
"Yang lusa aku akan keluar kota selama 2 minggu, boleh kan?" Selepas makan, Fahri dan dua bidadarinya bersantai di ruang keluarga. Cici asyik bermain dengan boneka-bonekanya, sedangkan Shania bersandar di dada bidang milik sang suami.
"Lama banget bi?" Tanya Shania merajuk. Fahri tersenyum, ia senang melihat Shania seperti itu.
" Yang sabar yang! Aku usahakan cepet pulang, ok!"
Shania hanya mengangguk malas. Mereka pun berbicara banyak hal, tanpa sadar Cici sudah tidur di karpet lembut itu. Wajahnya sangat imut, walaupun beranjak besar tubuh Cici semakin ramping.
"Dia ketiduran bi" Kata Shania kaget melihat anak angkatnya tidur diantara bonek-boneka. Fahri tersenyum dan mengangkat Cici.
"Yeyy! Waktunya buat adiknya Cici" Seru Fahri sambil menatap Shania jail. Wanita itu tertunduk malu, wajahnya merah merona.
Fahri mengajak Shania kembali ke kamar karena memang waktu sudah lumayan malam. Ia tak ingin membuat istri dan anaknya sakit karena terlalu banyak begadang.
"Aku mau ke kamar mandi dulu bi" Pamit Shania, Fahri yang baru saja membuka laptop hanya mengangguk.
"Yuk!" Ajak Shania. Fahri masih saja fokus dengan beberapa berkas tak menghiraukan sang istri. Ia menyiapkan semua tugasnya di rumah dan setibanya di lapangan hanya cek lokasi. Ia ingin cepat pulang sebelum dua minggu itu karena tak ingin berpisah lama dengan sang istri.
"Bi ayooo!" Seru Shania lagi, ia sedikit kesal melihat suaminya tak bergeming dari laptop.
"Tidur dulu aja yang" Jawab Fahri tak mengalihkan pandangannya dari laptop
"Ya udah aku tidur dulu" Segap Shania. Ia benar-benar kesal pada Fahri kemudian menyembunyikan dirinya dibalik selimut.
Fahri baru menyadari setelah istrinya benar-benar marah. Ia mengangkat pandangannya dan menatap sang istri yang sudah hilang dibalik selimut.
Fahri tersenyum melihat tingkah sang istri dan segera menyelesaikan tugasnya.
"Ahhhhhh" Fahri menggeliat merenggangkan persendiannya. berkas-berkas sudah ia selesaikan, sekarang ia siap untuk tidur.
Fahri berjalan kearah ranjang ukuran kingsize itu. Ia mencium ujung kepala sang istri dibalik selimut.
"Semoga mimpi indah saya" Ucap Fahri.
"Awas aja yaaa kamu bi" Batin Shania kesal. Ia belum benar-benar tidur karena memang menunggu sang suami.
Fahri mengangkat selimut disini. Ia juga ingin tidur dengan berselimut agar lebih nyaman dan nyeyak. Fahri terbelalak melihat sesuatu dibalik selimut. Ternyata sang istri telah siap dengan baju seksinya.
__ADS_1
"Ahhhh pantas saja ia memanggil aku berkali-kali. Ternyata ini rupanya" Gumam Fahri sambil ternyum.
"Yang ayooo!" Seru Fahri tepat ditelinga sang istri. Ia sedikit memberi tiupan-tiupan lembut supaya Shania bangun.
Shania bergidik geli mendapat perlakuan seperti itu dari sang suami. Tak ia masih kesal dengan kelakuan Fahri tadi. Jadi ia tak bergeming sama sekali.
"Yang ayoo! Dosa lo menolak ajakan suami. Entar di laknat gusti Allah lo" Itulah senjata mujarab bagi Fahri. Pria itu selalu menyambung-nyambungkan dengan agama supaya Shani takut dan menurut padanya.
Akhir ia berhasil membujuk Shania dan terjadikan hal itu dimalam hari.
*****
"Shodaqollahul adhim" Shania selesai memurojaah bacaannya. Ia tak mau menjadi hamba yang durhaka. Kewajibannya pada sang pencipta adalah yang utama, baru setelah itu pada sang suami.
"Yang dulu aku tertarik ke kamu itu karena denger bacaan quran kamu yang bagus" Tiba-tiba Fahri mengatakan hal demikian. Ternyata sendari tadi pria itu duduk di sofa dekat musholla rumahnya untuk mendengarkan sang istri mengaji. Ia bersyukur mendapat bidadari yang rajin ibadah dan penurut itu.
"Masa sih? Emang bi pernah dengerin aku mengaji?" Tanya Shania penasaran.
"Pernah lah. Waktu kamu mengaji di panti asuhan itu. Samar-samar aku dengerin. Subhanallah bidadari dari mana ini" Gombal Fahri. Shania tersenyum malu.
"Ahhh bisa aja ya buat orang tersipu malu" Ucap Shania. Pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Buat sarapan dong kak... ups!" Shania menutup mulutnya. Ia lupa jika Fahri melarang keras padanya untuk memanggilnya kakak.
"Lupa apa pura-pura lupa hmmmm?" Tanya Fahri dengan raut muka gemas. Shania segera berlari agar tak mendapat hukuman dari sang suami.
Setibanya didapur ia menyibukkan diri dengan berbagai bahan masakan. Shania memang sudah berniat dari awal untuk tidak melibatkan pembantu dirumahnya. Mbak Anggi pengasuh Cici akan habis masa kontraknya dalam waktu dekat, karena memang usia Cici sudah lumayan besar.
"Sini aku bantu yang. Mau masak apa?" Fahri sudah siap dengan pisaunya. Shania memberikan beberapa sayuran agar dipotong suaminya. Fahri menerima instruksi dari sang istri.
Makanan sudah siap dimeja makan, Shania menyuruh Fahri bersiap karena sudah saatnya sarapan. Shania pun bergegas ke kamar Cici untuk mengajaknya mandi.
"Cici sayang mandi yuk" Ajak Shania. Bocah itu menggeliat dan mengucek matanya supaya kesadarannya terkumpul.
"Udah pagi mah? kok cepet banget" Celetuk Cici, Shania tertawa.
"Sudah pagi sayang, yuk mandi!" Shania memandikan anaknya dan memakaikan seragam padanya. Selepas itu ia menyalakan tv diruang keluarga dan menyuruh Cici menunggu papa mamanya siap.
__ADS_1
Shania pergi ke kamar. Ia melihat sang suami baru saja keluar dari ruang sholat.
"Habis sholat dhuha bi?" Tanya Shania, Fahri pun mengangguk.
Shania menyiapkan seragam sang suami, kemudian ia bersiap untuk mandi. selesai itu ia bermake up tipis supaya tak terkesan pucat.
"Turun yuk yang" Ajak Fahri, pria itu kini berada di pundak sang istri yang sedang membenahi kerudungnya.
"Ayo bi" Jawab Shania sambil mencium pipi sang suami sekilas.
Shania menyiapkan sarapan untuk dua jagoannya. Tak lupa secangkir kopi untuk sang suami.
Selesai makan Shania bergegas untuk berangkat. Mereka berangkat bersama karena memang searah. Pertama Fahri akan menurunkan Cici kemudian Shania dan terakhir dirinya.
Mbak Anggi sudah stan b**y di sekolah Cici. Jadi sepulang sekolah Cici akan bersama mbak Anggi hingga sore.
"Aku masuk dulu ya pah mah" Pamit Cici. Ia mencium pipi mama dan papanya. Tak ia juga mencium tangan kedua orang tuanya denga khidmat.
"Cici kelihatan udah besar ya Bi" Celetuk Shania sambil menatap anak itu yang berlarian memasuki sekolah.
"Iya yang. Udah saatnya dia punya temen main"
"Kan biasanya juga ke panti yang, banyak temennya"
Shania masih belum sadar arah pembahasan Fahri. Ia mengira jika Cici hanya sekedar kesepian.
"Kan dia maunya adik dari mamanya yang cantik dan sholihah ini" Fahri tak sabar. Ia mengatakan itu dengan raut muka gemas.
"Apaan sih bi! kan kita masih usaha" Jawab Shania memalingkan wajah.
"Usahanya tiap waktu dong yang. Gak dua hari sekali" Goda Fahri lagi.
"Alah itu mah modus hubby aja" Fahri tertawa melihat ekspresi sang istri. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kampus Shania.
Akuuuu up lagi dongg....
Jadi temen-temen jangan lupa like,komen dan vote yaaahh
__ADS_1
Aku sayang kalianππππππ
π· : choirul_amaliyah26