
"Apa maksud boss?" Tanya Rania yang sama sekali tidak mengerti saat Rei membahas soal saat masih TK.
"Ternyata kamu benar benar melupakan saya, Riana." Ujarnya tampak kesal.
"Saya Rania, boss. Bukan Riana."
"D I D. Novel itu saya buat karena terinspirasi dari kamu." Rei berdiri.
Ia melagkah sedikit menjauh dari Rania.
"Aa… apa?"
Rania semakin tidak mengerti.
"Kamu adalah Riana yang tiba tiba mengaku menjadi Rania."
Kedua mata Rania membola, tapi ia tidak bisa berkata kata. Lidahnya terasa berat untuk berucap.
"Singkat cerita, setelah kamu menjadi Rania… saya pindah ke Bandung." Rei mulai bercerita.
"Meski saya di Bandung, saya mengirim orang orang untuk mengawasi kalian."
"Kenapa mengawasi kami?" Tanya Rania sedikit kesal.
__ADS_1
"Karena penasaran... aku sangat penasaran, sebenarnya kamu Rania atau Riana, dan apakah dia Riana atau Rania..."
"Dan setelah bertahun tahun kemudian, barulah saya tahu bahwa kamu adalah Riana yang dipaksa menjadi Rania oleh saudara kembarmu itu."
Rei terus mengatakan banyak hal, termasuk tetang dia yang pernah di buly oleh Riana karena saat itu tubuh Rei terlalu kecil dan pendek dibandingkan teman teman lainnya.
"Apakah kamu lupa, waktu Riana hampir mendorongku ke got, kamu menghentikannya?" Ujar Rei bertanya.
Rania mendongak untuk menatap wajah Rei, lalu ia tersenyum sebentar, kemudian mengangguk.
"Aldo…" Ucap Rania.
Ia sekarang ingat, Rei adalah Aldo teman kecil yang selalu di ganggu oleh Riana saat itu.
"Saya sudah melupakannya. Saya membahasnya karena ingin kamu mengingat siapa saya."
"Maafkan saya boss, saya benar benar tidak mengenali bahwa ternyata boss adalah teman kecil yang selalu saya panggil dengan nama Aldo." Ujar Rania.
"Senang rasanya karena ternyata kamu masih mengingat saya."
Rei kembali duduk di sebelah Rania. Ia mengambil foto Rania saat bertemu dengan kakak iparnya.
"Kamu tahu, Rania. Mereka bersahabat. Kakak iparku ini, tidak memiliki rahim. Rahimnya diangkat sejak dia masih gadis dan dia merahasiakan itu dari mas Radit."
__ADS_1
Penuturan Rei membuat Rania menganganngukkan kepala. Ia seakan mulai mengerti situasi yang terjadi antara Riana dan kakak ipar Rei.
"Riana hamil saat itu. Dia tidak bisa meminta pertanggung jawaban dari kekasih gelapnya itu. Dan dia menawarkan agar kakak iparku pura pura hamil. Lalu, saat bayi yang dikandung Riana lahir, bayi itu akan menjadi milik kakak iparku." Tutur Rei menceritakan semua yang ia ketahui tentang Riana.
"Jadi, maksud boss… Rumi itu anaknya Riana?"
Rei mengangguk membenarkan tebakan Rania.
"Dan sebenarnya, kakak iparku meninggal bukan karena melahirkan Rumi, tapi di bunuh oleh suster yang telah diperintahkan oleh Riana."
"Apa? Tidak mungkin. Boss pasti salah paham. Saya tahu Riana itu kejam, dia jahat. Tapi, tidak mungkin dia membunuh."
Rania tidak percaya dengan tuduhan yang dilontarkan Rei terhadap Riana kembarnnya itu.
"Semua terserah kamu, Rania. Mau percaya atau tidak. Yang penting saya sudah menceritakan semuanya sama kamu." Ucap Rei menegaskan.
Ia merasa sedikit kesal pada Rania yang masih saja membela kembarannya yang jelas jelas berusaha membunuhnya.
"Sekarang, saya cuma butuh bantuan kamu untuk menggagalkan pernikahan kak Radit dan Riana."
Mata Rania membola tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Bukankah Riana akan menikah dengan Dimas?" Bisiknya dalam hati.
__ADS_1