
Reinaldo menatap kursi kosong meja Rania. Dia tidak nenanyakan pada siapapun tentang keberadaan Rania. Karena dia tahu, saat ini Rania pasti masih butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan pahit yang harus ditelannya.
"Bos, saya sudah mencoba menghubungi Rania tapi tidak ada jawaban." Ujar Gita.
"Tidak perlu menghubunginya. Biarkan saja dia, mungkin dia butuh waktu luang untuk menyelesaikan bacaan novel yang saya perintahkan."
"Baik, bos." Gita sengaja memberitahukan itu pada bosnya untuk memintakan izin cuti Rania. Tapi, sepertinya bos sudah melakukan itu sejak pagi tadi.
"Semoga Rania baik baik saja. Tidak biasanya Rania bolos kerja tampa alasan yang mendesak dan tanpa kabar." Imbuhnya.
"Apa Rania sakit?" Tanya Wawan.
"Nggak tahu juga."
Gita menjawab sekedarnya, dia tidak mau memberitahu Wawan. Khawatirnya Wawan nekat menjenguk Rania dan malah membuat masalah.
Wawan kecewa karena Gita tidak mau memberitahunya. Dia pun kembali fokus bekerja lagi.
Sementara itu, Riana dan Dimas saat ini sedang bermesraan di gudang perusahaan. Mereka tidak tahu ada kamera pengawas disana. Adegan mereka ditonton oleh sekuriti penjaga monitor kamera pengawas. Dia juga melaporkan itu pada Radit.
"Salinkan rekaman itu ke dalam hardisk saya, pak. Setelah itu tolong rekamannya dihapus dari komputer." Radit memberi perintah.
"Baik pak Radit."
Setelah mendapatkan rekaman itu dan memastikan sekuriti menghapus rekaman itu, Radit kembali ke ruangannya dan memanggil Dimas menghadap.
__ADS_1
"Pak Radit memanggil saya?" Tanya Dimas begitu tiba diruangan Radit.
"Apakah ini kamu?" Memperlihatkah rekaman itu pada Dimas melalui layar laptopnya.
Mata Dimas membola tidak percaya, wajahnya merona merasa malu dan takut Radit memecatnya.
"Apakah pekerjaan anda di kantor untuk mempertontonkan adegan adegan ini, Dimas?"
"Maafkan saya pak. Beri saya kesempatan sekali lagi. Saya tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi." Berlutut memohon.
"Kamu tahu, Dimas. Saya adalah tipe orang yang tidak akan memberi maaf pada pembohong."
"Kamu tahu alasannya?"
Dimas hanya diam saja dan masih terus berlutut.
"Pembohong itu seperti kotoran. Saat di bersihkan, besoknya kotoran itu akan kembali. Jadi, saya biasanya langsung membuang barang yang sudah terkena kotoran alih alih mencucinya kembali."
Dimas bergetar ketakutan. Dia mengerti maksud Radit, yang mungkin akan memecatnya setelah menyaksikan kejadian itu.
"Karena bukan hanya kamu yang melakukan perbuatan me n ji ji k kan itu, maka saya akan memberi kamu pilihan."
"Pilihan apa, pak Radit?"
"Kamu atau Riana yang harus pergi dari perusahaanku." Tegasnya.
__ADS_1
Dimas terdiam. Sungguh pilihan yang sulit. Dia tidak mau berhenti, karena perjuangannya cukup keras untuk bisa meraih posisinya saat ini. Tapi, jika Riana yang berhenti, rasanya dia menjadi lelaki terburuk karena membuat kekasihnya membayar perbuatan yang seharusnya tidak mereka lakukan.
"Saya sangat tidak suka melihat adegan ini, karena kamu seorang pria yang sudah beristri. Dan semakin membuat saya tidak senang, karena wanita itu adalah kembaran istrimu yang artinya dia adalah iparmu."
"Kalian berdua sama sama pengkhianat. Bagaimana mungkin kalian bekerja di perusahaanku. Bisa bisa kalian berdua akan menikamku dari belakang demi mengambil alih perusahaan ini, kan?"
"Karena dari apa yang pernah saya dengar dan saksikan, pengkhianat seperti kalian akan mengahalalkan segala cara demi memenuhi hasrat tidak terhingga mereka."
Dimas masih tetap diam mendengarkan ucapan Radit.
"Pak, bisa beri saya kesempatan sekali lagi. Saya susah payah untuk tiba di posisi ini. Saya tidak mau kehilangan pekerjaan ini." Memohon sekali lagi.
"Berarti kamu sudah memutuskan untuk melemparkan kesalahanmu pada Riana sepenuhnya?"
Mata Dimas tampak tidak fokus. Dia tidak ingin mengkhianati kekasihnya itu. Tapi, dia juga takut kehilangan pekerjaan yang susah payah didapatkannya.
"Maafkan aku Riana. Sepertinya bersamamu hanya akan membuatku terus terusan mendapat masalah. Selama ini aku baik baik saja bersama Rania. Maafkan aku Riana." Batinnya.
"Jawablah Dimas, apa pilihanmu."
"Pak, beri saya satu kali kesempatan lagi. Saya tidak akan mengulang kesalahan itu lagi. Mulai hari ini saya akan setia pada Rania dan saya akan bekerja keras hanya untuk Rania. Saya mohon, rahasiakan ini dari Rania. Saya mohon, pak Radit."
Akhirnya Dimas memilih dirinya sendiri dan membuang wanita yang dicintainya selama hampir sebelas tahun demi menyelamatkan karir dan rumah tangganya.
Radit menatap miris pada Dimas yang tidak disangkanya memiliki jiwa pengkhianat yang sudah melekat sejak lama. Melihat rekaman adegan mesra Dimas dan Riana, membuat Radit merasa iba pada Rania. Tapi, memberi tahukan hubungan gelap Dimas dan Riana pada Rania, akan lebih membuat Rania tersakiti.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan mempertimbangkan pilihanmu. Saat ini, tolong tinggalkan ruangan saya."
"Terimakasih pak Radit. Terimakasih banyak pak Radit." Dimas meninggalkan ruangan Radit dengan perasaan gembira