
Weekend ini tak ada acara apapun, Fahri tidur kembali setelah sholat subuh.
Matanya yang baru terpejam setengah jam mendapatkan usikan dari seseorang, siapa lagi kalau bukan istrinya si Shania.
Wanita itu meraba-raba wajah sang suami agar bangun. Tapi Fahri belum juga membuka mata. Tak habis cara, Shania mencapit hidung mancung itu dengan tangannya cukup lama.
"Hah... hah... hah...." Fahri ngos-ngosan karena beberapa detik tak menghirup oksigen.
"Apa sih sayang?" Tanya Fahri dengan suara berat khas bangun tidur, tak lupa ia menyelipkan senyum indahnya.
"Bangun kak... ayo jalan-jalan" rengek Shania sambil cemberut. Fahri mengangkat kepalanya dan mencium sekilas bibir mecucu itu.
"Ayooo!" Ajak Fahri bergegas setelah mendapat vitamin extra.
Shania membalas Fahri dengan mencium pipi pria itu cukup lama kemudian pergi meninggalkan pria itu sendiri.
Fahri mengacak rambutnya frustasi, entahlah ia masih merasa mimpi dengan kehadiran Shania dalam hidupnya.
Selesai mandi Fahri sudah mendapati pakaiannya diatas kasur, pastilah Shania yang menyiapkannya.
"Selamat pagi Cici" Sapa Fahri ketika ia menuruni tangga. Bocah itu sedang menikmati susu coklat tersenyum kemudian berdiri dan meminta pangku Fahri.
"Kok cantik, mau kemana?" Goda Fahri sambil menciumi pipi gembul itu.
"Kata mama kita mau jalan-jalan?" Tanya polos. Fahri mengernyitkan dahi.
"Mama sama papa aja yang akan keluar. kamu dirumah sama mbak Anggi"
Seketika wajah Cici berubah, awalnya cerah gembira kini nampak mendung menahan air mata.
"Jangan kayak gitu lah kak.suka banget buat Cici sedih" Tiba-tiba Shania datang membawa secangkir kopi, Fahri hanya tertawa.
"Tenang aja Cici! kalau papa gak ngajak Cici entar kita keluar sendiri dan papa kita tinggal dirumah" Seru Shania. Bocah itu mengacungkan jempol dan tersenyum.
"Gak mau sama papa, jahat!" Cici langsung turun dari pangkuan pria itu dan kembali ke tempatnya. Ia mengalihkan pandangan karena kesal.
"Uhhh anak papa yang cantik dan imut. Pap cuma bercanda sayang" Rayu Fahri, tapi tetap saja Cici tak menghiraukannya.
__ADS_1
Selepas makan mereka segera bersiap. Shania membawa kebutuhan mereka untuk nanti.
Fahri menduduki bangku pengemudi, sedangkan Shania duduk disampingnya. Cici sudah tenang dengan mainannya dibangku belakang. Mbak Anggi libur di hari weekend karena Shania ingin menghabiskan waktunya untuk anak dan suami.
"Yang mau kemana nih?" Tanya Fahri sambil memegang kemudi. Pria itu menatap istri cantiknya sekilas.
"Terserah kamu aja kak. Aku ngikut" Jawabnya sambil senyum. Fahri pun mengangkat dua bahunya.
Dalam perjalanan mereka hanya diam karena Shania tak ingin merusak konsentrasi sang suamj. Sedangkan Cici asyik dengan mainannya.
"Ke taman yuk yang. Kayaknya seru" ucap Fahri. Ia sudah mengarahkan mobilnya ketemoat tujuan, Shania hanya mengangguk mengikuti perintah sang suami.
Setibanya ditaman mereka turun dari mobil. Pagi menjelang siang tampak rame ditempat itu. Banyak anak kecil bermain ayunan, jungkat-jungkit. Bahkan ada yang hanya duduk di gazebo menikmati keramaian disana.
"Mah, aku mau main itu" Cici menunjuk kearah ayunan. Wajahnya tampak gembira melihat keramaian disana.
"Ayo sayang" Shania mengikuti Cici sedangkan Fahri mencari tempat duduk disana.
"Aku disini ya sayang.Kamu sama Cici aja"
"Hah.... hah... hah.... Aku capek ma" Ucap Cici pada Shania. Kini mereka sudah ada disamping Fahri.
" Biar mama belikan minuman itu dulu sayang. Tunggu sini yah" Shania beranjak dari duduknya dan pergi kepenjual minuman yang berada disekitar taman.
"Pah, Cici mau itu" Cici menunjuk gerobak yang menjual somay. Fahri pun mengangguk dan menyusul Shania.
"Ayo kesana sayang" Fahri menggendong bocah itu. Terlebih dahulu mereka pergi ke Shania.
"Cici minta itu" Kata Fahri menunjuk kearah yang ditunjuk Cici tadi.
"Ya udah kak belikan. Aku sama Cici nunggu ini dulu" Fahri pun melangkah kesana dan memesankan untuk mereka semua.
"Bu somay 3 porsi yaa" Ucap Fahri pada penjual. Ia menunggu sambil berdiri.
"Udah kak? pesen berapa?"
"Aku pesan 3 porsi, kurang?"
__ADS_1
"Ya enggaklah." Mereka pun mengobrol sambil menunggu pesanan mereka selesai.
"Mas belum punya istri ya? sama anak saya aja" Celetuk seseorang tiba-tiba. Fahri dan Shania pun saling pandang.
"Ini adiknya kan? Saya punya cowok seusia mas, entar sama mbaknya aja dan masnya sama ponakkan saya" Kata ibuk itu lagi sambil terkekeh.
"Ini istri dan anak saya bu." Jelas Fahri.
"Tadi panggilnya kakak. Jangan jual mahal lah mas" Goda ibu itu lagi sambil terkekeh. Fahri pun tersenyum dan pamit pergi enggan menanggapi lebih lanjut ucapan orang itu.
"Yang, kamu jangan panggil aku kakak deh. " Protes Fahri. Shania yang menikmati somaynya tiba-tiba berhenti.
"Emang kenapa sih kak? kan beda dari yang lain" Elak Shania.
"Kamu mau kayak tadi lagi. Aku enggak mau kamu panggil aku kakak lagi" Perintah Fahri tak ingin ditolak. Shania mengelus pipi yang ditumbuhi bulu itu supaya si empunya luluh.
"Iyah sayang ku cintaku...."
"Mau panggil apa?" Tanya Fahri ketika rasa kesalnya sudah surut.
" bibi atau hubby atau abang atau mas atau yang atau bebeb atau...." Belum selesai mengucap Fahri pun mencium pipinya. Rasa malu itu menjalar keseluruh tubuh Shania, ini tempat umum.
"Panggil aku hubby " Jawab Fahri mendekatkan bibirnya ke pipi Shania.
"baiklah bi"
Sesudah perdebatan singkat itu,mereka melirik Cici. Bocah itu terlihat sudah mengantuk. Maka mereka memutuskan untuk pulang kerumah.
Dan perjalanan Shania memangku Cici. Ia sebenarnya juga mengantuk tapi tak mungkin ikut tidur.
Setibanya dirumah mereka istirahat karena waktu sudah sore.
haaiiiii.... aku up sekarang! Alhamdulillah dapet inspirasi sih tadiπ semoga lebih rajin lagi.
i love you sayangππππ
π· : choirul_amaliyah26
__ADS_1