
Semua harus diurus dengan segera, waktu mereka habis terbuang karena masalah-masalah kemarin. Tak ada senda gurau antara Fahri dan Shania, mereka masih sama-sama canggung dengan pertikaian kemarin di kafe.
"Aku akan membantumu dalam menyiapkan pesta. Aku merasa bersalah kemarin" Zizah menunduk lesu. Ada rasa menyesal disana, karena kelakuannya yang serakah hampir saja membuat hancur semua acara Shania dan juga Fahri.
Shania menepuk pundak Zizah pelan. Tak ada yang salah disini, hanya salahfahamlah yang membuat semua terjadi. Shania memakluminya.
"Udahlah. kemarin ya kemarin. Ayo! katanya mau membantuku." Shania mengambil kunci mobil. Ia berencana akan melakukan fitting baju disalah satu butik.
"Nanti disana ada kak Fahri, kamu gak papa kan?" Shania berusaha hati-hati dalam berbicara, ia takut menyinggung perasaan temannya itu.
Zizah menghela nafas, bukannya dia tak mau bertemu Fahri tapi ia malu sekaligus sungkan pada dua orang itu.
"Enggak masalah kok, cuma aku sungkan aja sih Shan" Jawabnya dengan senyum getir.
"Gak papa Zizah, semua akan baik-baik saja"
Setibanya di butik Shania memarkirkan mobilnya. Ia turun dan berjalan menuju tempat fitting baju pengantinnya.
Ketika hendak masuk, ada siluit Fahri disana. Ia duduk di sofa yang ada dilobi dengan memainkan hpnya. Sepertinya Fahri menunggu Shania.
"Assalamualaikum kak" Sapa Shania. Pria itu mendongak dan tersenyum.
"Waalaikumsalam, silahkan duduk!. kata Rudi kita disuruh menunggu dulu" Fahri melihat ada Zizah disana, sebenernya kalau boleh jujur ia sedikit risih ada perempuan itu disana tapi mau bagaimana lagi.
Zizah mengikuti langkah Shania. Ia masih saja bersembunyi dibalik Shania.
****
Acara fitting selesai, sebenarnya jika Shania datang sendiri Fahri akan mengajaknya makan siang bersama tapi karena ada Zizah disana ia sedikit tidak enak hati.
__ADS_1
Persiapan untuk pernikahan sudah hampir selesai, undangan juga sudah disebar oleh beberapa anak buah fahri.
"Syukurlah semua sudah hampir tuntas" Kata Fahri sambil meletakkan punggungnya disofa. Ia lega karena semua harapannya terwujud, meskipun ia belum tak Shania mencintainya atau tidak tapi dengan ia mau melanjutkan pernikahan ini sudah terbukti jika Shania menerimanya.
Ditempat lain, tempatnya dimana Shania berada. Wanita tiba-tiba galau, ia merasa resah dengan hubungan ini. Ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu ketika ia menikah dengan Zu, pria alim yang tampan itu.
"Astagfirullah, kenapa aku teringat kak Zu" batin Shania. Ia sudah berada dirumah, selesai acara fitting baju Shania langsung pulang karena memang Fahri mengingatkannya agar tak melakukan banyak kegiatan diluar.
Drtttt....
Drtttt....
Drtttt....
"Heiiii elo nikah gak bilang-bilang sih" tiba-tiba suara melengking Devi menyeruak digendang telinga Shania. Wanita itu menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Apaan sih Devi? suara kamu tuh ah!" Shania kesal, ia menggerutu terus menerus.
"maaf deh... maaf. Emang gak ada yang tau selain keluargaku sendiru Devi. Tapi kamu harus mendampingi aku saat hari itu tiba"
Pembicaraan Shania dan Devi lanjut entah sampai mana hingga larut malam. Shania melirik jam, sudah sangat larut. Mereka mengakhiri pembicaraan mereka dan melakukan aktifitas masing-masing. Shania kekamar mandi untuk membersihkan diri kemudian merebahkan diri dikasur.
Udah tidur? (Fahri)
Shania mengernyitkan dahi, jarang sekali Fahri mengirim pesan padanya apalagi menanyakan hal seperti itu. Shania mulai mengetik sesuatu di hpnya.
Belum kak, kenapa? (Shania)
Buruan tidur udah malem Shan (Fahri)
__ADS_1
Shania tersenyum melihat pesan itu, entahlah kadang ia senang mendapat perhatian lebih meskipun hanya menanyakan kabar dan basa-basi seperti itu. Tapi kadang rasa kesalku juga timbul ketika orang itu.... Ahhh entahlah aku mulai mencintainya.
*****
"kak Zu!" Shania berteriak memanggil nama pria itu, Zu mendekat dan mencium dahinya lama sekali sambil mengeratkan pelukannya kemudian pergi menjauh melepaskan Shania yang sudah nyaman dalam pelukannya.
"mau kemana?" Tanya Shania dengan suara lirih seakan ia bertanya pada dirinya sendiri. Zu terus melangkah meninggalkan Shania berjalan kearah acara putih dan hilang.
"hahh... hahh.... hahhh...." Shania ngos-ngosan seakan dikejar anjing. Ia bangun dari tidurnya dan mengusap wajahnya.
"Mimpi itu hadir lagi setelah sekian lama tak pernah muncul" gumamnya. Peluh itu memenuhi seluruh wajah Shania seakan semua tenaganya terkuras habis.
Shania mengusap wajahnya, ia frustasi. Kenapa bayang-bayang Zu hadir lagi? Dulu ia memimpikannya saat akan mengadakan acara tunangan sekarang saat akan mendekati pernikahannya.
"Apa sebenarnya yang terjadi" Shania menangis, ia lelah dihantui bayangan Zu. Walaupun dalam semua mimpinya Zu tak pernah marah atau sedih bahkan Zu terlihat sangat ceria tapi kenapa harus dimomen seperti ini.
"Kamu gak adil kak Zu! kamu yang menceraikanku dan sekarang kau menghantuiku hikss.. hikss.."
Miris rasanya seakan ia berhianat pada mantan suaminya itu, tapi apa Shania salah menjemput kebahagiannya?
Ia melirik jam, sudah saatnya sholat malam. Shania mengangkat tubuhnya dari kasur. Ia berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu' kemudian menggelar sajadah untuk sholat.
"Beriku petunjuk ya Robb" itulah doa yang selalu ia panjatkan. Ia yakin segala sumber petunjuk adalah dari Allah dan petunjuk Allah yang terbaik.
Selepas sholat malam Shania mengambil mushaf quran dan mulai membacanya hingga menjelang subuh.
Maaf semuanya yaaa....
jadi untuk saat ini aku lagi gak bisa mikir gitu, jadi harap maklum, saya masih penulis pemula.ππππ
__ADS_1
aku cinta kalianπππ
π· : choirul_amaliyah26