Suamiku Direbut Kembaranku.

Suamiku Direbut Kembaranku.
Malaikat kecil.


__ADS_3

Rania berangkat kerja menggunakan mobilnya sendiri. Saat hampir tiba di depan gedung kantornya, Rania teringat kajadian saat dia melihat Dimas dan Riana di lampu merah. Niatnya untuk kerja pun diurungkan.


"Halo Put, boleh aku main ke sana?" Menelpon Putri.


"Aku bolos kerja hari ini."


"Kamu lagi nggak di rumah ya."


"Kalau aku samperin ke sana boleh nggak?"


"Ya udah aku kesana sekarang."


Putri sedang berada di taman bemain anak anak. Dia membawa Alisa kesana untuk bermain dan mulai belajar berinteraksi dengan bayi lain.


Rania pun melajukan mobilnya menuju tempat Putri dan Alisa berada. Dia ingin menghabiskan waktu seharian bermain dengan Alisa.


Sesampainya di sana, Alisa langsung berjalan mengejarnya dengan senyum bahagia. Rupanya Alisa sangat merindukan Anty Rania.


"Uuhh sayangnya anty kangen ya sama anty."


Alisa mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Rania.


"Anty juga kangen banget ini sama si canti Alisa." Menggendong Alisa.

__ADS_1


Rania melangkah mendekati Putri yang duduk di bangku sambil menatapnya.


"Kamu nangis ya, Ra?" Tanya Putri saat melihat mata sembab Rania.


"Mas Dimas benaran selingkuh, Put." Ucapnya santai.


Putri terdiam, dia sebenarnya sudah tahu Dimas selingkuh dengan Riana sejak hari kedatangan Riana. Tapi, Putri memilih diam, karena tidak ingin ikut campur urusan sahabatnya itu. Bukan Putri tidak peduli, tapi Rania tidak akan pernah percaya sebelum menyaksikan sendiri perbuatan suaminya itu.


Karena itulah, Putri lebih memilih diam. Putri berharap Rania segera mengetahu perselingkuhan suaminya itu. Tapi, saat mendengar Rania mengatakan tentang perselingkuhan itu, hati Putri malah merasa tidak tega melihat sahabatnya itu tersakiti.


"Kamu tahu siapa selingkuhannya." Selidik Putri.


Rania mengangguk yakin.


"Kenapa kamu tidak terkejut, Put?"


"Ya, karena aku sudah mengira Riana orangnya." Jawabnya.


"Luar biasa bukan..."


Rania menurunkan Alisa dari gendongannya. Alisa pun berjalan menghampiri teman temannya untuk kembali bermain, tentunya dalam pengawasan.


"Mereka mengkhianatiku dan berani sekali tinggal bersama di rumahku untuk menyembunyikan perbuatan busuk mereka."

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini, Put. Aku takut kehilangan mas Dimas." Lanjutnya.


"Ra, kenapa kamu takut kehilangan lelaki seperti Dimas. Dia hanya laki laki yang tidak punya hati."


"Aku tahu itu, Put. Tapi aku sangat mencintai mas Dimas." Menunduk kesal pada diirnya sendiri yang terlalu dalam mencintai suaminya yang jelas jelas mengkhianatinya.


"Ra, kamu wanita yang kuat, tegar dan cantik. Akan mudah bagimu untuk dicintai oleh pria yang jauh lebih baik dari Dimas." Bujuk Putri.


"Aku hanya mencintai mas Dimas, Put. Bagiku dia duniaku. Saat aku kehilangan dia, itu artinya duniaku hancur, kiamat Put." Air matanya menetes begitu saja.


Putri hanya bisa diam sambil menepuk pelan punggung Rania untuk menenangkannya. Percuma Putri bicara, karena Rania masih akan terus mengatakan sangat mencintai Dimas.


"Apa yang harus aku lakukan, Put."


"Kenapa aku sangat mencintai Dimas. Aku bahkan merasa bisa memaafkannya jika dia jujur padaku tentang perselingkuhannya dengan Riana."


"Aku sudah menjadi wanita yang sangat rendah, Put. Aku mencintainya terlalu dalam. Bahkan aku sangat terobsesi mempertahankan rumah tanggaku." Tuturnya sambil terisak.


"Ra, kamu tenang ya... Alisa melihat kearah kita." Bisik Putri mencoba mengalihkan fokus Rania.


Benar saja, dia langsung menghapus air matanya dan tersenyum menatap Alisa yang sejak tadi juga menatap padanya.


"Alisa sayang, sini nak peluk Anty..."

__ADS_1


Rania berjongkok, sambil merentangkan tangannya. Alisa pun melangkah cepat dan menghambur dalam pelukan Rania. Alisa bagaikan malaikat yang dikirimkan untuk menghiburnya, kehadiran Alisa membuat air mata kesedihan berubah menjadi senyum, canda dan tawa untuk Rania.


__ADS_2