
Rania sudah menunggu hampir tiga jam dan Dimas masih belum datang menjemputnya. Di telpon juga tidak menjawab.
"Rania, kenapa belum pulang?" Sapa Rei yang baru keluar dari gedung kantornya.
"Bos, sudah mau pulang!"
"Iya. Kamu sendiri kenapa belum pulang?"
"Menunggu suami saya, bos. Dia bilang mau menjemput."
"O begitu. Ya sudah, kalau gitu mari ikut saya. Saya antar kamu pulang."
"Loh tidak usah bos. Saya masih menunggu suami saya kok."
"Mungkin dia sibuk, jadi tidak akan datang menjemput."
"Suami saya akan datang kok..."
Hp nya bergetar. Panggilan dari Dimas, dia mengatakan tidak bisa menjemput karena ada rapat dadakan.
__ADS_1
Raut wajah Rania berubah menjadi kecewa. Dia sudah menunggu cukup lama, tapi ternyata suaminya tidak bisa menjemputnya.
"Bagaimana? Mau ikut saya atau tidak?" Rei menawarkan.
Tanpa menjawab, Rania langsung masuk ke mobil Rei. Hatinya sungguh kecewa saat ini. Sakit rasanya, menunggu berjam jam tidak ada kabar, sekalinya memberi kabar mengatakan tidak bisa menjemput.
Rei menjalankan mobilnya menuju arah rumah Rania. Dia tahu alamat Rania dari formulir masuk Rania ke kantorya. Dia tahu rumah yang ditempati Rania saat ini adalah rumah mantan bos yang terdahulu.
Lampu merah, Rei menghentikan mobilnya. Sembari menunggu lampu kembali hijau, Rania membuka kaca mobil dan melihat suasana di luar. Bukannya suasana indah yang dilihatnya, tapi pemandangan yang sangat menyesakkan dada.
Dia melihat Riana menyender manja di bahu Dimas. Mobilnya juga berhenti karena lampu merah. Setelah cukup puas menyaksikan perselingkuhan itu, Rania menutup kaca mobil dan sedikit merunduk.
Lampu kembali hijau. Segera Rei melajukan mobil perlahan dan memperhatikan arah mobil Dimas yang masuk ke parkiran hotel bintang lima. Rania juga melihat itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Maaf, tapi kalau mau menangis, silahkan saja. Anggap saja saya tidak ada." Rei tahu, Rania sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
Benar saja Rania menangis terisak. Sungguh pemandangan yang menyesakkan dada.
"Kita sudah hampir sampai." Ucap Rei.
__ADS_1
"Aku tidak mau pulang. Tolong turunkan aku di pinggir jalan saja."
Rei pun menuruti permintaan Rania meski sebenarnya dia tidak mau melakukan itu. Tapi, Rania seorang wanita bersuami dan baru saja menyaksikan perselingkuhan suaminya. Rei tentu tidak mau ikut terseret kedalam masalah rumah tangga Rania.
"Terimakasih, bos." Rania turun dari mobil dengan mata sembab.
Rasanya tidak tega membiarkan Rania sendirian. Tapi apa boleh buat, Rei tidak ingin memperkeruh keadaan.
Cukup lama Rania berdiam di pinggir jalan menatap kendaraan berlalu lalang. Air matanya sudah tidak tumpah. Jika tumpah lagi, mungkin yang akan tumpah berikutnya adalah tetesa darah.
Sungguh sakit rasanya melihat suaminya berselingkuh, terlebih selingkuhannya itu adalah kembarannya. Dunia seakan runtuh menghimpitnya hingga terbenam kedalam permukaan bumi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang." Mengusap wajahnya yang terasa sembab.
"Kenapa kalian setega itu mas. Aku akan melepaskan mas Dimas jika kamu memintanya Riana." Ungkapnya kesal bercampur kecewa.
"Aaaarrrkkkkhhhh..." Rania berteriak sekeras mungkin, hingga membuat beberapa orang yang lewat terkejut dan mengira Rania sudah tidak waras.
Dia tidak peduli. Terserah orang orang akan berpikiran aneh tentangnya. Dia bahkan bukan hanya aneh saja saat ini, tapi dia merasa seakan hendak menelan hidup hidup dua manusia yang tega mengkhianatinya.
__ADS_1