulkas itu kosong. Tidak ada apa apa disana yang bisa di masak. Hanya ada secarik kertas yang bertuliskan...


..."***Belilah bahan makanan untuk mengisi kulkas...


... yang kosong ini***!" ...


Mendengar teriakan Rania membuat Rei tersenyum senang. Ia merasa senang mendengar Rania yang mengekpresikan amarahnya. Tidak seperti dulu, selalu mencoba menahan amarah dan sangat berusaha menahan emosi.

__ADS_1


"Aku akan mengajarkan cara hidup baru padamu Rania." Ujarnya penuh percaya diri.


__ADS_2