
Hari berganti hari. Tak terasa pernikahan Shania dan Fahri sudah memasuki bulan ketiga. Hubungan mereka tak semulus yang kalian kira. Terkadang sifat Shania yang kekanak-kanak muncul tiba-tiba dan pada saat itu Fahri sedang kurang enak hati menganggapi. Jadi timbullah pertengkaran antara mereka berdua.
Entahlah mungkin Shania terbiasa dengan sikap Zu dulu yang memanjakannya, karena memang jarak usia mereka cukup jauh. Sedangkan dengan Fahri, pria itu beranggapan jika Shania adalah gadis dewasa yang sudah berpengalaman dalam hal rumah tangga.
"Kak Fahri aku malas memasak" Ucap Shania manja, Fahri baru saja pulang dari kerjanya.
"Tak masalah sayang, sini!" Fahri menarik Shania dalam pelukannya dan menciumi ujung kepala istrinya yang tertutup kerudung.
"Aku rindu kak Zu" gumam Shania, walaupun sangat pelan tapi pria itu mendengarkannya. Hatinya sakit, entah mengapa Shania mengatakan itu.
Segera Fahri melepas tubuh Shania. Ia bangkit dari duduknya dan merasakan dongkol dihatinya.
"Aku mau mandi dulu" Ucap Fahri, pria itu tak ingin terlihat sakit hati.
Dengan tanpa dosa Shania mengambil ponselnya. Ia mengotak-atik beberapa aplikasi. Fahri yang melihat itu hanya diam, sebenarnya hatinya miris.
"Seberapa cintanya dia sama Zu bahkan dalam pelukkanku saja masih mengingat pria itu" gumam Fahri. Ia mengambil handuk dan bergegas kekamar mandi.
Didalam sana hatinya sakit, ia memegang dadanya. Rasa cemburu itu timbul walaupun ia tau jika Shania tak mungkin kembali pada Zu yang entah dimana kabarnya.
"Kau milikku sekarang dan selamanya" sergap Fahri. Pria itu menatap lekat ke cermin yang ada disana. Matanya menampakkan sorot cahaya cemburu.
Fahri menyelesaikan mandinya dengan perasaan dongkol. Ia masih belum bisa meredamkan perasaan cemburunya. Ah entahlah!.
Selepas mandi Fahri keluar kamar mandi dengan handuk melilit dibawah pinggangnya. Hal semacam ini sudah biasa Shania lihat, ia sudah tidak kaget lagi.
"kak Zu.... eh kak Fahri " Shania menutup mulutnya. Ia mengutuk kebodohannya.
Fahri sejak awal tadi membelakangi istrinya, ia mengepalnya tangannya dan menekan dengan kuat ke meja. Rasa cemburu dan marah seakan tak dihargai itu muncul bersamaan. Tapi ia tak ingin menumpahkan semua itu pada sang istri.
Shania menutup mulutnya, ia menepuk jidatnya pelan karena merasa bodoh. Sebenarnya hatinya tak karuhan tapi entah bagaimana lagi.
__ADS_1
" Maafkan aku kak" Shania memeluk punggung Fahri yang telanjang itu. Ia berusaha mengambil hati yang sedang dibakar api cemburu itu.
Sudah biasa itu terjadi, Shania sudah sering menjadi amnesia mendadak ketika bersama Fahri. Ia sering kliru dalam menyebut Fahri dengan nama Zu. Mungkin itu adalah hal sepele, tapi jika sering dilakukan pastinya Fahri menaruh rasa curiga. Mungkin ia berfikir jika Shania belum mencintainya dan belum move on dari Zu.
"Kau belum terbiasa"
Itulah kata yang mampu terucap dari mulut Fahri, meskipun hatinya berkata sakit tapi ia tak ingin menambah beban Shania. Gadis itu harus menjadi wanita tangguh diusia mudanya.
Fahri berusaha mengolah nafasnya. Dadanya masih saja naik turun menahan amarah yang tak mampu ia keluarkan. Setelah dirasa cukup baik Fahri mencoba tersenyum dan membalikkan badannya menghadap sang istri.
Tok....
tok....
ttokkkk.....
"Mama" Teriak bocah itu. Oh yaa Cici sekarang sudah diangkat menjadi anak mereka. Fahri memang sudah merencanakan sejak lama. Jika ia menikah anak menjadikan Cici sebagai anaknya. Apalagi menikah dengan Shania, ia begitu cinta pada Cici sebelum mencintai suaminya.
"Cici tadi di sekolah ngapain aja?" Tanya Shania dengan manik penasaran. Fahri yang mendengar obrolan mereka tersenyum senang. Ia bersyukur karena mendapat Shania yang sangat telaten dan mencintai anggota keluarganya tanpa terkecuali.
"Tadi Cici menyanyi sama lari-lari ma" Jawabnya polos.
"Emm.... kak! gimana kalau Cici biar aku yang jaga? usianya masih kecil untuk sekolah"
Fahri nampak berfikir. Tapi jika Shania yang menjaga Cici bagaimana dengab kuliahnya juga toko rotinya. Ia tak ingin membebani Shania.
"Kamu sekarang masih study sayang dan kamu juga mengurusi toko kue. Udah biar Cici sama mbak Anggi saja yaaa"
"Dan jangan lupa! Kita juga belum program punya baby" Lanjut Fahri langsung meninggalkan Shania bersama Cici. Wajah Shania sudah memerah karena malu.
Ia pasrah dengan keputusan suaminya. Ia baru sadar jika tanggung jawabnya masih banyak. Dengan berat hati Shania mengikuti saran suaminya.
__ADS_1
"Yang masak apa hari ini?" Pertanyaan itu ia tanyakan pada sang istri, ditambah dengan senyum manisnya. Ahhh membuat Shania lupa dengan pertengkaran tadi.
"Aku buat soto lamongan kak, kamu suka kan?"
"Apapun yang kamu masak aku suka sekali" Fahri selalu mampu membuat hati Shania berdesir yang berujung pada sebuah senyuman.
Shania menyiapkan makan malam untuk suaminya dan juga Cici. Mereka makan bertiga diruang makan.
Oh iya! setelah menikah Fahri memutuskan untuk tinggal sendiri dirumah yang memang sudah ia sediakan untuk sang istri. Ia ingin hidup bersama keluarga kecilnya agar bisa mandiri.
"Cici ini pudingnya, mau mama suapin?" Shania menyodorkan puding coklat Cici. Dengan senang hati bocah itu mengangguk dan mendekatkan mulutnya kearah sendok yang dipegang Shania.
"Aku mau juga dong yang" Sahut Fahru, pria itu tak ingin kalah dari Cici. Shania tersenyum dan memberikan sesuap puding padanya.
"Ternyata rasanya lebih nikmatnya ketika kamu suapin" Shania tertunduk malu.
Bisa saja Fahri membuat istrinya malu. Walaupun pernikahan mereka sudah lumayan lama tapi Shania masih sering malu-malu pada sang suami. Itu yang membuat Fahri suka.
Selepas makan mereka pergi keruang keluarga, saling berkomunikasi adalah hal terpenting dalam rumah tangga walaupun sebenarnya mereka tetap saling bertukar kabar melalui WA.
"Yang tadi toko rame?" Fahri menjatuhkan kepalanya dipaha sang istri, dengan spontan Shania mengusap rambut tebal itu.
"Alhamdulillah rame kak"
haiiiii semua... maafin aku yang jarang up yaaa soalnya emang hpnya agak bermasalah. semoga aja aku lebih rajin.
jangan lupa like,komen dan vote....
aku cinta kalianπππππ
π· : choirul_amaliyah26
__ADS_1