
Mobil Dimas tiba di depan gedung kantor tepat sebelum Rania masuk ke taxi.
"Sayang, maaf ya mas terlambat." Menarik tangan Rania yang hendak membuka pintu mobil taxi.
"Maaf pak nggak jadi." Dimas meminta sopir taxi itu pergi.
Rania hanya diam. Hatinya sakit karena mengira Dimas tidak akan menjemputnya lagi kali ini.
"Sayang, mas minta maaf ya!" Membukakan pintu mobil untuk Rania.
"Mas kemana memangnya? Tadi bilangnya langsung jalan ke sini. Tapi kok lama, hampir dua jam loh mas aku nunggu." Rutuknya kesal.
Rania masuk ke mobil, memasang sabuk pengaman sendiri dan duduk diam tampa memperdulikan Dimas yang terus menjelaskan berbagai alasan yang jelas dibuat buat.
"Gimana kalau kita makan dulu. Makan di resto yang waktu sayang ulang tahun itu loh." Bujuknya.
"Aku capek mas, aku mau pulang."
"Kenapa sayang mau naik taxi, kenapa nggak pulang bawa mobil sayang sendiri?"
Sungguh pertanyaan bodoh yang semakin membuat Rania kesal.
"Mas kira aku hanya membuat buat alasan supaya dijemput? Gitu."
"Bukan gitu sayang. Kenapa masih marah juga sih, kan mas hanya bertanya."
"Tanganku, bahuku, kakiku, punggugku sakit semua mas. Aku tidak mau menyetir sendiri, aku lelah." Ucap Rania hampir berteriak.
__ADS_1
"Udah tau capek, kenapa pake acara mau kerja segala. Memangnya uang mas nggak cukup apa untuk kebutuhan kamu sehari hari?" Kini Dimas juga kesal pada Rania yang menurutnya terlalu berlebihan.
Rania terdiam, kali ini memang salahnya. Karena terlalu lelah dan malas bedebat, akhirnya Rania pun tertidur lelap. Bahkan sampai di rumah pun Rania masih terlelap, hingga terpaksa Dimas menggendongnya.
Saat Rania berada dalam gendongannya, perasaan iba memenuhi relung hatinya.
"Maafkan aku Rania. Aku sangat ingin mempertahankan rumah tangga ini, tapi aku terlalu dalam mencintai Riana. Aku pengecut, aku tidak bisa meninggalkan Riana." Batinnya.
Dengan sangat hati hati Dimas meletakkan tubuh Rania di atas tempat tidur agar Rania tidak terbangun. Setelah melepaskan sepatu dan jilbab Rania, Dimas mengelap leher, tangan dan kaki Rania dengan handuk basah.
Setah selesai melakukan itu Dimas menyelimuti tubuh Rania, lalu mematikan lampu. Kemudian, Dimas meninggalkan Rania sendirian di kamar.
Air mata menetes disudut ujung matanya. Rania tidak benar benar tidur. Dia hanya ingin tahu apa yang dilakukan Dimas saat dia tidur dalam keadaan baru pulang kerja.
Dimas sungguh suami idaman yang tidak ingin dilepaskannya. Tapi, untuk mempertahankan Dimas rasanya sungguh sulit.
Sementara itu, di rumahnya Rei merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sekilas dia teringat pada Rania.
"Apakah dia sudah pulang, atau masih menunggu suami ba ji ng an nya itu." Gumamnya penasaran.
"Kenapa aku jadi memikirkan urusan yang tidak penting sih. Harusnya aku berpikir, bagaimana caranya agar Riana menjauh dari kak Radit. Riana hanya wanita peng go da. Aku khawatir dia akan merayu kak Radit."
Rei mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Kak Radit terlalu baik. Dia akan dengan mudah ter rayu oleh wanita seperti Riana."
"Aku harus menyusun rencana agar Riana menjauh dari kak Radit dan Rumi." Rei bangkit dari tempat tidurnya.
Dia menghubungi salah seorang kenalannya yang berprofesi sebagai seorang detektif handal.
__ADS_1
"Aku sudah mengirimkan foto. Bisakah kamu membantuku menyelidiki latar belakang wanita di foto itu?"
"Iya, semuanya yang berkaitan dengan wanita itu. Aku curiga ada sesuatu yang aneh tentangnya."
Sementara, Rei meminta temannya menyelidiki siapa Riana sebenarnya. Riana sendiri sedang menatap wajah mungil Rumi yang mengingatkannya pada foto masa kecilnya.
"Maafkan mama sayang. Mama terpaksa melakukan ini untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untukmu." Riana bicara pada Rumi.
"Mama janji, nak. Kita akan hidup bersama selamanya. Mama akan menjadikan papa Radit sebagai suami mama." Mencium wajah mungil yang terlelap nyaman.
"Tunggu sebentar lagi ya nak. Mama harus menyingkirkan orang orang yang tidak penting. Mereka mungkin akan mengahalangi kebahagiaan kita di masa depan."
Riana berbaring di samping Rumi yang merupakan anak kandungnya. Hanya dia satu satunya yang tahu tentang itu. Riana sudah menyingkirkan orang orang yang mengetahui tentang hubungannya dengan putri kecilnya itu.
Riana dan mantan istri Radit bersahabat sejak lama. Istri Radit seorang wanita yang tidak memiliki rahim. Tapi dia tidak pernah mengatakan itu pada Radit karena takut diceraikan oleh Radit.
Sungguh kebetulan saat itu Riana sedang mengandung tiga pekan. Riana melakukan itu dengan seorang pria beristri. Pria itu mencampakkan Riana saat tahu Riana hamil.
Saat istri Radit dan Riana bertemu, mereka menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi. Riana pun menyarankan agar istri Radit berpura pura hamil. Nanti saat Riana melahirkan, dia akan memberikan bayinya pada istri Radit.
Kesepakatan terjadi. Radit dibohongi oleh istrinya yang dia kira benar benar hamil. Kemudian, saat Riana melahirkan, mereka berdua menyewa seorang dokter untuk menjadikan bayi Riana menjadi bayi istri Radit.
Tapi, Riana tidak mau menyerahkan bayinya. Dia mulai terobsesi untuk mendapatkan Radit juga. Sehingga Riana membayar dokter itu untuk membuat seakan akan istri Radit meninggal setelah melahirkan.
Riana sungguh kejam. Setelah istri Radit dipastikan meninggal, Riana membayar pembu nu h bayaran untuk membu nuh dokter itu. Sehingga tidak ada satupun yang tahu tentang itu.
Sedangkan Dimas hanya boneka, istilahnya Riana menjadikan Dimas sebagai batu loncatan untuk mendekati Radit. Dan kini dia berhasil menjadi pengasuh bayinya sendiri di rumah Radit. Sungguh li ci k wanita itu.
__ADS_1