
Bukan tampa alasan Riana sangat membenci Rania. Semua kebencian itu berawal semenjak mereka masih berusia sepuluh tahun. Rania tumbuh menjadi gadis yang pintar dan sering di puji oleh orang orang dan kedua orangtuanya. Rania juga sering mengikuti lomba dan menjadi juara.
Prestasi itu membuat Rania mendapat perlakuan khusus dari kedua orangtuanya dan orang orang sekitar. Tanpa sadar, Riana menjadi dendam dan semakin membenci Rania.
"Ri, kamu baik baik saja?" Rania melihat raut wajah cemburu Riana yang tidak dia pahami.
"Ya aku baik baik saja kok, beb." Riana selalu bisa menyembunyikan rasa kesal dan cemburunya dari Rania yang terlalu naif atau mungkin hanya pura pura naif.
"Mau makan apa, sayang?"
Pertanyaan Dimas barusan membuat Riana tampa sadar menjawab.
"Aku suka steik, jadi aku mau makan daging steik."
Rania yang tadinya mau menjawab pertanyaan suaminya malah terdiam mendengar Riana tiba tiba menjawab pertanyaan yang jelas diajukan Dimas untuknya. Sedangkan Dimas hanya bisa diam saja.
"Makan steik saja, mas. Riana suka steik." Ujar Rania kemudian.
"Baiklah kita menuju restoran yang terkenal dengan kelezatan daging steiknya."
Dimas melajukan mobilnya dengan semangat menuju restoran yang dimaksudnya. Riana malah memejamkan matanya, karena ingin menahan rasa kesalnya pada Dimas yang terkesan memamerkan kemesraanya bersama Rania.
"Dasar laki laki tidak berguna." Batinnya.
Setelah berkendara cukup lama, akhirnya mereka tiba di restoran.
"Mas, aku mau ke toilet dulu ya."
"Iya sayang."
"Ri, aku tinggal bentar ya."Riana mengangguk pelan.
Saat Rania masih di toilet, Dimas sudah memesan makanan untuk mereka semua. Dan sambil menunggu pesanan mereka siap, Rania juga masih di toilet, dia pun mengajak Riana mengobrol.
"Sayang, aku minta maaf ya. Aku tahu kamu kesal karena aku mesra pada Rania." Ucapnya dengan suara yang sangat pelan.
"Terserah."
"Sayang please jangan ngambek gitu dong." Dimas hendak meraih tangan Riana, tapi dengan cepat Riana menjauhkan tangannya dari jangkauan Dimas.
"Sayang, please ngertiin posisi aku saat ini."
"Aku janji akan mengatakan semuanya pada Rania dalam waktu dekat. Jadi, tolong bersabarlah sebentar ya sayangku." Membujuk Riana.
__ADS_1
"Ok... aku akan mencoba mengerti posisi kamu. Tapi, aku tidak mau melihat kamu mesra mesra terus dengan Rania di hadapanku."
"Iya, aku janji akan mencoba mengurangi bermesraan dengan Rania, ya." Tersenyum menatap wajah Riana yang juga mulai berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Pesanan mereka datang. Riana benar benar senang melihat makanan kesukaannya tersaji di hadapannya.
"Sini aku potong potongin dulu daginggnya." Dimas memotong bagian steik Riana agar memudahkan Riana saat menyantapnya. Hal seperti ini selalu dilakukannya untuk Riana sejak mereka masih pacaran dulu. Dan hal ini satu satunya yang tidak bisa dia lakukan untuk Rania.
"Ini, makan yang banyak sayangku. I love you." Bisiknya.
Riana tersenyum senang. Untuk sesaat dia melupakan ada Rania yang masih belum kembali dari toilet.
"Enak banget, aku selalu suka steik di sini." Mulai mengunyah makanannya.
Rania kembali dengan perasaan lega setelah kembali dari toilet.
"Sayang, yuk makan." Ajak Dimas pada Rania yang baru kembali duduk di kursinya.
Saat Rania hendak memotong daging di piringnya, matanya melirik pada piring Riana yang semua dagingnya sudah terpotong kecil kecil sehingga memudahkan dia untuk makan.
"Mas, bantu potongin dong." Rengek Rania pada Dimas.
Nafsu makan Riana tiba tiba menurun mendengar rengekan manja Rania pada Dimas. Sedangkan Dimas terlihat ragu untuk melakukan itu karena dia sudah berjanji pada Riana untuk tidak mesra pada Rania dihadapannya.
"Makasih, mas." Rania pun makan dengan lahap.
"Mmh, enak banget ya mas. Kamu memang selalu tahu tempat tempat makan yang enak."
"Iya sayang."
Mata Riana selalu memperhatikan gerak gerik Dimas. Ia melihat Dimas benar benar berusaha untuk tidak mesra pada Rania. Tapi, Rania yang malah selalu membuat Dimas melakukan apapun untuknya. Sungguh hal itu membuat Riana bertambah murka.
"Aku ke toilet dulu ya."
"Iya mas. Jangan lama lama." Ucap Rania.
Dimas pun pergi nenuju toilet. Rania memanfaatkan waktu bersama Riana untuk curhat tentang kecurigaanya pada Dimas.
"Ri, aku boleh curhat nggak?"
"Silahkan."
"Sebenarnya akhir akhir ini aku curiga sama mas Dimas."
__ADS_1
"Curiga bagaimana?" Riana terlihat santai.
"Ya, sejak mas Dimas naik jabatan, dia jadi berubah banget gitu. Nah aku jadi curiga, mungkin dia ada perempuan lain."
Mendengar curhatan Rania bukan membuat Riana takut atau gelisah, yang ada dia merasa geli mendengar curhatan saudara kembarnya itu.
"O ya? Masak sih Dimas berpaling dari kamu, beb."
"Entahla, Ri. Hati aku merasa seperti itu."
"Kamu sudah bertanya pada Dimas tentang itu?"
"Sudah. Tapi dia bilang tidak ada perempuan manapun yang bisa menggantikan posisi aku dalam hidupnya."
Kalimat kali ini sungguh berhasil membuat Riana kesal dan ingin segera menjambak rambut Dimas.
"Tapi aku tidak yakin dia tulus mengatakan itu, Ri. Aku malah merasa benar benar ada sesuatu yang disembunyikan Dimas dariku." Menatap mata Riana yang tampak memerah.
"Kamu kenapa, Ri?"
"Nggak apa apa kok."
"Tapi mata kamu merah." Memberikan cermin kecil pada Riana.
"Ohh, ini. Biasa mataku memang selalu merah saat menyantap makanan lezet seperti ini." Ucapnya berbohong.
"Mmh gitu ya." Merasa lega.
"Ri, apa menurutmu aku akan bisa melewati masalah yang masih hanya sebatas kecurigaan tak berdasar ini?"
"Mungkin. Karena Rania yang aku tahu tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan apapun yang sudah menjadi miliknya bagaimanapun caranya, bukan?"
Ucapan itu membuat Rania mengingat kejadian empat belas tahu yang lalu. Kejadian, yang membuatnya harus merebut kalung pemberian ayah untuknya dari Riana. Karena kalung itulah akhirya ayahnya meninggal dan Riana harus mendapat operasi di bagian pundaknya.
"Mungkinkah akan seperti itu lagi?" Batinnya.
"Beb, sorry. Aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu kok. Aku hanya ingin memberi kamu semangat baru." Riana berpura pura tidak sengaja mengatakan hal sensitif itu meski sebenarnya dia memang sengaja membuat Rania mengingat lagi kejadian itu.
"Nggak apa apa kok Ri. Lagian kamu benar, aku akan mempertahankan Dimas bagaimanapun caranya. Karena Dimas adalah suamiku dan kami sudah hidup bersama tujuh tahun terakhir." Ucapnya menegaskan.
Kali ini Riana yang dibuat kesal mendengar Rania menegaskan akan mempertahankan Dimas disisinya.
"Kalian membahas apa sih? Kok serius amat wajahnya." Suara Dimas membuat Rania dan Riana kembali menyantap makanan mereka.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa suasananya jadi canggung begini?" Gumam Dimas dalam hati sambil menatap bergantian wajah Rania dan Riana.