
Rania sudah tertidur pulas saat Dimas pulang.
"Sayang, apakah kamu sudah tidur?"
Tidak ada jawaban dari Rania, karena dia sudah tidur nyenyak.
"Ya sudah, selamat malam sayangku." Dimas berbaring di sebelahnya.
Ditatapnya wajahnya Rania. Tangannya membelai wajah lelap itu dengan lembut.
"Sayang, hariku sangat melelahkan. Aku terpaksa harus menjadi egois. Itu semua aku lakukan demi bisa hidup denganmu untuk selamanya." Gumamnya.
Dimas merasa sangat lelah malam ini. Kejadian hari ini membuatnya sadar, Rania adalah istri terbaik. Selama hidup bersama Rania, dia tidak pernah merasakan hari hari yang melelahkan seperti ini.
Baru saja matanya hendak terpejam, sayup sayup dia mendengar suara langkah kaki semakin mendakat ke kamarnya.
"Dim, apakah kamu sudah tidur?" Suara Riana terdengar ditelinga Dimas.
Matanya langsung melek, dilihatanya Rania yang masih terlelap nyeyak. Dengan sangat perlahan, Dimas melangkah menuju pintu kamarnya.
__ADS_1
"Riana apa kamu sudah gila?" Dimas membawa Riana menjauh dari kamar. Dia menarik tangan Riana masuk ke kamar yang dijadikan gudang.
"Ngapain kamu menemui aku ke kamar? Untung Rania tidur nyenyak." Rutuknya kesal.
"Biarkan saja Rania tahu hubungan kita, Dim. Aku capek terus terusan sembunyi seperti ini."
"Gila kamu, Riana."
"Ya, aku memang gila, Dim. Aku gila karena sangat merindukanmu. Aku datang ke Jakarta untuk bisa menemui kamu. Tapi, apa sekarang? Kamu bahkan tidak peduli padaku."
"Aku mencintai Rania. Aku akan memilih Rania. Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku dengan Rania."
"Ba ji ngan. Kamu menyentuhku gratis, lalu seenaknya mau meninggalkan aku. Kamu milikku Dimas. Aku tidak akan melepaskanmu. Ingat itu baik baik." Riana mengatakan itu sambil menunjuk wajah Dimas dan menatap penuh kebencian.
"Tega kamu Dim. Kamu yang menarikku masuk ke gudang untuk memuaskan bi ra hi mu. Lalu, kamu melimpahkan kesalahan itu semuanya padaku. Kamu tahu, aku di pecat dari perusahaan."
"Maafkan aku, Riana. Aku tidak punya pilihan lain. Aku berusaha keras untuk bisa mencapai posisiku saat ini. Kamu bisa kembali menjadi model seperti dulu lagi."
"Egois kamu, Dim. Aku sangat membencimu. Aku bersumpah akan menghancurkan rumah tanggamu." Gertak Riana penuh amarah dan kebencian.
__ADS_1
Dimas hanya diam. Dia sebenarnya merasa bersalah dan iba pada Riana. Tapi, dia tidak mau kehilangan pekerjaan dan Rania.
Riana menangis, dia ingin mengamuk dan menghancurkan semuanya. Tidak, dia ingin menghancurkan Rania. Semakin, Riana tidak bisa memiliki apa yang diinginkannya, maka semakin dia ingin membuat Rania pun merasakan hal yang sama.
"Keegoisanmu, akan menghancurkan hidup Rania, Dimas. Ingatlah itu janjiku." Riana menarik tubuh Dimas masuk dalam pelukannya. Dia mencoba merayu Dimas untuk melampiaskan perasaan benci dan amarahnya.
Riana sangat tahu, Dimas sangat lemah jika diperlakukan seperti itu. Dimas selalu luluh setiap kali Riana menggodanya.
Suara ketukan pintu gudang membuat Dimas mendorong kuat tubuh Riana hingga tersungkur di lantai yang berdebu itu. Dia tidak peduli, kakinya melangkah cepat mendekati pintu dan membukanya.
"Sayang? Kamu terbangun?" Dengan cepat Dimas menutup pintu gudang takut Rania melihat Riana didalam sana.
"Mas ngapain di dalam gudang?"
"Oo..ee aa itu mas mencari senter. Ya, mas mencari senter." Kilahnya.
"Ketemu senternya?" Tanya Rania sambil melihat tangan Dimas yang kosong.
"Belum sayang. Besok saja deh cari senternya. Sekarang kita tidur lagi ya." Menggandeng tubuh Rania kembali menuju kamar mereka.
__ADS_1
Dimas merasa lega. "Hampir saja." Batinnya.