
"Inah... Inah..."
Setelah pulang dari toko roti Shania tak langsung ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya disofa ruang tv. Ia memejamkan matanya sejenak sambil memijit dahinya. Sungguh masalahnya ini menguras tenaga.
"Iya non Shania ada apa?"
"duduk sini silahkan" Ia menepuk tempat disebelahnya. Ia ingin berbicara serius dengannya.
"Heummm..." Shania menarik nafasnya dalam dan membuangnya cepat. Sebenarnya ia bingung harus menceritakan masalah ini pada Inah atau tidak karena walaupun ia sudah menganggap Inah seperti saudara sendiri tapi masalah ini sangat intens.
"Inah kamu habis ini aku pindahkan kerja ke toko rotiku sekalian tidur diasrama disana" perintah Shania. Ia sebenarnya enggak menjelaskan tapi...
"Saya akan segera cerai dengan kak Zu. kau tak perlu tau alasannya nanti aku sedih lagi" kata Shania lirih. Hatinya sakit lagi.
"Iya non saya turut berduka cita. Saya yakin semua ini ada hikmahnya. Yang sabar ya non"
***
Hari ini adalah hari dimana Shania dan Inah pergi dari rumah. Ia sudah mengemasi semua pakaiannya sejak dua hari lalu ketika sudah izin pada umi Fatimah.
Barang milik Shania sangat banyak. Ia sedikit bingung harus meletakkan barangnya dimana. Tak mungkin ia membawa semua itu ke panti asuhan, ia hanya menumpang. Seandainya dibawa pulang juga tak mungkin, pasti akan menimbulkan kecurigaan mamanya.
"Bagaimana kalau ditaruh ditoko non?"
Shania tersenyum senang. Ia setuju dengan saran Inah.
"kau hebat Inah" sanjungnya sambil mengelus punggung Inah.
Toko roti itu adalah toko milik Shania. Walaupun sebenarnya Zu yang memberikan itu pada Shania. Ia sudah berjanji akan mengembalikan toko itu pada pemiliknya jika memang sudah saatnya. Ia sudah membicarakan ini pada umi Fatimah tapi beliau berkata jika toko itu milik Shania sampai kapanpun karena Zu sudah mengganti nama pemilik usaha menjadi nama Shania.
"biar diurus Zizah umi. Ini bukan hak saya" katanya waktu itu.
"Saya minta bantuanmu. Urus dulu toko itu Zizah juga masih di Mesir" umi Fatimah berusaha membuat Shania percaya jika ia hanya mengurus sementara waktu dan akan kembali pada keluarga Zu. Padahal tak akan sampai kapanpun. Umi Fatimah tak gila harta.
Semua pegawai toko berhenti dengan aktifitasnya, mereka berdiri kemudian membungkukkan tubuhnya.
"Assaalamualaikum semua" sapa Shania ramah. Semua pegawai menjawabnya dengan senyum.
"Bisa saya saja yang antar Inah ke asramanya. Mbak Shania istirahat saja dulu diruangan" tawar Ghina
__ADS_1
Shania sejak awal sudah bilang jika Inah akan pindah kerja di toko. Tapi ia tak bilang masalah yang ia hadapi, Shania sangat sensitif apabila membahas tentang keluarga.
"Baiklah. Setelah itu kamu segera ke ruanganku ya Ghina"
Tok...
tok...
tok...
"Assalamualaikum mbak Shania"
"Waalaikum salam Ghina. masuk" Ia mempersilahkan Ghina masuk dan duduk disofa. Shania beranjak dari kursi besar menuju sofa juga agar pembicaraan mereka santai.
"Bagaimana kabar? maaf aku beberapa hari ini lumayan sibuk"
"Bahkan untuk waktu mendatang sepertinya aku akan cuti dulu" lanjutnya.
Ghina sedikit kaget, tapi ia bisa menyembunyikannya. Ia menunggu hingga Shania menjelaskan.
"Sayang sudah bercerai dengan suaminya. jadi saya harus iddah. Jadi saya titip toko ya" katanya tanpa basa-basi.
Ghina sangat kaget. Ia tak yakin apa yang dikatakan boss baru saja. Hubungan mereka terlihat harmonis. Apalagi Zu yang terlihat selalu memanjakan istrinya. Ghina bukan orang lain, ia kenal betul tentang Shania dan keluarganya.
Matanya menangkap sosok Shania yang menahan air matanya keluar. Tapi Shania memalingkan pandangan.
"Ada apa ini mbak?" tanyanya hati-hati.
"aku ditalak sama dia"
"Astagfirullah" Ghina menutup mulutnya dengan tangan. Ia tak mampu berkata apapun. Hatinya ikut sakit karena kasihan.
Shania menceritakan masalah itu pada Ghina. Ghina menatapnya iba. Bahkan lebih-lebih kasihan pada Shania. Usia Shania masih sangat muda tapi cobaanya begitu berat.
****
Mentari benerang. Ia mengawali hari barunya dengan senyum. Tak ada yang diharapkan lagi dari manusia karena semua harapan hanya disandarkan pada sang pencipta.
Shania membantu bu Wiji untuk memasak didapur panti. Disana ada beberapa orang juga yang ikut membantu.
__ADS_1
Ini adalah panti asuhan anak, khusus anak saja. Jadi Shania merasa aman ketika masa iddahnya disana. Tak ada yang berlalu lalang dipanti kecuali pengurus yang sesama perempuan.
"Shania,bagaimana dengan toko rotimu?" tanya bu Wiji sambil mengaduk sayur di panci atas kompor.
"Alhamdulillah bu sudah diurus teman-teman" jawabnya menoleh singkat.
"Alhamdulillah. setelah masa iddah apa yang akan kamu lakukan nak?"
"insya allah saya mau kuliah bu. doakan ya"
"Baik insya allah"
Selepas Shania menyiapkan makanan, ia kembali kekamarnya. Shania mendapat kamar khusus, maksudnya kamar itu hanya berisi dia saja. Sebenarnya ia tak mau , ia ingin tidur bersama pengurus panti lainnya yang usianya tidak beda jauh dari Shania tapi bu Wiji melarangnya. Ia mendapat kamar berisi dirinya seorang.
"bismillahirrohmanirrohim" Shania mulai membuka mushaf qurannya dan membacanya dengan tartil. Ia tak pernah meninggalkan murojaahnya walaupun keadaan hati sedang kalut. Ia percaya jika ia menjaga quran maka Allah akan menjaganya.
"Assalamualaikum" terdengar suara ketukan pintu disana. Shania segera menutup quran dan beranjak dari duduknya.
"Waalaikum salam ya ada apa?" tanya Shania sopan.
"Maaf mbak Shania ini sarapannya" ia menyerahkan satu nampan berisi nasi, lauk,buah beserta minumnya.
"Wah terima kasih. oh iya ini sepertinya bukan makanan pagi tadi" Shania heran, ia tadi memasak sayur bayam dan bakwan jagung tapi didepannya ada ayam goreng dan sayur sop ditambah lagi didapur tadi tidak ada buah sedangkan sekarang ada buah pisan juga semangka yang sudah dipotonh siap makan.
" i.. iya mbak, maaf. Makanan tadi sudah habis oleh adik-adik jadi ini kita baru buat lagi" jawabnya gugup.
"Seharusnya kalian tak perlu repot-repot masak biar saya telepon asisten saya untuk mengantar makanan. Astagfirullah" Ia merasa tak enak hati. Semua fasilitas ia dapat, Shania faham jika dia termasuk donatur disini. Tapi seharusnya perlakuan untuknya dan yang lain tetap sama.
" tidak papa mbak Shania. ini sudah menjadi tugas kami. Saya permisi Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawabnya lirih sambil menatap kepergiannya.
Shania menutup pintu kamar dan meletakkan nampan itu diatas meja.
"Ahh apa aku merepotkan ya disini?"
"Aku merasa tak enak diperlakukan berbeda"
jangan lupa like,vote and coment. plisas kasi aku tip maksa nih😢
__ADS_1