Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Cerita Riana


__ADS_3

Sebulan berlalu di jalani Rania dengan rasa nyaman dan damai setelah Riana pergi dari rumah. Dimas kembali menjadi suaminya yang dulu. Sosok suami yang sangat perhatian dan menyanyanginya. Bahkan satu minggu terakhir. Rania selalu diantar jemput oleh Dimas saat hendak pergi dan pulang kerja.


Dimas juga jadi lebih banyak di rumah dari pada di kantor. Semua waktu luangnya diberikan pada Rania. Ia mengajak Rania jalan jalan ke luar negeri, atau makan malam romantis atau mungkin shoping. Semua dilakukan Dimas sperti biasa, yang terlihat amat sangat tulus dan jujur pada Rania.


Sementara Riana sibuk mengasuh bayinya dan juga merayu Radit. Perlahan lahan Radit mulai tertarik padanya. Seperti hari ini, Radit mengajak Riana jalan jalan ke mall untuk membeli perlengkapan bayi sekaligus kebutuhan Riana juga.


"Maaf untuk pembahasan yang mungkin akan membuatmu tidak nyaman nantinya, Riana." Ujar Radit saat mereka sedang menyantap makan siang di tempat makan yang ada di mall.


"Tentang apa, pak Radit?"


"Ya, tentang kamu sama Dimas dan Rania." Radit to the point.


Riana berhenti mengunyah, dia meminum air untuk membantu menelan makanan yang masih ada dalam mulutnya.


"Tidak usah dijawab, saya minta maaf karena membuat kamu merasa tidak nyaman."


"Tidak apa pak Radit. Saya akan menjawab dengan senang hati dan jujur."


Riana mengatur napas dan memperbaiki posisi duduk agar lebih nyaman. "Sebenarnya, saya dan Dimas sudah menjalin hubungan jauh sebelum mereka menikah. Tapi, karena suatu insiden, Rania merebut Dimas dari saya. Dia mengatakan bahwa Dimas telah melakukan pelecehan padanya, dan cerita itu dipercayai ibu."


"Saat itu ibu sedang sakit keras. Jadi, mendengar cerita itu, membuat tekanan darah ibu naik lagi. Ibu menyarankan agar Dimas dan Rania menikah."


"Sementara saya tidak bisa berkutik sedikitpun, karena kondisi ibu saat itu sangat memprihatinkan." Tuturnya mengarang cerita bebas dengan lancar dan terinci.


Radit mengangguk paham. Dia termakan omongan Riana tentang cerita bohongnya itu.


"Tapi, menurut saya perbuatan kalian dibelakang Rania sungguh bukan hal bagus." Radit mengutarakan pendapatnya.


"Ya harusnya sih, kalian berterus terang langsung pada Rania. Mungkin dengan begitu Rania akan melepaskan Dimas secara baik baik. Karena sekilas saya melihat, Rania tampak sangat pengertian dan dewasa."


Mendengar Radit memuji Rania, membuat Riana tersenyum geli. Baru kali ini dia mendapat wejangan dari pria yang sedang di rayunya. Biasanya pria hanya akan terus merayunya dan tidak akan peduli pada real lifenya.

__ADS_1


"Sudah berapa lama pak Radit mengenal Rania?" Riana bertanya dengan nada suara yang terdengar kesal.


"Ya, saya tahu saya sudah keterlaluan ikut campur urusan pribadi kalian. Tapi, mungkin memang saya hanya baru melihat Rania dari tampilannya saja. Saya baru beberapa kali tidak sengaja bertemu Rania. Itu saja."


"Sebenarnya Rania mengidap penyakit D.I.D atau bahasanya lebih dikenal dengan berkepribadian ganda." Pernyataan Riana kali ini membuat Radit terperangah tidak percaya.


"Ayah meninggal karena Rania."


"Maksudnya?" Radit makin tidak mengerti.


"Saya ingat banget, waktu itu kita kelas tiga SMP. Hari itu hari ulang tahun kita dan ayah memberikan hadiah kalung berliontin R untuk saya. Ayah bilang, saya sangat jarang menerima hadiah, karena biasanya Rania yang merampas hadiah untuk saya."


"Lalu?"


"Ya, itu pertama kali saya, ayah dan ibu melihat Rania menjadi aneh seperti itu."


"Rania merebut kalung itu dari leher saya dengan paksa. Ayah mencoba menenangkannya, tapi dia malah berteriak bertanya pada Ayah…"


"Kenapa ayah selalu memberi kalung untuk Riana? Kenapa tidak pernah memberikan aku hadiah kalung, ayah!"


"Rania, kamu sudah sering mendapat hadiah bagus dan mahal, nak. Jadi kali ini izinkan Riana yang mendapatkan hadiah, ya. Papa janji akan membelikan kalung yang sama untukmu." Ayah meraih tangan Rania untuk memeluknya menenangkan dari emosinya yang meluap.


"Aku Riana, ayah!" Teriaknya sambil menepis tangan Ayah.


"Aku Riana Ayah. Rania memaksaku untuk berpura pura menjadi Rania dan dia ingin menjadi Riana."


"Apa maksudmu nak?" Ayah dan ibu bingung.


"Aku Riana Ayah, ibu." Teriaknya sambil memukul keras dada Ayah.


"Rania sayang, maafkan ayah nak. Baiklah kalung ini untuk kamu ya nak." Memakaikan kalung untuk Rania pada Riana.

__ADS_1


"Aku Riana bukan Rania." Tatapannya sangat tajam menatap wajah Ayah dan ibu yang tidak mempercayai omongannya. Lalu tiba tiba dia mendorong ayah hingga ayah jatuh tersungkur di tanah.


"Ayah!" Teriak Riana dan Ibu bersamaan.


"Jangan mendekat, saya Dokter. Saya akan menyembuhkan pasien saya sendiri!" Teriaknya dengan gaya bicara yang aneh.


Jantung Ayah melemah dan akhirnya ayah meninggal saat itu juga. Riana dan ibu mengejar ayah saat ayah jatuh tapi, Rania menghalangi mereka. Rania mengatakan dia adalah seorang dokter yang akan membantu menghidupkan ayah kembali.


"Apa apaan kamu Rania. Kamu membuat ayah seperti ini." Ibu meneriaki Rania.


Rania sangat menakutkan saat itu. Ibu dan Riana bahkan tidak mau melihat wajah menyeramkan Rania. Lalu, beberapa detik kemudian, Rania menangis tersedu sedu seperti anak kecil. Dia memeluk ibu untuk meminta digendong, sampai akhirnya dia pingsan begitu saja.


Setelah pemakaman ayah, Rania masih di rumah sakit dan saat ibu menjenguknya, dokter mengatakan Rania terkena gejala awal D.I.D. Satu satunya cara untuk membuatnya sembuh ialah dengan berpura pura melupakan kejadian yang menjadi penyebab awal gejala itu menyerang Rania.


Flashback off.


Radit mendengarkan dengan seksama apa yang barusan diceritakan Riana.


"Jadi sejak saat itu kalian tidak pernah membahas tentang kepergian ayah kalian?"


"Iya. Dan sejak saat itu, kita mengatakan ayah meninggal karena memang sudah saatnya."


"Lalu sekarang, apakah gejala DID itu muncul lagi pada Rania?"


Riana menggelang yakin. "Karena itulah, aku tidak mau jujur tentang hubunganku dengan Dimas. Aku khawatir Rania akan menggila lagi seperti waktu itu."


"Ya, kalau kalian tidak mau mengatakan kejujuran tentang hubungan kalian, lebih baik kalian udahan, kan?"


"Saya memang sudah melepaskan Dimas. Tapi, Dimas masih belum bisa melepaskan saya, pak Radit."


"Saya sangat bersyukur karena akhirnya bisa berada di sisi Rumi dan pak Radit sebulan terakhir."

__ADS_1


Radit menatap wajah sendu Riana, hal itu membuatnya merasa ingin menggenggam tangan Riana. Dan benar saja, Radit melakukan itu dan di respon baik oleh Riana.


__ADS_2