Suamiku Tidak Dewasa

Suamiku Tidak Dewasa
Niat Amira


__ADS_3

"Amira, tidak bereaksi terhadap respon yang ditunjukkan Amira.


Setelah merasa usahanya gagal, terlebih mama Amira juga ikut campur membuat Nova mengurungkan niatnya dan segera berlalu pulang.


Setelah para tamu yang tak di undang itu berlalu Amira bermain dengan Zyan sebentar dan melanjutkan niatnya untuk membaca sebanyak mungkin jurnal.


" Mmmm, tadi sempat melihat pamflet Revolusi Industri 4.0 , kemungkinan dunia akuntansi terkena dampak tidak ya,.?"


"Kayaknya itu menarik buat diteliti, mengingat sekarang sudah hampir digitalisasi. "ujar Amira sembari membuka beberapa tempat jurnal.


" Aku lihat di Emerald dulu deh biar ngak penasaran.... "?


" Yup dapat 2 jurnal...., "


"Oke sekarang aku coba collect di Science Direct"...


" Effect Digitalisation an Accounting in Era. 4.0"


ini pas juga !


"Sekarang coba aku search yang Indonesia punya dulu deh jurnalnya, sudah banyak atau beberapa...?. " ujar Amira sembari tangannya bermain di atas keyboard.


"Yup, Google scholar.... coba cari dampak Digitalisasi terhadap akuntansi di era 4.0? " ujar Amira sembari mengetiknya.


Setelah berhasil mengumpulkan 10 jurnal yang berasal dari Indonesia, negara tetangga dan lainnya, Amira berusaha membuat tabel penelitian terdahulu untuk melihat kemungkinan penelitian berikutnya.


"Oke, disini untuk variabel nya masih bisa aku tambahkan, objeknya pun cakupannya belum cukup luas dan subject nya juga,"


" fFix.. aku coba ini. "Gumam Amira setelah selesai memuat tabel penelitian terdahulu.


" Tepat jam 3.00 dini hari Amira selesai dengan pekerjaannya.


Sebelum melanjutkan tidur Amira memilih untuk sholat qiyamul lail terlebih dahulu.


"Ya Allah, permudahlah segalanya bagi hamba, pertemukanlah hamba dengan pembimbing yang membantu hamba menyelesaikannya tesis tepat waktu, dan jauhkanlah hamba dari rasa malas. aamiiin" ucap Amira sembari menyapukan telapak tangannya ke seluruh wajahnya.


Tak terasa pagi datang begitu cepat, berhubung hari minggu Amira memilih untuk jalan-jalan ke gor.


"Sudah siap oma?..., ucap Amira yang lagi merapikan topi Zyan sbagai kegiatan akhir dari merapikan anaknya.


" Sudah.., sudah, ! Ucap mama Amira sembari. mengambil helem.


"Yuk papa zyan.., tutup pintu nya lagi..! " ujar Amira sembari mengambil motor dan memasangkan helem nya.


"Amira membonceng mama dan Zyan dengan scooter matic mio merah sedangkan Angga sendiri dengan motor bebek revonya.


" Abang duluan jalannya, Amira ngikut di belakang abang karena Amira kurang hafal jalan ke gornya. "ujar Amira.


Angga pun memimpin jalan di depan.


Amira kesulitan mengikuti jejak Angga yang membawa motor terlalu ngebut.


" Setelah berusaha mengejar dan mensejajarkan motornya dijalanan Amira berujar.


"Bang.... jangan ngebut-ngebut susah adek mengikuti dan kasihan Zyan kalau kencang kali! " Ujar Amira dan memilih mengurangi kecepatannya setelah itu.


Kurang dari 30 menit Amira dan Anga telah sampai ditempat gor dengan.


"Alhamdulillah sayang, akhirnya kita sampai juga.


" Ramenya lagi..! "ujar mama Amira sambil melepas helem nya.


" Iya ma, setiap hari minggu memang ramai disini, ada yang jogging ada yang senam dan ada yang jualan ujar Amira sambil menggandeng tangan mama Amira.


"Zyan, jalannya sama papa ya..! " pinta Amira setelah melihat Angga yang langsung jalan sendiri lupa kalau sudah beristri.


"Papa.... zyan...., Zyan mau jalan sama papa katanya...! " Ucap Amira setengah berteriak karena memang Angga sudah jauh.


Setelah keliling 2 putaran, Amira dan mama membeli buah-buahan sementara zyan tinggal dengan papanya dilapangan sambil naik mobil-mobilan.


"Amira yang sampai ditempat itu langsung protes..


" Bang, kalau menemani anak itu diajak ngobrol dan dikasih semangat... bukannya diam-diak dan jaraknya jauh-jauh.


"ini kan pakai remot.. ".

__ADS_1


" Kalau ngak jalankan kan sendiri.! ".ujar Angga sembari menyerahkan remot tersebut kepada Amira dan memilih tepat berteduh.


Amira yang memang dengan sepenuh hati mencintai dan mendidik Anaknya tak merasa keberatan berlari-lari kecil demi mengikuti dan menyemangati zyan.


" Ayok sayang, putar kanan sayang... Ooow..... hampir.... zyan hebat.! " ucap Amira memberi respon saat zyan hampir saja menabrak mobil anak lainnya.


"Selesai bermain Amira memilih mengajak makan di tempat yang cukup bagus di GOR tersebut.


" Yok.. kita kesana mama, bang, kayaknya rame pasti enak.! "ujar Amira sembari meggendong zyan yang mulai kelelahan.


" Angga langsung protes.


"Jangan.. tempatnya bagus, pasti mahal.. kita diwarung luar ini saja dekat jalan ini.. enak dan juga murah! " ujar Angga santai seenaknya.


Amira yang memang bertekad untuk membuat perjalanannya terasa special apalagi ia mengajak mamanya merasa keberatan.


"Maaf bang, kita pergi keluarnya sama-sama cuman sekali seminggu, ngak masalah mahal sedikit karena memang Amira kerja untuk itu."


"yang pertama dibahagiakan diri kita sendiri terlebih dulu, baru jika berlebih kasih ke saudara, tetangga, dan lainnya.


" Bukan royal untuk orang lain atau keluarga tapi pelit untuk diri sendiri. " itu bukan kamus hidup Amira." Ucap Amira dan berlalu memilih meja disana.


Angga yang terpojok dengan kata-kata Amira berusaha masuk.


"Ngak usah khwatir ini Amira yang traktir.! ujar Amira setelah melihat ekpresi Angga sambil melihat buku menu dan memilih beberapa.


" Mama Amira juga diam saja karena kesal juga melihat menatunya yang perhitungan. Apa-apa cari yang murah semntara untuk adik, keluarga orangtuanya tidak pernah mikir langsung dikeluarkan.


Setelah selesai makan zyan melihat balon-balon anak motif boboby..


"Mau.... mau..., pengen itu ummi" tunjuk zyan sambil memegang tangan Amira untuk segera beranjak kesana


" Berapa satu pak?


"Rp. 10.000, saja nak,! ujar bapak tersebut.


" Kita ambil yang ini ya pak"ujar Amira sembari menyerahkan uang pas sepuluh ribuan.


"Bang, abang yang bawa mainannya ya.! " ucap Amira menyerahkan balon tersebut kepada Angga.


" Awalnya Angga mengikuti dan membawa motornya pelan-pelan.


Namun tiba-tiba.


"Kok bang Angga berhenti ya? tanya Amira bersamaan sama mamanya.


Tak lama kemudian, Angga meninggalkan Amira dengan laju motor yang cukup tinggi dan balon tersebut dipindahkan ikatannya kebangku belakang.


"lho... itu nanti bisa terbang! " ucap Amira cukup khawatir karena kecepatan Angga yang lumayan tinggi.


"Amira berusaha mengejar Angga dengan menambah laju kecepatannya namun tak terkejar.


dan...


" Yahhh, terbang balonnya..! "ujar Amira begitu melihat balon tersebut terlepas dari ikatan dan segera mengudara di udara.


" Dasar papa Zyan.. ngak nyimak sudah diingatkan malah tidak mendengar. " Ucap Amita sambil. menggerutu dalam hatim


"Kayak mana suami mu tu Amira..?"


"Mau menang sendiri, bawa motor kencang-kencang, jelas istrinya mengikuti di belakang.. benar-benar ngak ada pemikirannya..! " ujar mama Amira yang begitu mudah kecewa melihat sikap Angga yang mau menang sendiri.


"Sabar, sabarkan hati ku ya Allah.. " lirih Amira dalam hati sambil sesekali tangganya meraba zyan kebelakang.


Tepat jam 11 mereka sampai.


Angga langsung masuk kamar dan mencari kasur.


Sementara Amira bercengkarama dengan Mama dan membiarkan Zyan tidur dikasur.


"Amira, ingatkan Angga.. untuk jangan gadai-gadai lagi atau kasih apapun dalam jumlah besar ke keluarganya, ! "


"Saran mama, pancing Angga supaya termotivasi untuk buat rumah secepatnya, kalau ngak banyak cara dari keluarganya untuk mementa uang itu, ngak mamanya, papanya, adiknya pun sama, sama-sama rakus semua." Ujar Mmaa Maira setengah berbisik.


"Iya ma.. nanti Amira kasih pengertian."

__ADS_1


Sore harinya saat mama dan Zyan main ke tempat tetangga Amira berunding..


" Bang, kalau bisa jangan ada lagi bantuan dalam jumlah yang besar ke keluarga abang kalau memang sifatnya tidak urgen.. apalagi hanya untuk beli mobil.


"Kalau bicara butuh, lebih butuh lah kita lagi.. '


" Kita punya anak kecil.. dan Amira bukan orang Padang otomatis ada saatnya kitanpulang kampung."


"Sedangkan adik abang.. suaminya juga orang Padang.. anaknya ada 3..bagaimana mungkin dia bisa bilang mobil itu


..."kalau seandainya jadi beli pakailah sesuka Amira.". ...


" Nyatanya yang candu pergi dan raun adalah adik abang... itu basa _basi..


"Tolonglah dewasa sedikit, hal seperti itu seharusnya langsung bang jawab tegas. " Ucap Amira.


" Iya.. bang ngak bisa melihat dia sedih.. "ucap Angga santai


" Bang.. bang ngak bisa melihat adik abang sedih.. sementara abang tega membuat hati mama Amira terluka dan kami menderita... apa pantas kita pulang dengan motor sambil membawa Zyan ?


"kasihan bang.. dan tak pantas karena papanya dosen PNS, kalau papanya cuman pedaaga kecil adek bakalan maklum dan tidak menuntut ";'Ujar Amira panjang lebar.


"Iya... abang cuman bertanya... agar Amira tau. "


"Untuk sekarang, tolong jangan cerita apapun kekeluarga abang tentang pendapatan abang, toh janji mama abang untuk ganti gadai SK dengan membayar Rp. 100.000 perbulan sampai hari ini nol..


" Biar uangnya Amira kendalikan kalau abang tulus untuk berumah tangga insyaAllah berhasil kita.. kalau ngak ngak bakalaa maju-maju. " Jelas Amira dengan posisi duduk yang masih sma


Semntara Angga mulai merasa panas dan memilih keluar dengan motornya.


"Bang.. Amira belum selesai bicara. ! "ujar Amira sambil mengejar Angga ke depan pintu.


Selang berganti dan Angga pulang sesukanya.


Sementara di kantor, sedang ada kegiatan akreditasi yang membuat banyak bagian sibuk.


Siang itu Amira mengikuti rapat dan ditengah rapat wakil dekan 2 membahas pekerjaan tambahan untukb tiap bagian termasuk didalamnya untuk Amira.


" Amira..., karena kita akan akreditasi jadi Amira masuk di tim akreditasi bagian pengurusan perlengkapan data jadi, pulangnya otomatis agak berbeda dan sampai malam karena kita mengejar deadline, bagaimana...? " tanya dekan tersebut


"Amira, yang sat itu juga dikejar deadline akhir tahun, merasa keberatan dengan tugas tambahan tersebut karena dia harus menyelesaiksn SPJ yang lumayan banyak diwakatu yang bersamaan dengan kegiatan akreditasi.


" Maaf sebelumnya pak..., Amira tidak masalah bekerja lebih dan pulangnya malam namun diwaktu tersebut Amira juga deadline pencairan dana jadi Amira khawatir tidak bisa mengerjakannya maksimal.. apa bisa Amira tidak ikut tim akreditasi? "


"... Bersamaan ya!...,? "ucap Wakil dekan sembari melihat berkas pencairan dana yang mau dikerjakan Amira...


" Oke... baiklah kalau memang kondisinya seperti ini ngak masalah.. "


"Makasih pak, Amira pamit undur diri dari ruang rapat dan kembali keruangannya.


" Bagaimana Amira, berapa jobs yang mau dikerjakan!? " tanya orang diruangan yang kebetulan tidak ditunjuk jadi tim akreditasi


"Amira menolaknya dengan alasan deadline.. kita.! "


"Wah bisa.. beraninya lagi..? " jawab kakak tersebut...


"Keren Amira mah. "?


.. " Iya.. ngak yakin Amira bisa menyelesaikan jika waktunya bersmaan..


"Mmmm" Ujar kaka tersebut sembari. mengalihkan pembicaraan.


"Amira duduk diruang makan sebentar bersama dengan kakak diruangannyan yang cukup dekat dengan Amira.


Amira, kalau semua lancar wisuda tahun depan ya


.. " habis itu rencananya apa? tanya kak Rani


"InsyaAllah, kak kalau terkejar..


" Rencananya Amira akan resign kak.. . Mau pindah pulkam biar mama ngak harus disini dan Amira bisa mencari kerja dosen disana..


"Ooh..., semoga ya... " Ucap Kaka tersebut


Tanpa sadar.. Amira mengali kuburannya sendiri dengan memberitahu perihal rencana tersebut..

__ADS_1


__ADS_2