
Acara tamasya sekaligus pembacaan qur'an secara bil ghoib (tahfidz) tiba saatnya.
Shania berusaha melupakan sejenak masalahnya tapi tak bisa. Ia berdiri didepan cermin besar dikamarnya. Pagi ini ia sudah bersepakat dengan bu Wiji jika akan menggunakan baju putih. Ia menatap pantulan dirinya disana. Tubuh yang selama ini ia jaga agar tetap segar dan sehat terlihat sedikit kurus, wajahnya yang biasanya terkesal glow up sekarang sedikit kusam padahal Shania tak pernah keluar kemanapun. Penggunakan skincare ia lakukan seperti biasanya. Hanya saja ia jarang makan, seleranya selalu hilang tatkala menatap masakan Inah. Mungkin penyebab tubuh dan wajahnya seperti itu adalah karena pikirannya.
Tak semudah itu untuk mengikhlaskan kejadian ini. Kurang menghitung hari saja talaknya jatuh. Dengan segera ia akan menjadi janda.
Ia sangat berharap agar Zu meneleponya dan memohon maaf. Setiap pagi ia selalu menatap ponselnya, barangkali Zu menelepon dan memberinya penjelasan.
Sering sekali wanita itu melamun, Seakan raganya tak menyatu dengan pikiran. Matanya menatap nanar kesetiap sudut ruangan. Pikirannya berjalan jauh kembali kememori lama, ia mengingat saat-saat baru mengenal sang suami hingga menikah. Kadang pikirannya jika menerawan ke depan membayangkan ia menjadi janda.
"agghhh" ia berteriak sambil membenamkan wajahnya ketangan. Ia tak ingin membuat orang disekitarnya khawatir karena teriaknya.
Wajahnya berantakan lagi. Ia mengusap make up naturalnya kasar. liptik nya hilang karena usapan kasarnya, bedak tipis itu juga berantakan.
"Astagfirullah.... ampuni hamba ya robb"
Kesadarannya kembali. ia menangis lagi. Bukan karena masalahnya, tapi karena malu pada Allah. Ia tak mampu mengahadapi cobaan ini dengan Sabar.
Setelah kesadarannya kembali penuh, Shania pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan wajahnya dari make up yang rusak tak beraturan. Setelah itu ia kembali memolesnya dengan benar.
*panti asuhan MIFTAHUL HUDA*
"Assalamualaikum bu Wiji"
"Waalaikum salam nak. Akhirnya kamu datang juga."
Shania tersenyum senang menatap kumpulan anak kecil. Mereka semua menggunakan baju putih, cantik sekali.
"Dimana kak Aisyah bu?"
"Oh iya Aisyah tadi bilang pada ibu jika tak bisa ikut kesana. Dia ada acara lain di kampus dan tak bisa ditinggal."
"Tapi kamu tenang! nanti Fahri akan membantu kita disana. Ia akan ikut nak" lanjutnya. Shania pun tersenyum.
__ADS_1
*tiba di puncak*
Acara pun dimulai. Shania mendapat tugas untuk mengatur konsumsi anak-anak, jadi selama anak-anak mengaji Shania menyiapkan makanan bersama tiga orang petugas katering.
Selesai itu ia duduk disalah satu bangku taman. Ia menatap hamparan kebun teh, sangat indah. Senyumnya terukir indah disana. Ditangannya sudah ada mushaf qur'an, ia sudah berniat untuk mengaji juga walaupun ia sibuk mengatur acara.
flash back on
Ditaman rumah, Shania bersama Zu saling mendengarkan bacaan pasangannya. Kadang Shania mendapat teguran dari sang suami karena dianggapnya bacaan istri keliru. Shania menerima masukan itu dengan senang hati.
"abi.. aku ingin punya rumah yang tamannya luas. jadi kita bisa membaca qur'an sambil menikmati pemandangan"
"ide bagus umma. Gimana kalau kita bangun villa di puncak. pasti seru"
Flash back off
"kamu jahat kak Zu. mana janjimu" batinnya. Shania mengeluarkan air matanya lagi. Ia selalu teringat semua ucapan kelakuan Zu, apapun itu. Bahkan setiap angan-angannya dan Zu yang mereka bangun sejak awal menikah Shania selalu ingat.
"kak Shania kenapa" tiba-tiba ada seorang anak kecil, baru berumur 3 tahun. Nama Cici, dia gadis pandai dan cantik. Segera Shania menghapus air matanya. Ditolehkan pandangannya kekanan kekiri.
"kak Shania kenapa" tanya Cici lagi sedikit berteriak karena Shania mengabaikannya.
"oh maaf sayang. kak Shania tidak mengapa. kamu kok bisa disini?" ia pura-pura tak tau.
"kalau tidak mengapa kenapa itu matanya kelual ail?" ia masih belum fasih mengatakan huruf R.
"kak Shania kelilipan dek. Cici sama siapa kesini?"
"tu..." katanya sambil menunjuk Fahri. Shania mengikuti arah tangan balita itu dan tersenyum singkat pada Fahri.
"kak Fahli, kak Shania bohong ke aku. katanya kelilipan tapi matanya berail telus"
Shania dan Fahri tersenyum bersama mendengar ucapan anak kecil itu. Cici berbeda dengan yang lain, ia sangat cedas dan cantik tapi nasibnya malang.
__ADS_1
"boleh saya duduk disini?" Fahri mendekat dan meminta izin pada Shania.
Fahri adalah pria baik dan sopan.
"Silahkan kak Fahri"
Cici naik keatas pangkuan Fahri. Ia memeluk Fahri seperti ayahnya sendiri. Cici dan Fahri sangat akrab karena Fahrilah yang menemukan Cici saat bayi.
flash back on
Dulu saat Cici masih bayi orang tua Cici membuangnya didepan perusahaan Fahri. Waktu itu Fahri pulang larut malam karena banyak berkas yang harus ia tanda tangani.
"owekkk... owek.."
"Suara apa itu?" Fahri mencari asal suara itu. ia yakin jika itu suara bayi dan letaknya tak jauh dari ia berdiri.
Disampingnya ketika Fahri hendak membuka pintu ada kardus, ia sedikir menendangnya tapi suara bayi ternyata tepat dari kardus itu.
"Astagfirullah"
Segera Fahri membawa bayi yang sudah dibedong oleh ibunya ke rumah sakit. Ia takut jika bayi itu mengalami sesuatu.
"bagaimana Raya?" tanya Fahri. Raya adalah teman Fahri dikomplek perumahannya.
"Dia sehat Fahri. mungkin ibunya baru menaruh disebelah mobil. syukurlah kau yang menemukanya."
"iya.. aku berjanji akan merawat anak itu seperti anakku sendiri."
flash back off
"kau kenapa? matamu lebam?" Fahri menatap Shania singkat. Ia sebenarnya tak terlalu berani melakukan itu tapi ini darurat.
" saya baik-baik saja kak. jangan khawatikanku" jawabnya sambil berusaha menyinggungkan senyum.
__ADS_1
"Kau cantik Shania tapi kau milik Zu sahabat kecilku" gumam Fahri dalam hati.
Fahri memalingkan wajahnya. Ia tak mau terlalu memandang wajah ayu itu karena hatinya sakit menahan cinta.