Surga Baruku

Surga Baruku
06


__ADS_3

Deg....


Tiba-tiba hati sakit melihat tulisan disana, bab talaq. Dalam pembahasan nikah terdapat banyak bab salah satunya adalah bab talaq.


Air matanya menembus, terasa ada batu yang menghantam hatinya. Sakit sekali.


"Apa ini?"


Ia melihat ada secarik kertas disana. Entah Shania tak tau apa itu. Antara ingin membuka dan tidak. Ia memegangnya ragu.


Setelah sekian lama bertikai dengan perasaanya, Shania membuka kertas itu.


*Assalamualaikum badadariku.


aku ingin sampaikan padamu, berjihad bukanlah hal yang sulit untuk dijalani. Berjihad juga banyak macamnya. Andaikan aku pergi ke Palestina itu namanya jihad dan juga kamu yang ku tinggal di tanah air untuk menunggu itu namanya juga jihad sayang.


Shania istriku. aku tak ingin menanggung beban dosa yang banyak atas pernikahan kita. dosaku sudah amat banyak ini. Aku tak tau sampai kapan nyawa akan bersama jasadnya. tapi aku tak ingin membuatmu menderita karena penantian yang tak pasti. Jihadku ini bukan hanya jihad biasa . Nyawa menjadi taruhannya. aku tau kamu pasti mampu menghadapinya tapi kasihanilah aku! aku tak ingin menanggung dosa banyak.


Sudah kuputuskan sayang, apabila dalam waktu 3 bulan aku tak mampu memberimu kabar.. aku talak kau dengan talak 2. Menikahlah engkau setelah masa iddahmu selesai dan jangan lupa katakan pada umi dan abi jika aku telah menulis surat ini.


suamimu tercinta, Ahmad Zuheruddin.


tess..


tess..


tess*..


Air mata itu jatuh tak beraturan. Matanya buram tak mampu melihat apapun seperti hidupnya yang gelap gulita. Seakan dunia ini runtuh. Cinta yang ia bangun belum genap 2 tahun harus retak secara tiba-tiba.


Ia mencoba mengulangi membaca surat itu barang kali ada kekeliruan disana.


"Ini benar... surat ini benar adanya" katanya lagi.


brukk...


Ia jatuh dari atas kursi, tubuhnya terasa lemas tak bertulang.


Sakit...


itu yang dirasakan Shania. Tak pernah terbanyakan ia menjadi seorang janda diusia mudanya. Bahkan ia sudah membayangkan istana indah yang ia bangun bersama Zu akan menjadi istana terindah dan ternyaman sedunia.


flash back on

__ADS_1


"Umma... abi cinta uma karena Allah"


Setiap malam Zu akan mengelus ujung kepala sang istri. Kesibukannya menjadi dosen membuat waktunya bersama sang istri sedikit terganggu. Malamlah waktu yang tepat untuk berbagi derita dan cerita.


"Abi.. aku ingin memiliki 5 anak.. salah satunya kembar" kata Shania sambil membentuk bulatan didada suaminya.


" itu ide bagus umma. Apakah rumah ini cukup untuk menampung mereka. biar abi menabung dulu supaya rumah kita lebih besar lagi"


"tidak abi! istana ini sudah sangat besar. kita akan membuat cerita kita sendiri disini bersama anak cucu kita nanti"


flash back off


"kak Zu apa kau lupa akan memberiku 5 anak? mana janjimu itu" isak Shania. Ia sungguh tak mampu membayangkan kenangan indah bersama suaminya.


drt...


drtt ....


Hp Shania berbunyi, hatinya terteguh.


Apakah itu kak Zu? aku akan memarahinya nanti. biarlah aku dikatakan istri durhaka, tapi aku sangat kecewa dengan surat itu. Bahkan aku akan menyusulmu kesana agar kita bisa bersama mendirikan istana kita walaupun tak semegah ini.


Ia meraih ponsel itu, senyumnya pudar. Bukan dari Zu tapi Ghina, Asistennya ditoko roti.


Shania menarik nafas dalam-dalam. Ia tak ingin seseorang mengetahui kelemahan dirinya.


"mbak Shania, apakah anda tidak kesini? bu Wiji ingin bertemu dengan ada"


"Oh maaf. saya ingin izin untuk hari ini ya.. kepala saya pusing. besok insya allah saya akan ke panti untuk menemuinya. berikan padanya bingkisan roti sebagai tanda maaf saya"


"baiklah kalau begitu assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Shania berusaha bangkit dari duduknya. Ia berjalan seok-seok menuju kamar tidur. Rasanya begitu berat semua yang ia hadapi ini. Zu belum menjelaskan padanya kenapa tak memberi kabar, bahkan Zu belum sempat meminta maaf padanya tapi kenapa ia menulis surat itu.


Ohhh Shania lupa, surat itu ditulis sebelum semua ini terjadi jadi percuma saja ia marah pada Zu.


Shania merebahkan tubuhnya diatas kasur king size itu. Lebih dari 2 bulan ini ia tidur sendirian hanya bersama dua bantal, guling dan selimut. Tak ada lagi ucapan-ucapan romantis juga elusan lembut dikepala.


Tapi kenapa ini terlalu cepat?


Shania masih sering membayangkan elusan lembut Zu juga kata-kata romantis itu berulang kembali nanti setelahnya pulang dari Palestina.

__ADS_1


Dulu Zu pamit jika disana tak akan lama. Hanya sebagai relawan yang menyalurkan makanan. Shania yakin jika Zu pasti akan kembali dan menghidupkan istananya. Getaran dihatinya juga masih sering terasa, itu berarti Zu masih sering mendoakannya. Tapi Zu yang memutuskan ini secara sepihak.


"Umma... abi cinta umma karena Allah"


"Kita hidupkan istana kita. kalau perlu abi belikan rumah yang lebih besar ditambah dengan bis supaya kita bisa bepergian kemanapun bersama"


"tenang saja umma.. Meskipun kau masih belajar menjadi istri sholihah. Abi tak akan meninggalkanmu"


Semua ucapan Zu teringan dibenak Shania. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia frustasi dan marah, entah marah pada siapa.


"Allah... ampuni hamba yang belum ikhlas menerima takdirmu"


Ia mencekeram sprei dan bantal disana. Pikirannya kalut, air matanya tak henti-hentinya turun membuat buram penglihatnya.


Shania tertidur karena lelah.


*pukul 2 siang*


tok... tok... tok...


"non Shania waktu sholat dhuhur mau habis non."


Inah sangat perhatian pada waktu sholatnya. Bahkan ia tak sungkan-sungkan mengingatkan tuannya apabila tertidur dan belum melaksanakan kewajiban itu. Hal ini lah yang Shania sukai dari Inah.


"kenapa tak ada jawaban?" katanya bingung. Ia tak mau jika harus masuk ke kamar Shania. Meskipun untuk membangunkan sholat pun, rasanya itu tidak sopan.


Diketuknya lagi pintu coklat itu.


"non Shania waktu sholat dhuhur mau habis loo. apa non Shania mau sholat sendiri?" katanya sedikit teriak.


"biar aku sholat di kamar Inah. makasih sudah mengingatkan" Jawab Shania.


Inah mengelus dadanya lega. Tapi ia mendengar suara itu, suaranya serak seperti habis menangis


"ahhh biarlah. kalau habis tidur memang begitu bukan" katanya pada dirinya sendiri.


Inah pergi kelantai bawah mengurusi pekerjaannya yang sempat tertunda.


Selepas sholat Shania kembali berlabuh dengan bantal dan selimutnya. Tak ada tenaga untuk bangkit karena semua sudah berubah menjadi kecewa.


Ditariknya selimut hingga menutupi sebagian muka, dinyalakan juga murrotal qur'an. Tepatnya surah ar-rohman,surah favoritnya dan suami.


"kak Zu kurang berapa hari lagi talaq ini jatuh huhuhuhu"

__ADS_1


Sudah lebih dari 2 bulan Zu tak memberi kabar, tinggal hitungan hari saja ia akan melepas status dari istri menjadi janda.


"aku berharap semoga sebelum masa iddahku habis kak Zu menghubungiku lagi, dan ia akan mengajakku rujuk. Semua ini pasti bukan keinginannya, aku tau itu hikss.. hikss.."


__ADS_2