
Sebelum pergi rapat bersama dewan direksi, Dimas menyempatkan diri mengantar Rania ke kediaman Putri.
"Mas nggak mau masuk dulu, bentaran aja." Ajak Rania saat tiba di depan rumah sahabatnya.
"Tidak bisa sayang. Mas harus segera berangkat, takutnya telat."
"Ya sudah, hati hati di jalan." Mencium punggung tangan suaminya dan dibalas ciuman dikeningnya.
"Bye sayang." Dimas melajukan mobilnya meninggalkan Rania yang masih menatap hingga bayangan mobil itu tidak lagi tampak.
"Ceilaaahhhh yang nggak mau berpisah seharipun dengan pak suami tercinta." Putri menyapa sambil menggoda Rania.
"Iiiihh, apan sih."
Rania tampak malu.
"Apa ada masalah?" Tanya Putri. Dia merasa wajah Rania tampak beda dari biasanya.
"Entahlah, Put. Rasanya hari ini aku takut kehilangan mas Dimas."
"Memangnya Dimas mau kemana?"
"Nggak kemana mana sih. Tapi ya itu naluri seorang istri bawaannya takut kehingan saat suaminya pergi tampa ditemani si istri." Gumamnya.
"Jadi ceritanya mau ikut Dimas rapat sama dewan direksi..." Putri berucap dengan nada mengejek.
"Iiih, entah lah. Yuk ah masuk, mau ketemu Alisa."
Rania melangkah masuk lebih dulu, Putri menatap langkah sahabatnya itu dengan tatapan khawatir.
Begitu tiba di dalam, sudah banyak teman teman Putri dan suaminya juga. Keluarga mereka juga tentunya hadir. Tapi, diantara banyaknya tamu tamu itu, ada wajah yang tampak tidak asing dimatanya.
"Itu Radit, suami saudara jauh suamiku."
"Maksudnya?" Rania bingung.
__ADS_1
"Itu loh yang aku pernah cerita sama kamu, sebelum aku lahiran, mas Gilang harus pergi takziah kerumah saudaranya yang meninggal setelah melahirkan itu."
"Ingat nggak?"
Rania mengangguk. Iya dia ingat cerita itu, karena saat menceritakan itu Putri bahkan beramanat jika dia mengalami hal yang sama, meninggal setelah melahirkan, dia mau Rania yang mengasuh bayinya.
"Tapi, dia CEO di perusahaan tempat mas Dimas kerja." Bisik Rania. Mata Putri membola, dia bahkan menutup mulutnya agar tidak berteriak kaget.
"Masak Sih? Dia benaran CEO?"
Rania mengangguk yakin.
"Eh, tapi kok dia nggak ikut rapat?" Kalimat yang keluar dari mulut Putri membuat hatinya berkecamuk.
"Mungkin bukan bidangnya. Kan mas Dimas bilang dewan direksi keuangan." Gumamnya untuk sekedar menenangkan hatinya yang mulai berprasangka.
"Ya sudahlah ya. Yuk lah kita mulai acaranya." Ajak Putri.
Acara pun dimulai. Mc yang merupakan sahabat suaminya, memulai acara. Dimulai dari sepatah dua patah kata yang wajib disampaikan oleh kedua orangtua. Lalu acara berlanjut dengan nyanyian lagu ulang tahun dan pemotongan kue.
Saat acara selesai, Alisa pun tertidur pulas. Tapi, ada satu bayi yang sejak acara dimulai tidur anteng, malah terbangun saat acara selesai. Dia adalah Rumi Anindita putri Radit.
"Sayang, udah bangun ya?" Putri mengambil alih Rumi dari Radit. Karena Rumi menangis tidak bisa ditenangkan.
"Susunya mana?" Tanya Putri pada Radit.
"Ini…" Radit memberikan botol dot berisi penuh air susu. Wajahnya tampak khawatir dan tidak enak karena merepotkan Putri dan Gilang.
"Saya jadi merepotkan kalian lagi." Ujarnya.
"Santai aja, Dit. Lagian, Rumi kan juga keponakan kami." Ucap Gilang.
"Iya loh mas Radit nggak usah merasa tidak enakkan gitu. Aku senang kok bisa bantu merawat Rumi."
"Entahlah, saya selalu merasa tidak enak saat harus merepotkan orang lain karena sebelumnya saya tidak suka begitu. Tapi, sejak ada Rumi, saya terpaksa harus menerima banyak bantuan dari orang orang untuk menenangkan Rumi." Jelasnya.
__ADS_1
Rumi masih terus menangis dalam gendongan Putri. Meski sudah di kasih susu tetap saja Rumi menangis. Melihat itu, Rania yang tadinya sibuk dengan pikiran buruknya tentang suaminya, malah merasa iba mendengar tangisan bayi yang tidak kunjung usai.
"Put boleh aku coba menggendongnya?" Tanya Rania.
"Nggak usah, say. Rumi sangat sensitif pada orang yang masih asing baginya. Bisa bisa tangisnya makin jadi." Tolak Putri.
"Kalau tidak merasa kerepotan, boleh kok dia menggendong Rumi. Soalnya Rumi pernah digendong sama dia dan Rumi berhenti menangis." Imbuh Radit yang membuat bola mata Gilang dan Putri menatap bergantian pada Rania dan Radit.
"Jangan salah paham, saya kenal suaminya. Dan mereka pernah membantu saya mendiamkan Rumi saat saya sedang kerepotan." Radit langsung menjelaskan.
Putri dan Gilang menghela napas lega. Kemudian Putri langsung memberikan Rumi pada Rania.
"Sayang... cup cup, kenapa nangis?" Menggendong Rumi seperti saat dia selalu menggendong Alisa. Di elusnya pelan punggung Rumi dan Rumi pun berhenti menangis.
"Kita ketemu lagi..." Rania menenangkan Rumi seakan Rumi adalah bayinnya. Gilang dan Purti saling bertatapan tidak percaya Rumi bisa diam saat digendong Rania. Padahal, Rumi masih akan terus menangis saat digendong neneknya sekalipun.
"Terimakasih sekali lagi, Rania."
"Saya senang bisa membantu, pak Radit."
Lagi lagi Putri dan Gilang hanya bisa saling senggol menyenggol saat mendengar cara Rania dan Radit bicara.
"O iya, apa pak Radit tidak ikut rapat dengan dewan direksi keuangan demi menghadiri acara ulang tahun Alisa?" Tanya Rania yang masih terus penasaran sama suaminya.
"Rapat dewan direksi keuangan?" Radit tampak bingung.
"Iya. Suami saya ikut rapat hari ini, makanya dia tidak bisa hadir di sini."
Radit terdiam sejenak, kemudian dia menatap pada Putri dan Gilang yang memberi kode agar Radit jangan mengatakan apa apa.
"Oh, iya. Saya izin tidak ikut rapat, karena ini hari minggu dan saya mau menghabiskan waktu bersama Putri saya."
"Enak ya jadi bos. Bisa izin nggak ikut rapat. Sedangkan suami saya, malah jadi tambah sibuk dan harus kerja di akhir pekan semenjak diangkat menjadi menejer keuangan." Sindirnya.
Putri memohon agar Radit tidak menjawab. Dia memberi isyarat dengan kode mengunci mulutnya. Radit mengangguk paham dan tidak memberikan jawaban apapun dari sindiran Rania barusan.
__ADS_1