
Hari ini Dimas mengantar Rania ke kantor. Dia juga sangat mesra dan bercanda menggoda Rania sepanjang perjalanan menuju kantor. Dimas mulai merasakan cinta yang berbeda dari Rania. Meski selama ini dia mencintai Riana, tapi Rania selalu ada bersamanya menghabiskan waktu hampir tujuh tahun terakhir.
"Nanti pulangnya mas jemput, ya."
"Benaran?"
"Iya sayang."
"Ok." Rania turun dari mobil dengan perasaan senang. Dia berharap, apa yang dipikirkannya tentang Dimas dan Riana saat di restoran hanya sekedar kecemburuan tak berdasar.
Rania memperhatikan hingga mobil Dimas tidak lagi terlihat oleh matanya.
"Enak ya, diantar suami." Bisik Gita ditelinga Rania yang masih melamun.
"Eh say, heemm..."
"Udah jauh tuh mobil suaminya, say. Masih juga dilihatin. Secinta itu sama pak suami." Ledek Gita sekedar menggoda.
"Iya dong secinta itu aku tuh sama suamiku, say."
Mereka bergandengan tangan masuk ke kantor mereka yang berada di lantai lima. Khusus tempat pengelolaan web novel dan percetakan buku juga.
"Selamat pagi, bos." Sapa mereka saat pria dingin itu lewat.
"Dingin banget gak sih, say. Ganteng ganteng tapi ya gitu, nggak mau disapa." Rutuk Gita.
"Namanya juga bos. Sudah la say, kerja aja fokus fokus..."
__ADS_1
Diam diam Wawan tersenyum memperhatikan Rania sejak tadi. Dia tahu Rania sudah bersuami dan dia juga melihat Rania diantar suaminya, tapi hatinya tidak bisa bohong tentang perasaan cintanya yang semakin besar untu Rania.
"Wawan senyum senyum tuh." Bisik Gita.
"Biarin aja lah say. Lagian dia juga sudah tau aku itu sudah bersuami."
"Iya juga ya. Ya udahlah masa bodoh aja ya say."
Mereka kembali fokus pada layar komputer di depan kereka. Rania melakukan tugasnya dengan baik seperti biasa tampa komplen dan tampa salah.
"Rania, hari ini kamu ada meeting dengan penulis, kan?" Wawan menghampiri meja Rania.
"Eh, Wan. Ee iya sih tapi nanti setelah makan siang." Jawabnya terbata.
"Semangat ya." Meletakkan segelas kopi di meja Rania.
"Minum ya kopinya. Nggak terlalu manis dan nggak terlalu pahit, kopi kesukaan kamu, kan. Aku masih ingat loh."
"Iya." Rania tersenyum saja.
"Rania keruangan saya sekarang." Panggil bos terdengar melalui panggilan otomatis di telepon.
"Iya, bos."
Rania pun langsung menuju ruangan bos. Dia sudah tahu kenapa dia di suruh ke ruangan itu hari ini. Tentunya untuk mempertanggung jawabkan janjinya membaca novel karya Rey.A yang tidak lain adalah bos.
Sebelum masuk dia mengetuk pintu. Setelah mendapat izin masuk, barulah Rania masuk ke ruangan itu. Dia akan mematuhi aturan yang ditetapkan bos mulai hari ini.
__ADS_1
"Silahkan duduk."
Rania pun duduk di kursi depan meja bundar tempat biasanya mereka rapat dengan semua anggota tim.
"Sudah membaca novelnya?"
"Sudah bos."
"Apa yang kamu dapatkan dari membaca novel itu."
Sebelum menjawab Rania menghela napas. Lalu dia menjawab dengan sangat percaya diri tentang apa yang telah diperolehnya dari membaca novel itu.
"Yah, sudah saya duga kamu memang selalu secerdas ini." Pujinya.
Rania merasa itu bukan pujian, tapi lebih pada mengejek jawabannya yang mungkin tidak sesuai menurut si penulisnya langsung.
"Saya benaran memuji kamu. Jangan berpikir saya mengejek kamu, ok."
"Bos bisa membaca pikiran saya?"
"Jadi benar kamu berpikir saya mengejek?"
Rania mengangguk pelan.
"Itu karya pertama saya yang sangat sukses di zamannya. Karena novel itu lah, saya bisa mendapat banyak uang untuk menciptakan web novel ini."
Hanya anggukan dari Rania sebagai respon untuk cerita kisah perjalanan singkat kesuksesan bosnya itu.
__ADS_1