
"Hueekkk"
"Hueekkk"
"Hueeekkk"
Fahri bingung, baru pertama baginya melihat Shania seperti ini. Padahal selama menikah ia selalu memberi makanan yang bergizi agar sang istri tidak sakit. Tapi pagi ini ia sudah melihat Shania bolak-balik masuk kamar mandi.
"Ayo kerumah sakit yang" Ajak Fahri. Shania menggeleng lemah sambil berjalan ke tempat tidurnya. Fahri pasrah, ia bingung harus bagaimana.
"Bi aku ingin bubur ayam. Belikan di ujung komplek dong" Perintah Shania. Fahri pun bergegas kesana untuk membelikan semangkuk bubur ayam.
Drtt...
Drtt...
Drtt ...
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam. Gimana keadaan istrimu nak"
"Dia masih muntah-muntah ma. Diajak kerumah sakit juga gak mau" Adu Fahri pasrah. Pria itu merasa lelah dengan istrinya. Inginnya manja pada sang istri tapi apalah daya.
Diujung sana Hamidah tersenyum. Ia senang mendengarkan kebingungan Fahri. Hamidah menduga jika Shania hamil muda. Jadi dia manja dan rewel sekali layaknya anak kecil.
"Sabarlah nak. Maafkan sikap anak mama ya"
"Eng... enggak papa kok ma. Fahri tambah cinta padanya" Jawab Fahri gelagapan. Ia tak ingin menjadi sosok lemah dimanapun berada apalagi didepan mertuannya.
Hamidah menjauhkan handphonenya dari telinga dan tertawa cekikikan.
"Pintar sekali Shania berbagi kesengsaraan dengan suami hibibi" Gumam Hamidah.
"Yasudah ma aku mau beli bubur ayam untuk Shania. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Kamu masih disini bi?" Tanya Shania. Fahri kaget dan menoleh, ia hanya tersenyum.
"Aku gak jadi makan bubur ayam. Aku maunya nasi goreng aja bi"
Hah?
Fahri tersenyum kecut, tapi bagaimana pun ia tak bisa menolak permintaan sang istri meskipun ia masih bingung dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Aku yang membuatkannya?"
Shania mengangguk antusias, Fahri hanya menurut. Untung dulu saat di pesantren pernah sesekali memasak dan mungkin sekarang ia masih bisa.
Shania duduk dan mengamati suaminya yang sedang bergulat dengan peralatan dapur. Senyumnya tersinggung melihat Fahri mengusap matanya karena mengupas bawang merah.
Fahri sangat lihai dengan semua benda didepannya. Padahal selama menikah dengan Shania Fahri tak pernah sekalipun memegang benda-benda itu.
"Suamiku sangat baik dan dia terlihat sangat tampan ketika memasang" Gumam Shania.
"Sudah matang yang" Ucap Fahri. Shania tersenyum senang. Ia mencoba satu suap nasi goreng yang disodorkan Fahri.
"Enak yang?" Tanya pria itu cemas. Takut istrinya tak suka.
Shania masih mencoba menikmati setiap kunyahannya dan mengangguk antusias diselingi senyum.
Fahri pun memindahkan posisinya menjadi duduk disamping sang istri. Ia kembali menyuapi Shania, hatinya senang melihat Shania begitu menikmati.
Nasi goreng itu tersisa setengah piring. Fahri masih semangat menyuapinya karena Shania juga terlihat menikmati, tapi tiba-tiba.
"Stop bi!" Perintah Shania. Dia lari menuju wastafel khusus mencuci tangan dan mengeluarkan semua nasi goreng yang berada di perutnya.
Fahri khawatir, ia menyusul istrinya dan memijat tengkuk Shania.
"Kamu kenapa sih yang? dari kemarin seperti ini. Pokoknya kita harus kerumah sakit setelah ini!" Perintah Fahri dengan nada tak mau ditolak. Shania pun pasrah, tubuhnya sudah lemas dan tak bertenaga.
Dalam perjalanan Fahri berkali-kali memandangi wajah istrinya yang terlihat lemas. Ia sangat tak tega. sesekali ia menciumi tangan yang berada digenggamannya.
"Setelah ini sampai yang. Sabar yaa!" Seru Fahri.
Ketika sampai rumah sakit ia segera menuntun istrinya keruang dokter. Sebenarnya Fahri ingin menggendong Shania tapi wanita itu menolak dengan alasan malu.
Setibanya didepan ruang dokter Putri, teman Fahri. Mereka segera masuk karena sudah membuat janji sebelum berangkat.
"Keluhannya apa ya Fahri?" Tanya dokter Putri pada Fahri. Ia tak bisa menanyakan pada pasien karena Shania terlihat sangat lemah.
"Aku gak tau pasti tapi istriku selalu muntah, mual dan pusing dan badannya lemes terus" Curhat Fahri. Seketika dokter itu tersenyum melihat Fahri khawatir.
"Kapan terakhir menstruasi ya nona?" Tanya sang dokter pada Shania langsung. Nampak ia sedang berfikir dengan wajah tegang, mungkin saja Shania sudah Faham maksud Putri karena memang ia pernah menjalani rumah tangga dulu.
"Emm kayaknya aku telat deh" Jawabnya sambil tersenyum.
Dokter Putri pun menuliskan sebuah resep dan senyumnya tak hilang.
"Silahkan diperiksakan ke dokter kandungan ya. Saya sarankan ke dokter Agnes ruangannya ada di paling ujung" Ucapnya. Shania takut, takut jika yang ia inginkan hanya mimpi. Ia sangat menginginkan adanya janin dikandungannya.
__ADS_1
"Istriku hamil Put?" Tanya Fahri antusias. Ia sangat senang karena disuruh membawa ke dokter kandungan.
"Silahkan diperiksakan dulu! saya tidak bisa memberi kepastian" Jawab dokter. Tak fikir panjang Fahri memeluk Shania, ia menciumi ujung kepala sang istri. Beruntungnya mereka adalah teman sejak kecil jadi tidak terlalu memalukan.
"Oke kalau gitu aku akan membawanya ke dokter kandungan. Thank yaa Put"
Mereka pun keluar daru ruangan dokter Putri dan menuju dokter Agnes,ahli kandungan yang dikatakan Putri tadi.
"Kenapa kamu gak bilang sih yang kalau hamil? Aku kan bisa seneng sejak awal dan gak khawatir kayak gini. Aku takut kamu kenapa-napa" Cerocos Fahri. Sebenarnya Shanua juga tidak tahu dia hamil atau tidak. Tapi jika dilihat dari gejalanya sepertinya Shania memang benar-benar.
"Aku enggak tahu bi ini hamil atau enggak"
Mereka pun tiba di depan ruang dokter Agnes. Fahri menuntun istrinya masuk.
"Nona Shania ya? Silahkan duduk!" Perintahnya, Shania dan Fahri langsung duduk didepan dokter cantik itu.
"Saya mendengar keluhan anda dari dokter Putri. Jadi langsung saja ya saya periksa" Ucap dokter itu to the poin. Shania mengangguk senang.
Dokter Agnes melakukan mengusapkan gel diperut Shania dan mulai mengeceknya
"Alhamdulillah ternyata usia kandungan nona Shania memasuki minggu ke 5 " Ucap dokter Agnes. Fahri dan Shania saling tatap, mereka begitu senang dan bahagia.
"Jadi tuan..."
"Fahri" Jawab pria itu.
"Oh ya! jadi tuan Fahri harus lebih memperhatikan istrinya dari pola makan sambil aktivitasnya karena hamil muda sangatlah rawan" Jelas dokter Agnes.
Entahlah apa yang dirasa mereka berdua. Rasa senang itu tak bisa mereka ucapkan lagi. Beribu rasa syukur mereka panjatkan dalam hati. Fahri tak henti-hentinya mengucap hamdalah dan takbir dalam hati.
"Baiklah dok terima kasih" Ucap mereka setelah mendapat resep untuk ditebus di apotek.
"Sama-sama tuan dan nona. Satu bulan lagi diharapkan kembali kemari"
Setelah semua selesai, Fahri mengajak Shania berjalan-jalan sebenar mengelilingi taman. Ahh padahal mereka belum merasakan pacaran setelah nikah dengan puas sudah ada baby diperut Shania.
"Bi. Kita jemput Cici yuk" Ajak Shania yang tak lepas dari genggaman Fahri. Pria itu pun baru ingat jika Cici tak bersama mereka.
"Baiklah yang. Kita beritahukan kabar gembira ini pada ibu" Ucap Fahri.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju panti untuk menjemput kakak dari janin itu.
Haiiiii..
jangan lupa like, komen dan vote
__ADS_1
aku cinta kalianπππ
π· : choirul_amaliyah26