Surga Baruku

Surga Baruku
37


__ADS_3

Rasa mual itu kembali melandanya. Ia tak dapat menahan lagi, tapi di kamar mandi masih ada Fahri.


Ceklek


Pintu itu terbuka. Sosok laki-laki yang hanya menggunakan handuk dipinggangnya keluar. Ia berniat setelah ini akan menunaikan sholat ashar.


Shania bangkit dari tidurnya. Ia sedikit tergesah-gesah karena tak kuat menahan rasa mual ini.


"Minggir" Kata Shania sambil mendorong lengan suaminya. Fahri langsung menyusul ke kamar mandi. Ia memijat tengkuk sang istri pelan. Rasa khawatir itu memenuhi ruangan hingga ia tak mampu bernafas.


"Kamu habis makan apa sayang? kok sampai kayak gini" Tanya Fahri khawatir. Shania tak menghiraukannya.


"Aku mau tidur lagi bi" Ucap Shania ketika merasa tidak mual lagi. Fahri menuntun istrinya ke kasur kemudian menyelimutinya agar tidak kedinginan. Dugaan Fahri Shania sedang masuk angin.


"Aku sholat dulu ya." Fahri pamit pergi ke tempat sholat. Pikirannya masih saja khawatir terhadap kondisi sang istri. Padahal kepulangannya dipercepat ingin memberi kejutan pada Shania. Ia berencana mengajak Shania bermalam dihotel hari ini dan menikmati malam hari yang panjang berdua. Ahh tapi apalah daya.


"Yang udah sholat belum? atau lagi haid?" Shania menggeleng. Itu tandanya ia belum sholat. Maka Fahri menuntun sang istri ke kamar mandi. Awalnya ia ingin menggendong Shania tapi dia tak mau.


Fahri menunggu Shania sholat. Ia duduk di sofa dan memandangi istrinya yang tertatih-tatih menghadap sang ilahi.


"Udah yang?" Tanya Fahri ketika Shania melipat mukenahnya. Shania hanya mengangguk pelan.


"Mau makan apa sekarang?"


"Enggak nafsu bi" Jawab Shania lemah. Ia menarik tangan sang suami. Ingin rasanya ia tidur dalam pelukan suaminya yang hampir dua minggu meninggalkannya.


Fahri bingung tapi tetap mengikuti kemauan sang istri. Ternyata Shania membawa Fahri keatas ranjang. Ia menepuk bantal yang ada disampingnya. Fahri pun tetap menurut. Ia tidur menghadap sang istri. Tapi tiba-tiba Shania memalingkan badannya. Ia memunggungi Fahri.


"Kenapa yang?" Fahri sangat heran dengan sikap Shania. Wanita itu hanya menggelengkan kepala dan menarik tangan Fahri yang berada dibelakang punggungnya tanpa menoleh.


Dengan senang hati Fahri memeluk istrinya dari belakang. Fahri juga merindukan tubuh mungil itu. Sepuluh hari tak mendekapnya seperti ini serasa setahun tak bertemu.


"Bi maafkan aku tak menyambutmu pulang" Ucap Shania. Ia menggenggam erat tangan suaminya.

__ADS_1


"Tak masalah sayang. Aku memang berniat memberimu kejutan"


"Emm... besok kita ke dokter yaa" Ajak Fahri. Shania hanya menganggukkan kepala.


"Kenapa tiba-tiba beginj? Apa kamu begadang tadi malam yang? atau kamu makan makanan tidak sehat? Kamu harus hati-hati dalam memilih makanan. Aku khawatir dengan keadaanmu sekarang" Celoteh Fahri tak henti-henti. Shania hanya tersenyum mendengarkan kekhawatiran sang suami.


"Iyah bi. Aku tak akan mengulanginya lagi." Jawab Shania.


Mereka pun berbincang tentang berbagai hal. Rasa mual dan pusing yang dirasakan Shania hilang seketika. Ia sangat senang Fahri pulang lebih cepat dari perkiraannya.


"Bi aku ingin kau bernyanyi balon ku ada lima lagi" Entah apa yang ada dipikiran Shania. Saat mereka asyik berbincang ia meminta hal konyol itu lagi.


"Kenapa kau selalu memintaku untuk bernyanyi itu sayang? Suaraku sangat buruk"


"Aku suka bi. Jika kamu menyayikannya rasa mual dan pusingku hilang" Jelas Shania. Fahri pun menurut. Ia ingin Shania cepat sembuh.


"Sudah kan sayang?" Tanya Fahri. Pria itu sudah bernyanyi hampir lima kali. Tapi Shania selalu meminta lagi dan lagi. Entahlah penyakit apa yang diderita sang istri.


"Baiklah. Sekarang aku lapar bi" Fahri tersenyum lega. Tenggorokkannya terasa tercekik karena haus. Ahh!


Shania mulai berfikir ingin makan apa disore hari ini.


"Emm... aku mau soto lamongan bi sama sate ayam terus es cendol kayaknya enak" Ucap Shania. Fahri hanya menelan ludahnya kasar. Ia benar-benar heran dengan kelakuan istrinya. Tapi karena rasa cinta itu sangat dalam maka Fahri tak ingin membuat istrinya sedih.


"Baiklah yang. Aku akan bersiap membelinya. Kamu dirumah saja ya" Rasa lelah dan letih karena perjalanan tak dirasakan oleh Fahri asalkan Shania bahagia.


"Aku ikut bi" Rengek Shania. Pria yang kini sibuk membenahi jam tangan segera menggelengkan kepala tak menyetujuinya.


Setitik air matanya menetes melewati pipi tembemnya. Fahri terbelalak, tak biasanya Shania seperti ini.


"Kenapa menangis yang? kamu kan lagi sakit jangan keluar dulu ya sebelum sembuh total" Seru Fahri. Pria itu berjongkok didepan ranjangnya. Shania melihat kedua kakinya diatas kasur. Ia melihat jelas wajah khawatir dari Fahri.


"Aku baik-baik saja bi. Ayo aku mau ikut" Shania bersikeras ikut bersama Fahri. Pria itu pun tak bisa menolak hanya mengusap rambutnya pusing melihat kelakuan sang istri. Shania yang tadinya lemas dan tak berdaya kini semangat dan ceria. Ia cepat-cepat berganti baju dan mengambil krudungnya, ditambah sedikit make up untuk menyamarkan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Ayo bi aku sudah siap!" Shania berdiri didepan suaminya yang sedang memainkan hp. Fahri mengangkat kepalanya menatap sang istri. Senyumnya mekar karena mengetahui keadaan sang istri sudah membaik, sebenarnya dalam fikiran Fahri masih pusing melihat perubahan keadaanya yang secara tiba-tiba.


" Ayo sayangku" Jawab Fahri sambil merangkul pundak sang istri.


Mereka pun pergi mencari apa yang diinginkan Shania. Awalnya Fahri mengajak kesebuah restoran jawa tapi Shania menolak. Ia ingin makan soto di warung yang dekat dengan pasar.


"Beneran makan disini yang?" Tanya Fahri. Tempat itu sangat rame dan penuh sesak. Shania tersenyum dan mengangguk. Ia berjalan mendahului Fahri.


"Pak sotonya ya 2 porsi " Ucap Shania pada penjual. Ia mencari tempat duduk yang pas menurutnya.


"Silahkan sotonya" Shania menatap makanan didepannya dengan semangat. Nampaknya ia sudah sangat lapar dan ingin segera menyantapnya. Shania mengambil satu sendok pertama. Ia sangat menikmati itu.


"Enak yang?" Tanya Fahri. Pria itu menatap istrinya heran. Ada perasaan senang ketika melihat wanita didepannya begitu antusias.


"Enak banget bi, mau coba?" Shania menyodorkan sendoknya yang telah ada nasi soto. Fahri menerimanya dengan sedikit ragu, padahal didepan Fahri juga ada satu mangkuk penuh soto yang belum ia sentuh sama sekali.


"Enak kan bi?" Tanya Shania, Fahri hanya mengangguk ragu. Entahlah rasanya mungkin enak tapi suasana di warung ini membuat mood Fahri sedikit berantakan.


Shania menikmati sotonya dengan lahap seperti tak makan seminggu. Fahri tersenyum menatapnya.


"Punya kamu kok belum berkurang bi?" Tanya Shania. Memang Fahri tak menyentuhnya sama sekali. Ia merasa lebih kenyang ketika melihat sang istri makan dengan lahap.


"Kamu mau lagi yang? "


Shania mengangguk malu.


"Ini kamu makan saja. Aku masih kenyang" Kata Fahri. Tanpa sungkan Shania menarik mangkuk didepan Fahri. Ia menikmatinya lagi dengan sangat lahap.


Haiiiii..


jangan lupa like, komen dan vote


aku cinta kalianπŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—

__ADS_1


πŸ“· : choirul_amaliyah26


__ADS_2