Surga Baruku

Surga Baruku
20


__ADS_3

"Biasanya kalau habis dari toko kamu kemana lagi Shan?" tanya Zizah. Ia tak henti-hentinya menikmati roti hasil karya toko milik saudara sekaligus sahabatnya itu.


"Kalau hari ini aku ada jadwal ke panti sih"


"Ahhh pingin ikut,boleh ya?"


"Bolehlah, kenapa enggak"


Mereka melanjutkan berbincang. Zizah menceritakan kegiatannya di Mesir. Mulai dari pendidikannya sampai adat disana. Dulu sebenarnya Shania akan bersama Zizah melanjutkan pendidikan di Mesir, tapi karena Shania sudah dijemput Zu untuk dipersunting maka ia mengubur keinginannya dan sekarang pun ia sudah tak mempunyai keinginan kesana lagi.


Umi Fatimah meninggalkan mereka berdua kedalam. Jadi Shania tak sungkan bercanda dan bercerita hal konyol yang pernah ia lakukan dulu.


"Sekarang waktunya ke panti. Yuk siap-siap!" Ajak Shania. Mereka bangkit dari duduk dan pergi bersiap.


Setelah pamit mereka langsung menuju mobil dan berangkat. Sebelum tiba di panti Shania mengajak Zizah untuk membeli cemilan untuk adik-adik panti.


Ia menepikan mobilnya di salah satu super market.


"Mau ngapain Shan?"


"Kita beli cemilan dulu untuk adik-adik"


Setelah membawa dua kantong besar, Shania dan Zizah melanjutkan perjalanan. Zizah merasa ini adalah jalan ke panti asuhan milik orang tua Fahri tapi ia memilih diam dan tidak bertanya pada Shania yang mengemudi.


Tiba mereka di panti. Dugaan Zizah benar jika itu adalah panti asuhan milik orang tua Fahri. Ia tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya.


"Ada Cici rupanya di dalam" Batin Shania karena ia melihat ada mobil Fahri terparkir.


" Ini panti asuhan bu Wiji gak sih?" Tanya Zizah berusaha mengingat.


"Yap kamu betul, Ayo masuk!"


Mereka masuk kedalam panti, banyak anak kecil menyambutnya. Dari berbagai sudut menyapa Shania dan memandang orang asing di samping Shania.


Ia langsung membagikan cemilan itu pada adik-adik dengan rata. Tinggal satu kantong kecil ia sisihkan untuk Cici. Shania sudah berkeliling semua tempat tapi tak menemukan sosok kecil itu.


"Kemana Cici?" batinnya.

__ADS_1


"Kak Shannnnn...." teriak seorang bocah kecil yang lucu dari arah belakang Shania dan Zizah, ia tersenyum dan berjongkok menyamai tubuh Cici.


"lama tak beltemu" katanya, Shania mencubit pipi gembul itu.


"maaf kak sibuk sayang"


"Ahhh kak Fahri" Sapa Zizah. Ia tersenyum pada pria itu, senang menjalar dihatinya karena bisa bertemu sosok yang sangat ia idamkan sejak dulu. Fahri hanya tersenyum singkat dan menatap Cici juga Shania.


"Lama kamu gak kesini Shan" ia memulai pembicaraan. Kalau boleh jujur Fahri sangat rindu pada Shania.


"Ah iya kak. Soalnya jadwalnya akhir-akhir ini padat banget. Kalian udah saling kenal?"


"Iya, aku sering ke pesantren dulu buat jenguk kak Zu dan kak Fahri, iya kan kak?"


Fahri hanya tersenyum singkat dan tak menghiraukannya. Fahri kembali menatap Cici dan Shania yang asyik berbincang, Cici menceritakan semuanya karena ia lama tak berdongeng ria dengan Shania.


"Aku kesana dulu ya mau duduk sama Cici. Kalian lanjut aja ceritanya" kata Shania. Fahri sedikit kaget karena Shania memberi peluang Zizah untuk berbincang.


"Apa dia memang benar-benar tak menyukaiku hingga membiarkan aku berbincang dengan Zizah" gumam Fahri dalam hati.


"Ati-ati kalo ngomong Zizah. Biasanya kalau benci banget lama-lama jadi cinta" Zu mengingat kan adiknya. Saat itu usia Zizah 17 tahu. Ia tinggal diasrama bersama Shania.


"Gak peduli! Kalau aku bilang gak suka ya gak suka bang. udah ahhhh! nyebelin" Sahut Zizah langsung pergi meninggalkan kakaknya.


Hp Zizah tertinggal di sofa, tepat disamping Zu. Ia menatap ponsel itu, ada satu pesan masuk.


Zu tersenyum, ternyata itu dari Fahri. Ia mengajak Zizah bertemu. Maka dengan isengnya Zu mengiyakan ajakan Fahri. Ia tertawa cekikikan.


Zizah tak menyukai Fahri. Ia sudah memiliki pria idaman, tapi karena rasa sungkan ia tak bisa menolak. Ia selalu uring-uringan ketika dirumah dan tak ada Fahri. Karena hidupnya penuh dengan akting menghadapi hubungannya dengan Fahri. Apalagi Zu selalu berusaha mendekatkan mereka karena saat itu Zu juga sudah mulai tertarik dengan Shania.


"Ayo ikut abang ke taman. Entar aku belikan ea krim deh" Zu pura-pura membujuk adiknya, padahal niatnya adalah mempertemukan Fahri dengan Zizah. Zizah selalu menolak ajakan Fahri, tapi tetap santun karena rasa sungkan tadi.


"iya ayoo bang" Zizah sudah siap. Mereka berangkat dengan mobil Fahri.


Setibanya ditaman, Zizah langsung turun sedangkan Zu bilang akan memarkirkan mobil dulu padahal ia berbohong. Ia berniat meninggalkan Zizah dan membiarkan ia pulang dengan Fahri.


"Lama banget sih" gerutunya sambil menoleh kanan kiri.

__ADS_1


"Maaf baru sampai" ucap seseorang dari arah belakang. Zizah kaget karena itu bukan suara kakaknya, ia menoleh.


"kak Fahri? ngapain disini?" tanya bingung. Fahri lebih bingung lagi.


"Aku tadi kan ngajak kamu ketemu dan kamu mintanya di taman ini"


"Ahhh bodoh" gumamnya. Suara itu terdengar sampai telinga Fahri. Ia kaget ternyata Zizah yang terlihat kalem bisa mengucapkan kata-kata kasar seperti itu.


Fahri sejak dulu tampan dan cool, tapi entah kenapa Zizah tak menyukai. Mungkin karena ia sudah mencintai yang lain.


Raut muka tak bersahabat mulai ia tampakkan. Wajahnya cemberut dan jarang bicara. Fahri yang awalnya bingung berusaha memahami.


"Kamu kenapa sih Zizah?"


Zizah membuang nafas kesal. Ia menatap Fahri lekat.


"Sebelumnya aku mau minta maaf kak. Jujur aku itu gak suka sama kak Fahri, aku sungkan kalau menolak kakak. Karena itu aku berusaha menerima. Tapi nyata sampai sekarang perasaanku gak tumbuh kak. Daripada entar lebih sakit mending kita akhir aja yaa" ungkap Zizah. Ada perasaan lega disana karena semua isi hatinya keluar. Ia tak perlu lagi berakting didepan Fahri dengan sikap seorang ia juga mencintai pria itu.


Fahri menatapnya. Ia merasa dihinakan oleh Zizah. Tak pernah sekalipun Fahri ditolak oleh siapapun. Bukan hanya tampan tapi dia juga kaya. Sebenarnya ia tak menggunakan kekayaannya untuk menarik hati perempuan. Tapi memang dilubuk hatinya yang terdalam ia mencintai Zizah


"Oh ternyata begitu? maaf jika aku terlalu memaksa dan aku berjanji tak akan mengganggumu lagi seterusnya"kalimat terakhir ia tekankan. Rasa malu bercampur dengan sakit hati. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan Zizah ditaman. Tak ada tawaran untuk mengantar pulang karena memang rasa sakit sudah tertancap.


Semenjak saat itu Fahri tak pernah menampakkan diri didepan Zizah. Ia fokus dengan Study dan pekerjaan. Tak ada lagi namanya cinta ataupun asmara hingga datanglah Cici yang membuatnya timbul rasa kasih sayang.


Beberapa setelah itu Zizah mengetahui orang yang ia sukai ternyata sudah dengan yang lain. Hatinya sangat patah bersamaan dengan harapannya.


Semenjak saat itu Zizah merasa menyesal


menolak mentah-mentah ungkapan perasaan Fahri. Ia ingin meminta maaf dan mengajaknya serius tapi entahlah. Ia tak punya nyali dan perasaanya dipenuhi rasa malu.


flashback off.


jangan lupa like,komen dan vote teman-teman. maaf kalau ada salah kata.


aku cinta kalian


📷 : choirul_amaliyah26

__ADS_1


__ADS_2