Surga Baruku

Surga Baruku
27


__ADS_3

Kejadian itu sudah berlalu. Hubungannya dengan Shania masih sama, yaa dingin. Ia bingung dengan sikap Shania padahal pernikahan kurang hitungan hari.


Hingga saat ini Fahri belum menyebarkan undangan karena memang Shania memintanya terlebih dulu kerumah umi Fatimah untuk memberitahukan hubungan mereka.


Dengan tekad yang kuat Fahri pergi mengendarai mobilnya sendiri kerumah Umi Fatimah.


Ia telah tiba didepan pagar tinggi itu. Nyalinya bukan ciut, tapi Fahri hanya bingung harus memulai pembicaraannya dari mana.


"Wahh tuan Fahri, silahkan!" Satpam dirumah umi Fatimah sudah mengenal Fahri. Jadi dengan mudahnya ia memasuki rumah itu.


Fahri segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah umi Fatimah. Ia berjalan mendekati pintu utama.


Tok...


Tok..


Tok...


"Assalamulaikum"


perlahan pintu itu terbuka. Seorang pembantu perempuan itu tersenyum pada Fahri, ia mengenalnya.


"Waalaikumsalam. silahkan masuk"


Fahri berjalan masuk. Ia melihat sosok Zizah duduk diruang tv dengan benda besar itu menyala. Ia sibuk memainkan hpnya.


"Oh iya mas..." belum selesai pembantu itu berbicara Fahri memotongnya dengan arah menunjuk ke Zizah. Ia mempersilahkan wanita itu pergi melanjutkan aktifitasnya.


"Bisa kita bicara?" Zizah menoleh. Ia kaget mengetahui orang yang ada disana. Hati senang bercampur terharu, Fahri masih perduli padanya.


"Bisa kak. Biar aku bersiap dulu"


"Tidak perlu. kita bicara dirumah ini. Taman belakang boleh??" Zizah mengangguk. Dimanapun asal bersama Fahri ia mau.


"pasti ia ingin minta maaf karena Shania melihat tragedi kemarin" Ia senyum sendiri sambil terus berjalan.


"nih" Fahri menyodorkan sebuah kartu undangan dan ia letakkan diatas meja. Zizah yang baru saja duduk dan menyinggung senyum jadi kaget.


"Apa ini?" tanyanya heran.

__ADS_1


"bacalah dan cermati" Fahri mengambil posisi duduk dikursi seberang Zizah. Ia mengamati raut muka serius itu, tapi ia tetap diam.


Zizah mulai kaget. Ia mendelikkan matanya.


"Shan.... Shania temenku?" tanya terbata-bata. Mata Zizah tak lepas dari kertas berwarna silver hitam itu. Setitik air mulai meluncur turun.


"iya kau benar. itu adalah Shania Abdullah temanmu" Fahri menarik nafas, ia berusaha menahan sesak didada karena ia sudah lelah dengan dramanya.


"Kumohon berhenti dengan semua ini. Aku mencintai Shania dan kita akan segera menikah. Jangan kau usik dia. Shania tak tau apapun tentang permasalah ini" jelas Fahri. Sebenarnya ia ingin pergi meninggalkan Zizah, tapi Fahri masih punya hati. Ia mengucapkan kalimat maaf yang terakhir kalinya.


"Maafkan aku. kita memang tidak akan berjodoh sampai kapanpun. Hiduplah dengan semua mimpi yang kau bangun sejak dulu" Fahri pergi meninggalkan Zizah. Ia tak ingin membuat orang dirumah ini curiga.


"Fahri" pria itu kaget. Seperti maling yang tertangkap. Ia menoleh, Ahhh ternyata umi Fatimah.


Fahri tersenyum dan menakupkan dua tangan ke dada.


"Ada apa kau kesini? tumben sekali"


Fahri tersenyum. Ia memberikan sebuah undangan.


"Maafkan saya tak memberitahu umi lebih dahulu. Ini undangan pernikahan saya dan Shania" ia menunduk. Antara rasa sungkan dan lainnya.


"Alhamdulillah Fahri. Umi sudah memiliki rencana ini dulu. Tapi kau sudah melakukannya. Umi sangat mendukung" Wanita paruh baya itu tersenyum pada Fahri.


"Akhirnya Shania menemukan surga barunya. Semoga Fahri adalah surga terakhir" gumam Fatimah dalam hati.


Disisi lain seorang gadis mendengarkan pembicaraan itu. Hatinya bertambah sakit dan ngilu. Ia tak mengira jika sang ibu menyetujui hubungan keduanya.


"Tak ada yang mendukungku sekarang" ia terisak. Ia berharap Zu datang, entah bagaimana caranya agar membatalkan rencana ini. Ia yakin Shania akan lebih memilih Zu dari pada Fahri apalagi setelah mengetahui permasalahnya dengan Fahri.


"Aku akan membuat perhitungan padamu Shan"


Entah dari mana asalnya. Zizah yang penuh cinta tiba-tiba menjadi sosok mengerikan. Itu semua semata-mata karena kekecewaanya pada Shania yang menyembunyikan hubungannya dengan Fahri. Pasti Shania sudah tau kalau Fahri dan Zizah ada sesuatu, tapi Shania berusaha diam.


Aku ingin bertemu denganmu besok di kafe xx (Zizah)


"Terima kasih Umi. Saya pamit pulang. Maaf kami tak mengudang dan memberitahu acara lamaran kami karena saya takut ada pihak yang tidak suka. maka kami mengadakannaya secara diam-diam" jelas Fahri. Ia tak ingin calon istrinya mendapat reputasi jelek dari mertua pertama.


Fahri keluar dari rumah itu. Ia tak memikirkan bagaimana keadaan Zizah sekarang. Ia merasa sudah lega karena semua masalah sudah ia tuntaskan.

__ADS_1


Fahri pun melajukan mobilnya ke kantor karena masih ada beberapa pekerjaan. Rencananya besok ia akan fitting baju dengan Shania karena waktu lalu tertunda sebab Zizah.


Setibanya dikantor, Fahri langsung melangkah ke ruangnya. Ia melepas jasnya dan menggulung lengan kemeja sampai ke siku kemudian menikmati secangkir kopi hitam yang telah tersedia di depannya.


Matanya terpejam, ia sangat menikmati sensasi disana.


"Oh ya. Aku akan menghubungi Shania dan mengatakan semuanya"


Fahri meraih hpnya. ia mencari nomer wanita pujaan hatinya.


"Assalamualaikum Shania" sapanya lembut.


"Waalaikumsalam. Ada apa?" hmmm... tetap saja Shania jutek pada Fahri. Pria itu tersenyum, ia tau kalau Shania khawatir dengan sahabatnya.


"Aku sudah kerumah umi Fatimah dan menjelaskan semuanya pada Zizah. Undangnya juga sudah kuberikan pada umj Fatimah. Tenanglah! aku sudah meminta maaf dan insya Allah semuanya akan baik-baik saja" jelas Fahri.


Diruang lain, tepatnya ditempat Shania. Wanita itu menghembuskan nafas lega. Ia bersyukur semuanya telah tuntas. Ia berharap tak ada lagi masalah kedepannya.


"Baiklah kak. Maaf sikapku yang kekanak-kanakan ini" Ia memelankan suaranya karena ada sebuah suitan dari orang. Shania sedang berada di perpus.


"kau dimana Shan?" Fahri penasaran.


"Aku di perpus kak. Sudah ya, Assalamualaikum" sambung Shania. ia mematikan ponselnya setelah mendengar jawab pria itu.


Hati Shania tenang, ia bersyukur akhirnya Fahri bertanggung jawab atas semua. Ia memang percaya jika pria itu adalah sosok hebat yang tak mungkin meninggalkan kewajibannya."


Shania memainkan hp nya. Ia mengecek barang kali ada sebuah pesan, karena memang hp nya berada di mode silent. Jadi sangat tenang.


Mata Shania terbelalak melihat sebuah pesan dari Zizah. Ia membacanya berulang kali, dari gaya tulisannya sepertinya Zizah sedang tak baik hati.


"Ahhh bodohnya aku mana mungkin semudah itu melupakan semua ini" gumam Shania.


Ia sedih kembali, perasaan bersalah itu kini muncul dan menghantui pikirannya. Ia tak tenang dan mengakhir semua aktifitasnya di perpustakaan.


Mohon maaf sebesar-besar kawan. aku itu pingin banget bisa up berkali-kali dalam sehari. Tapi pikiranku gak selancar air terjun.


Mohon doanya dan jalan lupa like komen dan vote. semoga aku lebih giat lagi


aku cinta kalian😙

__ADS_1


📷 : choirul_amaliyah26


__ADS_2