Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Inikah balasanmu


__ADS_3

"Riana, kapan kamu siap untuk pernikahan kita, sayang?" Dimas berbaring di pangkuan Riana.


"Entahlah Dim. Saat ini aku sedang sibuk sibuknya mengasuh Rumi." Jawabnya santai.


"Apa mengurus Rumi jauh lebih penting dariku?"


"Apaan sih kamu Dim. Kenapa jadi kekanakan gini sih."


"Bukannya begitu, sayang. Tapi, kalau kamu mengasuh Rumi untuk pekerjaan, maka berhentilah. Aku punya uang untukmu, kamu tidak perlu bekerja, karena aku yang akan mencari uang." Dimas mencoba membujuk Riana.


"Aku tidak bekerja untuk uang, Dim. Tapi, aku benar benar mencintai Rumi. Aku ingin merawatnya, melihat dia tumbuh dari hari ke hari. Itu yang aku inginkan." Memindahkan kepala Dimas dari pangkuannya.


"Sayang kamu kok gitu sih. Aku sudah memilih kamu loh, aku rela kehilangan bayi dan istriku demi bisa hidup bersama kamu. Lalu, inikah balasanmu?"


Riana tidak menjawab, dia malah menilih pergi dari rumah itu meninggalkan Dimas yang tidak mampu menahan kepergiannya.


Riana kembali ke rumah pak Randit. Tadinya dia pamit untuk membeli sesuatu padahal untuk sekedar melihat keadaan Dimas yang ternyata menginginkan dirinya untuk menjadi pendamping hidupnya. Tidak sekalipun Riana menginginkan hidup bersama Dimas, setelah Dimas menikahi Rania. Sejauh ini dia hanya ingin menghancurkan kebahagiaan Rania dengan merebut hati Dimas. Tapi, misinya gagal. Dia memang berhasil memisahkan Dimas dengan Rania, namun hati Dimas sudah menjadi milik Rania. Hal itu membuat Riana semakin membenci Dimas dan Rania. Dia sudah menghancurkan hati Rania dan kini saatnya menghancurkan hati Dimas secara perlahan dengan caranya sendiri.


Tidak terasa hari sudah malam, Radit sedang berbincang dengan Riana tentang perkembangan Rumi. Lalu, mereka di kagetkan dengan kedatangan Reinaldo secara tiba tiba.


"Rei, kenapa tidak menelpon kalau mau datang?" Sapa Radit.


"Kenapa? Apa kedatanganku mengganggu aktivitas kakak?"

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku Rei, hanya saja…"


"Apa Rumi sudah tidur di kamarnya?" Melangkah menuju kamar Rumi.


"Iya dia baru saja tertidur setelah puas bermain bersama Riana."


Rei pun memasuki kamar Rumi. Dia mengelus lembut pipi si mungil keponakan kesayangannya.


"Pak Radit, saya permisi kembali ke kamar saya." Riana berpamitan.


"Iya Riana, terimakasih untuk hari ini."


"Sama sama pak Radit."


"Rei, apa ada masalah?"


"Tidak ada."


"Kakak tahu kamu tidak menyukai Riana. Tapi, Riana sudah berubah. Dia sudah menjadi wanita yang baik baik. Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Dimas sejak Dimas menceraikan Rania. Dia juga merasa bersalah karena dirinya Rania jadi hilang tanpa jejak."


"Aku tidak peduli kak. Selama kakak merasa apa yang kakak lakukan benar, aku tidak akan membantah." Rei mencium kening Rumi, lalu kembali berdiri melangkah mendekati Radit.


"Hanya saja, jangan terlalu mudah percaya pada manusia. Karena manusia tidak berubah secepat itu untuk menjadi baik." Menepuk bahu Radit pelan.

__ADS_1


"Aku akan kembali ke Bandung, kak. Aku mau menjalankan usahaku di sana seperti dulu lagi."


"Kenapa Rei? Apa ada masalah di kantor?"


"Tidak ada alasan yang pasti, hanya saja aku ingin kembali ke Bandung. Karena aku rasa di bandung lebih nyaman untuk tempatku tinggal."


"Kamu yakin?"


"Ya, aku sangat yakin."


"Sering seringlah mampir. Rumi pasti akan merindukanmu."


"Rumi akan melupakanku seiring berjalannya waktu, kak. Lagi pula sudah ada Riana yang jauh lebih dibutuhkan Rumi." Rei terdengar cemburu, padahal dia tidak cemburu sama sekali.


"Rei, apa kamu cemburu?" Tanya Radit ragu.


"Cemburu? Kenapa harus cemburu?" Rei tersenyum geli mendengar pertanyaan kakaknya.


"Rei jujurlah? Apa kamu diam diam menyukai Riana?" Menyentuh erat bahu Rei.


"Please deh kak, apaan sih. Aku tidak cemburu sama sekali. Aku hanya tidak suka karena kakak begitu mudah percaya pada wanita seperti dia." Rei menegaskan sambil menyingkirkan tangan Radit di bahunya.


"Besok aku akan langsung ke Bandung. Tenang saja, aku akan sering sering mampir saat aku ke Jakarta."

__ADS_1


Rei pun melangkah pergi meninggalkan rumah Radit dengan perasaan khawatir dan merasa bersalah karena tidak bisa mengatakan tentang rahasia dibalik lahirnya Rumi dan kematian kakak iparnya pada Radit.


__ADS_2