Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Dimana Rania?


__ADS_3

Dua bulan berlalu. Putri tidak bisa menemukan keberadaan Rania sama sekali setelah bulan lalu mendapat kabar bahwa Rania sudah bercerai dengan Dimas. Putri bahkan mendesak Dimas agar memberitahunya dimana sahabatnya itu saat ini. Tapi, Dimas malah memperlihatkan foto foto Rania sedang melakukan hal aneh bersama pria lain.


"Tidak mungkin. Ini pasti bohong Dim. Aku yakin Rania di jebak." Teriak Putri pada Dimas.


"Awalnya aku juga mengira ini hanya foto jebakan dan editan. Tapi ternyata ini foto asli, Put."


"Bisa saja ini Riana. Dia sengaja melakukan ini untuk membuat kamu meninggalkan Rania, Dim."


"Lihat tanggal di foto ini, Put. Saat foto ini diambil, Riana sedang bekerja di rumah pak Radit, mengasuh putri pak Radit, Rumi."


Putri terdiam saat melihat tanggal yang tertera di samping kanan foto itu. Dia juga masih ingat, hari itu dia melihat Rumi bermain bersama Riana, karena hari itu adalah hari peringatan atas meninggalnya papa mertuanya Radit.


"Lalu dimana Rania? Aku yakin dia hanya dijebak. Rania tidak mungkin melakukan hal semenji ji kkan ini." Putri terduduk di lantai sambil menangis. Dia sangat mengkhawatirkan Rania.


"Dim, kamu yakin tidak tahu keberadaan Rania?" Kali ini Gilang yang bertanya.

__ADS_1


"Sumpah, aku tidak tahu. Aku juga bingung saat pengadilan memanggil dan mengatakan Rania menggugat cerai. Kalian pikir aku baik baik saja saat ini?" Dimas beracting seakan dia sangat terpukul karena bercerai dengan Rania tanpa bisa melihat Rania untuk kali terakhirnya.


"Sayang, bangun…" Gilang membantu Putri untuk berdiri.


"Kita akan mencari Rania sampai ketemu. Mas janji akan menemukan Rania."


"Kasihan Rania, mas. Aku takut terjadi apa apa padanya."


"Kita berdoa saja, semoga Rania baik baik saja dimanapun dia saat ini." Gilang memapah Putri menuju mobil mereka dan segera meninggalkan perkarangan rumah itu.


Dimas menatap kepergian Gilang dan Putri dengan perasaan menyesal. Tapi, Dimas benar benar tidak tahu keberadaan Rania setelah hari itu. Riana tidak mau memberitahunya sama sekali. Yang jelas, Dimas yakin Rania masih hidup di suatu tempat, karena Riana mengatakan tidak akan membunuh Rania. Dia hanya ingin Rania merasakan kesensaraan seumur hidupnya.


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Dokter pada suster yang mengganti tabung infus.


"Kondisi pasien stabil, Dok. Pagi tadi saya bahkan melihat ibu jarinya bergerak." Ungkapnya.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya dok."


"Mengapa kamu tidak memberi tahu saya?" Memeriksa denyut nadi pasiennya. Saat itu juga, mata pasien berkedip pelan.


"Pasiennya sadar!" Dokter langsung memeriksa keadaanya dan semuanya normal.


"Mbak, apa mbak melihat tangan saya? Jika melihat berkediplah." Rania mengedipkan matanya sekali.


Dokter merasa bahagia. Dia berhasil menyelamatkan pasien yang hampir membuatnya menyerah dua bulan lalu.


"Bayi saya…" Rania menggerakkan tangganya membawanya perlahan untuk menyentuh perutnya. Dokter tidak mengerti apa yang diucapkan Rania, tapi saat tangan Rania menyentuh perutnya barulah dokter mengerti.


"Dengan sangat menyesal kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda, mbak." Ucap dokter sambil menundukkan kepala pertanda menyesal.

__ADS_1


Air mata Rania menetes di ujung matanya. Dia tidak menyangka akan kehilangan bayi yang sangat di harapkannya untuk menemani hari harinya yang akan terus berlanjut dengan berbagai cobaan dan ujian yang jauh lebih berat dari sebelumnya.


Dokter mendengar temannya mengatakan Rania keguguran. Hanya itu yang diketahuinya dan dia meminta maaf pada Rania untuk temannya yang tidak bisa menyelematkan bayi Rania. Dokter dan Suster di rumah sakit ini tidak ada satupun yang tahu siapa nama Rania. Karena saat mengajukan pertanyaan itu pada teman dokter yang mengirim Rania ke rumah sakit mereka, dokter itu meninggal tepat sehari setelah pertanyaan itu diajukan padanya.


__ADS_2