
Selama satu minggu Rania mendapatkan perawatan khusus dari dokter sehingga dia bisa kembali berjalan seperti biasanya. Namun, ada satu kejanggalan yang terus mengganggu pikiran Rania yaitu tentang biaya perawatannya selama di rawat lebih dari dua bulan di rumah sakit ini. Terlebih, Rania juga diletakkan di kamar VIP.
"Sus, apa mungkin orang yang membayar biaya perawatan saya bernama Dimas?" Tanya Rania pada Suster yang selalu menemaninya.
"Tidak satu pun pihak rumah sakit yang tahu siapa orang yang membayar biaya perawatan mbak Rania." Jawabnya.
Saat pertama Rania bangun, dia mengatakan siapa namanya tapi tidak menceritakan hal lainnya. Pihak rumah sakitpun tidak berani bertanya karena mungkin Rania tidak ingin mengatakan siapa dia sebenarnya. Ya, selama biaya pengobatan selalu di tranfer, pihak rumah sakit akan diam saja dan memilih untuk tidak ikut campur.
"Suaranya seperti apa saat dia menelpon?" Rania bertanya lagi.
"Dia bicara tidak dengan suara aslinya. Tapi, dokter sangat yakin orang itu laki laki."
__ADS_1
Rania mencoba berpikir, siapakah kira kira laki laki yang rela menghabiskan banyak uang untuk menyelamatkannya.
"Tidak mungkin Dimas. Dia tidak akan menghabiskan uangnya untukku. Dia pasti sudah bahagia bersama Riana saat ini." Batinnya.
"Lalu siapa? Siapa yang ingin melihat aku kembali hidup."
Meski saat ini Rania masih belum tahu siapa yang mengeluarkan banyak uang untuknya, Rania berjanji akan mencari tahu sendiri.
Rania duduk melamun di halte bus depan rumah sakit. Dia memakai baju pemberian suster, hanya kaos tangan panjang yang over size, celana kulot dan jilbab segi empat yang hanya menjuntai tepat di bawah dadanya. Rania juga menutupi wajahnya dengan masker. Karena khawatir mungkin akan ada yang mengenalinya.
Tidak ada barang bawaan apapun kecuali baju yang ia kenakan. Sempat akan dipinjami uang oleh suster baik tadi, tapi Rania menolak. Dia mungkin akan pergi jauh dan akan sulit untuk kembali ke rumah sakit itu lagi.
__ADS_1
Mau tidak mau kakinya mulai melangkah menjauh dari tempat itu. Pikirannya terus teringat saat matanya melihat perselingkuhan suami dan kembarannya di depan matanya. Tangannya mengelus perut yang sudah kembali datar itu.
"Maafkan Bunda, sayang. Bunda begitu egois sehingga bunda kehilangan kamu." Ucapnya lirih.
Matanya berkaca kaca saat mengingat kembali bagaimana reaksi awal Dimas saat mengetahui kehamilannya. Ia juga mengingat semua monent saat Dimas memanjakannya dan juga bagaiamana saat dia dan Dimas biacara pada bayi mereka.
"Maafkan bunda sayang." Rania menangis. Dia terduduk lemah di pinggir jalan sambil menangis terisak.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus bunda lakukan sekarang, nak." Mengelus lembut perutnya yang sudah tidak ada bayi lagi di dalam sana.
Betapa hancurnya hati Rania saat ini, dia kehilangan bayinya dan suaminya secara bersamaan.
__ADS_1
"Ya Allah, jika ini hanya mimpi tolong bangunkan aku segera… tapi jika ini bukan mimpi, bantu aku untuk bangkit lagi dan menjalani kembali kehidupan ini." Rania menghapus air matanya dan kembali melanjutkan langkahnya yang entah akan menuju kemana.