
*Keesokan harinya*
Shania sudah membuat janji dengan bu Wiji. Sebenarnya ia masih enggan keluar rumah. Lahir dan batinnya masih sakit mengingat surah Zu kemarin.
Kemarin malam Shania tidak turun kebawah untuk makan, ia melihat diatas nakas ada makan malamnya, mungkin Inah yang mengantar.
Shania memegang kepalanya, rasanya berdenyutan. Mungkin efek dari tangisannya sehari semalam kemarin.
"ahhh aku melewatkan sholat malam. Ampuni aku ya robb" miris dirasanya. Hanya karena manusia ia sampai melalaikan perintah Allah.
Shania melirik jam yang bertengger didinding. Waktu menunjukkan pukul 4 dini hari. Segera ia bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi.
"auwwww" Shania menahan tubuhnya. Sakit yang dirasanya tidak hanya dihati, tubuhnya juga merasakan hal yang sama.
"bismillah" ia berusaha bangkit membawa tubuhnya kekamar mandi, ia tak mau menuruti bisikan setan yang menghalanginya bermunajat pada sang pencipta dengan alih-alih sakit.
Selepas sholat, Shania melakukan aktifitas seperti biasa memurojaah bacaan qur'annya kemudia menuju tempat gym untuk olahraga.
Inah menatap punggung nyonya mudanya.
"Tidak seperti biasanya" gumamnya bingung
Biasanya sebelum menuju ruang gym Shania akan menyapa Inah dan menanyakan masak apa hari ini, tapi pagi ini beda. Ia hanya diam dengan pandangan kosong menuju ruangan itu.
Shania tak pernah menentukan makanan apa yang harus dimasak Inah. Ia sangat percaya pada pembantunya itu, kadang kalau Shania menginginkan makanan sesuatu maka ia baru bilang pada Inah.
"Kemarin siang enggak makan malam juga enggak. non Shania hanya minum air putih saja. apa ada ini?" beritu pertanyaan berputar dibenaknya. Ia ingin mendekat pada tuannya tapi seakan Shania enggan didekati siapapun.
Aktifitas olahraga telah ia lakukan. Meskipun tak ada semangat pagi ini, ia tetap berusaha mengeluarkan keringatnya.
tess...
tess...
tess...
__ADS_1
Lagi benda itu keluar tanpa seizin tuannya. Shania mengusapnya kasar, ia tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Ia masih percaya bahwa Allah sangat menyayanginya dan tak akan membiarkan ia terpuruk dalam masalah tersebut.
Selepas itu Shania bersiap ke tempat bu Wiji, tapi sebelum itu ia menghubungi Ghina ditoko.
"assalamualaikum Ghina"
"ya... waalaikum salam mbak Shania. ada apa?"
"Untuk beberapa hari ini saya izin ya gak masuk ke toko. Entah kepala saya sering pusing kayaknya anemia saya kambuh. Tolong kamu urus semuanya ya" Terpaksa Shania berbohong, tak mungkin ia menceritakan hal ini pada Ghina meskipun pada umi Fatimah pun ia masih belum mau menceritakan walaupun pada akhirnya semua akan tahu. Ia masih senang mengadukan semua masalah ini pada sang pencipta, tiap waktunya ia gunakan untuk menyebut asmaNya.
tok...
tokk...
tok...
"non shania ini sarapan udah jadi. mau saya antar ke kamar atau dibawah aja?"
"Saya turun aja Inah" katanya setengah berteriak.
Deg..
Ia menatap bakwan jagung bikinan Inah. Itu adalah makanan kesukaan Zu, setiap hari pasti ada bakwan jagung karena Zu memintanya.
"Inah tolong kamu bawa kebelakang ya bakwan ini kasih kesiapa gitu dan jangan masak ini lagi" pesan Shania, terdapat nada perintah yang tak mau dituntut penjelasan. Inah pun menurut.
Air matanya kembali menetes.Shania mendudukan tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Ia mengusap air mata itu agar tak ketahuan Inah jika ia sedang tidak baik.
Shania mengambil nasi seujung sendok nasi, sangat sedikit. Ditambah sayur bayam dan telur puyuh bumbu balado, hanya dua biji. Ia menyantap makanan itu dengan lemas. Sebenarnya kalau tidak untuk menghargai Inah ia sudah amblas keluar rumah tanpa sarapan.
"kenapa sedikit non?" tanya Inah berusaha memberanikan diri.
"Udah agar kenyang sih. Maaf ya kamu masak banyak tadi?"
Itulah ciri Shania, ia selalu merasa bersalah pada siapapun jika kurang menghargai seperti ini. Bukannya Shania tidak menghargai tapi ia benar-benar tak selera dengan apapun kecuali penjelasan Zu.
__ADS_1
"Enggak papa non Shania. nanti biar saya kasih kang alip yang biasanya jualan sayur disini"
*Panti Asuhan MIFTAHUL HUDA*
Shania memarkir mobilnya dihalaman panti itu. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Senyumnya sulit berbentuk semenjak kemarin pagi, jadi hari ini ia ingin menyembunyikan kesedihannya didepan anak panti juga bu Wiji.
Ia melangkah keluar mobil. Diambilnya beberapa kantong berisikan snack di kursi penumpang. Ia membelikan itu semua untuk anak panti, ia sangat mencintai mereka.
"Assalamualaikum bu Wiji" Shania sudah berada di ruangan bu Wiji. Wanita paruh baya itu sedang asyik membaca buku. Ia sangat cinta dengan ilmu,tak terlewatkan satu waktupun untuk buku-bukunya.
"Waalaikum salam nak Shania. " senyumnya mekar. Walaupun ada guratan keriput disana tapi wajah bu Wiji masih terlihat cantik dan segar.
"Maaf bu saya kemarin tidak bisa menemui anda. kemarin kurang enak badan."
"Oh iya gak papa nak. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu."
"apa itu bu?"
"jadi begini Shania. Tiga hari lagi ibu akan mengadakan tamasya sekaligus perbacaan qur'an secara bil ghoib (tahfid) untuk anak-anak. supaya mereka dapat refresing. Apakah nak Shania bisa membantu saya?"
"emmm... boleh bu. saya juga tidak ada kegiatan sama sekali"
"baiklah. saya senang sekali"
Bu Wiji dan Shania berkeliling panti asuhan. Mereka mengamati kegiatan anak-anak pagi ini. Sebagian besar dari mereka ada yang memurojaah qur'an ada yang membaca buku dongeng dan lainnya.
Bu Wiji mengamati wajah Shania. Ia merasa jika wanita itu menanggung beban berat. Tapi bu Wiji juga bisa melihat dari segi bicaranya Shania jika wanita itu tak mudah menceritakan masalah pribadinya.
"nak. kalau ibu boleh tau apa kau sedang menanggung beban besar. Wajahmu terlihat sedih" bu Wiji merasa tak bisa menahan pertanyaan itu, walaupun ia mari mengenal sedekat ini dengan Shania ia sudah menganggap Shania seperti anak sendiri.
Shania tersenyum tipis.Bu Wiji adalah lulusan mahasiswa psikologi, ia bisa membaca raut muka seseorang. Bahkan Shania yang sudah menyembunyikan beban hatinya pun masih terbongkar oleh bu Wiji.
"iya bu. tapi saya masih belum ingin menceritakan ini pada siapapun. saya ingin mengadu pada sang kuasa" jawabnya sambil tertunduk. Buliran air itu turun kembali, segera ia menyekanya.
Bu Wiji bernapas lega. Ia tersenyum dan mengusap kepala Shania yang tertutup hijab. Ia sudah merasa Shania seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
"baiklah kalau begitu. jika kamu ingin menceritakan ibu siap mendengarkannya nak"