
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Langkah Rania terhenti tepat di depan rumah makan sederhana yang mulai sepi pengunjung. Dia manatap makanan yang terpajang di lemari menu yang juga hanya tersisa beberapa porsi saja.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya seorang wanita separuh baya menyapa Rania.
"Maaf buk, bolehkah saya bertemu pemilik rumah makan ini?"
"Kebetulan saya pemiliknya, mbak." Jawab ibu itu ramah.
"Buk, bolehkah saya membantu bersih bersih atau mencuci piring? Saya tidak butuh bayaran hanya butuh seporsi makanan. Saya belum makan dari tadi siang, buk."
Mendengar ucapan Rania, membuat wanita separuh baya itu menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rania tahu, ibu itu sedang menilainya, ibu itu sedang berpikir apakah akan mempercayainya atau akan mengusirnya.
"Boleh mbak. Mari silahkan masuk." Ajaknya ramah. Sungguh Rania ingin menangis mendengar jawaban ibu itu.
Dia menunjukkan dapur tempat pencucian piring yang ternyata memang banyak piring kotor di sana.
"Saya belum sempat mencuci piring, karena terlalu sibuk melayani pelanggan yang berdatangan untuk makan malam." Memberikan sarung tangan pencuci piring pada Rania.
"Biasa saya dibantu oleh adik saya, tapi lima hari lalu adik saya meninggal karena kecelakaan tabrak mobil." Tuturnya.
Rania melihat matanya berkaca kaca. Tanpa menunggu lama ia langsung memulai mencuci piring untuk mengalihkan pembicaraan yang mungkin tidak nyaman bagi ibu itu.
__ADS_1
Melihat Rania mulai mencuci piring, ibu itu pun kembali ke depan untuk melanjutkan melayani beberapa tamu yang baru saja datang dan ada juga yang mau membayar karena sudah selesai makan. Dan ibu itu sengaja meninggalkan uang dua puluh lima ribu tepat di samping tumpukan piring kotor. Dia ingin mengetahui apakah Rania seorang yang jujur atau parasit yang akan menumpang hidup padanya.
Rania terus mencuci piring, meski sebenarnya perutnya sudah perih menahan rasa lapar. Tapi, dia tidak mungkin meminta makan sebelum tugasnya selesai.
"Ini piring terakhir. Rumah makan sudah tutup. Setelah selesai mencuci piring temui saya di depan." Meletakkan piring kotor di samping Rania.
Matanya menatap uang yang masih tergeletak disana dengan posisi yang sama seperti saat dia meninggalkannya disana. Ada seulas senyum lega di wajahnya, tapi dia tidak mau terlalu senang dulu. Wanita separuh baya itu menambahkan dua lembar uang seratus ribuaan di dekat uang dua puluh lima ribu tadi. Lalu, dia pun melangkah menuju ruang depan untuk membersihkan meja dan menyusun kursi kursi yang berantakan.
Setelah selesai mencuci piring dan menyusunnya di tempat piring, Rania melihat uang yang sengaja ditinggalkan ibu pemilik rumah makan. Rania meraih uang itu, menyusunnya dan melipatnya rapi lalu melangkah menghampiri si ibu.
"Buk, saya sudah selesai mencuci piring. Oh iya bu, tadi saya menemukan uang ini di dekat rak piring, sepertinya ibu lupa menyimpannya." Mengulurkan uang pada ibu itu.
Dia tersenyum, lalu mengambil uang itu tampa mengatakan apa apa.
Rania duduk menunggu sambil memegangi perutnya yang sudah sangat perih.
"Makanan yang tersisa hanya tinggal ini, mbak. Maaf tidak sepadan dengan kerja mbak mencuci begitu banyak piring."
"Terimakasih, buk." Rania langsung melahap makanan itu. Dia tidak peduli hal lainnya, saat ini dia hanya akan fokus makan karena sudah sangat kelaparan. Melihat betapa lahapnya Rania makan, ibu itu merasa iba. Dia pun mendekatkan segelas teh panas dan segelas air putih pada Rania.
"Terimakasih buk." Mata Rania berkaca kaca, dia terharu dan merasa iba pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Nama mbak siapa?" Ibu itu duduk di kursi depan Rania.
"Rania, buk. Tapi, kalau boleh, ibu cukup panggil saja saya Nia." Lanjutnya.
"Boleh. Tapi, dek Nia harus memanggil saya dengan sebutan mbak Dila saja, bagaimana?"
"Mbak Dila!" Ulang Rania.
Wanita separuh baya bernama Dila itu lebih suka dipanggil mbak, karena dia ingin menjadikan Rania sebagai pengganti adiknya yang sudah meninggal.
"Dek Nia mau bekerja di sini?"
Rania berhenti mengunyah saat mendengar pertanyaan yang memang sebenarnya ingin didengarnya sejak tadi.
"Saya mau mbak… tapi, saya tidak punya tempat tinggal."
"Dek Nia bisa tinggal di sini. Di belakang sana ada kamar yang memang khusus untuk pekerja disini. Tapi, sejak adik saya meninggal, saya memutuskan untuk tidak menyewa pekerja lagi. Jadi, kamarnya kosong."
Rania menatap ke ujung sana, terlihatlah pintu yang dimaksud kamar oleh mbak Dila.
"Saya akan bekerja dengan giat, mbak." Rania sedikit menundukkan kepalanya untuk berterimakasih.
__ADS_1
Dila tersenyum bahagia. Kini dia merasa ada pengganti adiknya. Melihat Rania membuat rasa kerinduan kepada almarhumah adiknya terobati.