Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Baik baik saja.


__ADS_3

Setelah cukup lama berdiam di pinggir jalan, akhirnya Rania kembali ke rumah.


"Nyonya, sudah pulang." Sapa Aminah.


Suara lembut itu membuat Rania ingin dipeluk.


"Bik, maukah bibik memelukku..."


Aminah terdiam sebentar menatap mata sembab Rania. Lalu dia melangkah mendekat untuk memeluk majikannya itu.


"Semua akan baik baik saja, Nyonya." Aminah membelai lembut punggung Rania. Dia mencoba menenangkan Rania yang menurutnya sedang menghadapi masalah yang cukup berat.


"Bik, apakah aku bukan istri yang baik?"


"Saya tidak yakin tentang itu, karena baru beberapa hari bekerja di sini, nyonya. Tapi, satu hal yang saya tahu, nyonya adalah wanita yang ramah, baik hati dan penurut."


"Benarkah bik Minah berpikir begitu?"


"Iya nyonya."


"Terimakasih karena mau tinggal di rumah ini, bik. Aku merasa senang, karena saat pulang ke rumah ada yang menyambutku." Ucap Rania yang mulai menangis lagi.


Aminah ingin bertanya penyebab air mata itu tumpah. Tapi, dia tidak mau terlalu lancang sementara dirinya hanya seorang pembantu.


"Apa bibik sudah masak untuk makan malam?" Melepas pelukan dan menghapus air matanya.


"Sudah nyonya. Mau saya temani makan?"


Rania mengangguk dan tersenyum haru. Air matanya bahkan kembali tumpah.


Aminah menyiapkan makanan di meja makan, lalu ikut duduk menemani Rania makan. Cara makan Rania tampak lahap, tapi sebenarnya dia hanya melampiaskan segala kemarahan pada makanan yang dikunyah dan ditelannya.


"Nyonya sebaiknya minum dulu."


Rania mereguk segelas air sirup orange, lalu kembali mengunyah makanan dengan lahap.


"Saya tidak tahu seperti apa masalah yang sedang nyonya hadapi. Tapi, saya yakin nyonya akan baik baik saja dan bisa mengatasi masalah itu dengan baik." Batinnya merasa iba pada Rania.


Setelah menyantap habis makanan, Rania pun langsung ke kamarnya. Dia mandi, sholat dan mengaji. Lalu, dia pun tertidur. Dia ingin melupakan apa yang dilihatnya tadi. Dia ingin mempertahankan rumah tangganya sejauh yang bisa dia pertahankan.


Beberapa menit setelah Rania tidur, mobil Dimas pun tiba di depan rumah. Tidak sengaja Aminah mengintip dan melihat Riana keluar dari mobil itu. Tidak hanya itu, Riana dan Dimas bahkan berpelukan dan berciuman. Setelah melakukan itu barulah Riana masuk ke rumah.


"Nona Riana sudah pulang." Sapa Aminah.


"Hei, bik. Kenapa masih di sini pada jam segini?" Tanya Riana heran.


"Mulai saat ini saya akan bekerja dan tinggal di sini, nona." Jawabnya.

__ADS_1


"Oya? Siapa yang meminta bibik untuk tinggal?"


"Nyonya Rania, nona."


"Mmh, ok."


Riana pun langsung masuk ke kamarnya. Dia tidak peduli sama sekali pada Aminah yang mungkin saja menyaksikan adegan perselingkuhannya dengan Dimas barusan.


"Kasihan nyonya Rania. Ternyata nyonya dikhianati oleh saudaranya sendiri." Gumam Aminah dalam hati.


Setelah Riana tidak terlihat, Dimas masuk ke rumah dan terkejut melihat Aminah berdiri di samping tangga menuju kamarnya.


"Bik Minah belum pulang?" Tanya Dimas heran.


"Tuan, sudah pulang."


"Kamu kenapa masih belum pulang?" Ulangnya.


"Saya di minta sama nyonya untuk bekerja dan tinggal di sini mulai malam ini, tuan." Jawabnya.


"Oo begitu ya."


"Iya tuan."


"Apa istri saya sudah pulang?"


"Sudah tuan, nyonya baru saja tidur."


"Nyonya tiba di rumah sekitar satu jam yang lalu, tuan."


Mendengar itu Dimas menghela napas lega. Dia senang, karena Rania tidak mungkin melihat adegan barusan di depan rumah. Dia tidak berpikir sama sekali bahwa ternyata Aminah menyaksikan adegan itu secara live dengan matanya sendiri.


"Ya sudah, kalau begitu bik Minah kunci pintu dan pergilah istirahat." Ucapnya sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.


"Baik tuan." Aminah menundukkan kepalanya.


Begitu Dimas sudah tidak terlihat, Aminah memegang dadanya yang terasa sesak karena menyaksikan adegan luar biasa itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Rania saat mengetahui hal itu.


.


.


.


Rania sudah bangun sejak subuh tadi. Dia membantu Aminah menyiapkan sarapan.


"Nyonya, biar saya saja yang menyiapkan semuanya."

__ADS_1


"Tidak apa bik, sepertinya sebentar lagi saya juga hanya akan menjadi pembantu di rumah ini." Gumamnya.


"Nyonya bicara apa!" Aminah berpura pura tidak mengerti.


"Sayang, aku cariin kamu loh tadi. Aku bangun kamu sudah nggak ada di sampingku." Ucap Dimas yang melangkah menuju dapur.


"Kenapa mencariku, mas. Bukankah kamu sudah tidak membutuhkan aku." Sindirnya.


"Kenapa sayangku bicara seperti itu?" Hendak memeluk Rania.


"Aku belum mandi, mas. Masih bau..." Rania menjauhkan diri dari Dimas.


Sesaat Dimas terdiam, dia terkejut saat Rania tidak mau di peluk olehnya.


"Sayang, mas minta maaf karena tidak bisa menjemput kemarin. Mas benar benar ada rapat dadakan loh."


Aminah menjauh dari majikannya yang sepertinya akan berdebat.


"Aku sudah menunggu ber jam jam, mas. Aku telpon mas tidak menjawab. Sekalinya ngasih kabar, mas bilang nggak bisa jemput. Mas bayangin aja seperti apa kesalnya aku, mas."


"Sayang sungguh maafkan mas, ya. Mas janji tidak akan mengulang itu lagi. Mas janji hari ini akan menjemput sayang, ya." Bujuknya.


"Tidak usah mas. Mulai hari ini aku akan naik mobil sendiri, menyetir sendiri ke tempat kerja dan pulang sendiri. Aku tidak mau menjadi beban mas lagi."


"Sayang, kok kamu malah jadi kekanakan gini sih. Mas sudah minta maaf loh."


"Apa... mas bilang aku kekanankan?" Rania kesal kali ini.


"Bukan begitu maksudnya sayang. Mas hanya..."


"Sudahlah mas. Aku malas berdebat. Aku harus mandi dan pergi bekerja." Hendak melangkah meninggalkan dapur.


Dimas menarik tubuh Rania masuk dalam pelukannya. Rania ingin berontak, tapi hatinya terasa sakit karena dia luluh hanya dengan pelukan itu.


"Lepaskan aku, mas. Aku mohon jangan membuatku sakit sepeti ini."


Segera Dimas melepaskan pelukannya, karena dia kira telah memeluk Rania terlalu erat hingga membuat Rania kesakitan.


"Maafkan mas, sayang. Mas tidak bermaksud memeluk seerat itu sampai membuat sayang kesakitan."


"Aku tunggu kejujuranmu dalam satu bulan kedepan, mas. Jika masih tetap diam, maka aku tidak akan bersabar lagi."


Rania melangkah pergi meninggalkan Dimas yang masih mencoba mencerna ucapan Rania yang sama sekali tidak di pahaminya. Dimas hanya beranggapan Rania marah karena tidak dijemput kemarin. Tapi dugaannya salah, Rania menantangnya untuk jujur tentang perselingkuhannya dengan Riana.


"Rania tidak pernah semarah itu padaku sebelumnya. Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi? Apa aku membuat kesalahan lain tampa sadar?" Gumamnya merasa bingung.


Sementara itu, sejak tadi Riana menyaksikan pertengkaran itu dari balik pintu kamarnya.Dia tersenyum senang karena merasa menang.

__ADS_1


"Sorry Rania. Kali ini pun aku akan mengambil kembali milikku. Sudah saatnya kamu tahu tempatmu saudaraku yang malang."


Riana benar benar bahagia saat ini. Dia merasa menang dalam pertarungan melawan saudara kembarnya yang malang itu.


__ADS_2